Mohon tunggu...
Cerpen

Resensi Cerpen "Mengenang Kota Hilang"

14 April 2019   17:32 Diperbarui: 14 April 2019   17:35 0 1 0 Mohon Tunggu...

A. Identitas cerpen
1. Judul cerpen : Mengenang Kota Hilang
2. Nama Pengarang : Hasan Aspahani
3. Penerbit : -


B. Pendahuluan

Hasan Aspahani lahir di Handil Baru, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Hasan Aspahani adalah seorang penyair Indonesia yang berasal dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hasan Aspahani lahir dari keluarga sederahana petani kepala. Dia bersekolah di SMA N 2 Balikpapan, setelah lulus SMA, Ia melanjutkan kuliah jalur PMDK di Institut Pertanian Bogor, sambil kuliah Ia terus menulis puisi.

Beberapa puisinya pernah terbit disurat kabar Jawa Pos (Surabaya), Surat kabar Riau Pos (Pekan baru), Surat kabar Batam  pos (Batam), Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 200), Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (YMS, Jakarta 202), dan Dian Sastro for Presiden 2 (AKY, Yogyakarta, 2003). Puisi yang menggunakan huruf-huruf Hattater dipilih sebagai salah satu dari sepuluh puisi terbaik lomba puisi seratus tahun Bung Hatta dan Les Cyberletress. Hasan Aspahani juga menjadi kartunis Koran Pos Metro Balikpapan yakni sebuah kartun strip komik dengan tokoh utama "Si Jeko".


C. Isi resensi

1. Kekurangan buku cerpen
a. Bahasa yang disampaikan ada yang terbelit-belit
b. Saya tidak paham dengan alur ceritanya
2. Kelebihan buku cerpen
a. Cerpen tersebut memberikan motivasi kepada si pembaca
b. Cerpen ini bisa dibaca dalam waktu singkat

D. Simpulan

Cerpen ini megangkat kisah tentang tenggelamnya sebuah kota akibat lupan lumpur. Dalam cerpen ada 2 tokoh "Aku' dan "Kamu". Tokoh "Aku" sebagai korban peristiwa meluapnya lumpur, sedangkan tokoh "Kamu" sebagai orang yang mau menyatakan rasa simpati terhadap korban. Ungkapan simpatinya disampaikan melalui sepucuk surat.

Dengan tegas si korban menyampaikan "Aku tak ingin dating ke kotaku, gantilah hatimu dengan batu. Kantongilah sekarung nyawa. Ke kotaku kini hanya ada satu jalan, Jalam Maut! Perjalanan ke kota yang tengggelam menjadi tidak nyaman karena ada benyak monster penghisap darah, pohon-pohon berbahaya, perampok ganas, pengemis bersenjata tajam, jalan berubah menjadi labirin berbahaya, bahkan bias mengubah yang datang menjadi lintah atau semacam belut jyang hidup dirawa-rawa yang kini dikuasai oleh monster-monster berwarna-warni.

Si korban mengakui bahkan menyesal karena di kotanya yang telah hilang itu kebenaran hilang diganti dengan kepalsuan karena kebenaran dibahasakan secara berbelit-belit. Banyak warga kota yang terjebak dalam kepalsuan monster penguasa. Banyak yang memilih hidup didalam lumpur dari pada menjadi budak monster.

Semua gambaran si korban tentang kondisi kota yang tenggelam itu merupakan cara melarang kehadiran tokoh "Kamu" ke kota yang tenggelam meskipun pada bekas kota yang tenggelam itu telah ada bertuliskan "Wisata Kota Lumpur", bagi si korban itu hanyalah papan jebakan untuk mengais simpati. Tokoh "Kamu" yang berniat datang ke kota yang tenggelam itu, akan menggambarkan bahwa kotanya telah digondol oleh oknum serupa dengan Gurita Besar Yang menghilang dilaut lepas.


E. Rekomendasi atau Penutup

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x