Efrem
Efrem pelajar/mahasiswa

ergo inimicus vobis factus sum verum dicens vobi Apa karena aku mengatakan kebenaran, lantas aku harus menjadi musuhmu?

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Cuitan Fadli Zon dan Respons Netizen yang Membuat Kita Minder Berpikir Kritis

13 Februari 2018   04:47 Diperbarui: 13 Februari 2018   18:10 3546 17 14
Cuitan Fadli Zon dan Respons Netizen yang Membuat Kita Minder Berpikir Kritis
Foto: Tribunnews.com

Menkeu Sri Mulyani tidak sepopuler Menteri KKP Susi Pudjiastuti dalam jagat dunia maya. Namun, namanya seketika melejit setelah ia dinobatkan sebagai menteri terbaik di dunia versi World Government Summit yang terselenggara di Dubai, UEA.

Suatu pencapaian yang mampu menyebarkan aura positif kepada masyarakat Indonesia.

Nama Sri Mulyani sempat menempati trending topic pada Senin, (12/2). Pelbagai pujian dan apresiasi disampaikan warganet terhadapnya. Lebih manis lagi, Sri Mulyani mempersembahkan penghargaan tersebut kepada rakyat Indonesia dan seolah menjungkirbalikkan tudingan miring terhadap dirinya.

Namun, bagaimanapun tingginya penghargaan itu, sekali pun dinilai oleh tim independen, Sri Mulyani juga dihadapkan pada persoalan ekonomi dalam negeri.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon meragukan pencapaiannya selama ini. Dalam cuitannya di Twitter, Fadli Zon menyoroti kegagalan target pajak, impor naik, dsb, untuk menggambarkan kontradiksi keberhasilan Sri Mulyani dalam posisinya sebagai Menkeu.

Belum juga lepas dari ingatan publik ketika Fadli disindir karena kritiknya terhadap Susi Pudjiastuti sewaktu ultah Gerindra, ia kena sindir lagi oleh warganet untuk kali keduanya karena cuitannya tentang Sri Mulyani di Twitter sehari setelah penghargaan itu.

Sumber: Twitter @fadlizon
Sumber: Twitter @fadlizon
Dari sini, ada definisi tegas untuk menjelaskan sebuah kerja nyata di Indonesia, menurut warganet.

Gaya komunikasi Fadli Zon dalam menyampaikan kritik seolah mendistorsi nalar kritis untuk mengawasi pemerintah. Fenomen itu linier pada kondisi sebagian besar publik yang menggantungkan nalarnya mengikuti sosok tertentu.

Hilangnya nalar kritis dalam politik semakin nyata karena publik tidak menemukan saluran lain selain melalui DPR. Masyarakat merasa lebih nyaman dan leluasa berbicara di media sosial.

Hanya saja, diskursus yang terbangun di media sosial selama ini dengan terang benderang telah mengotakkan ide untuk dikategorikan sebagai pihak yang pro atau kontra terhadap Presiden Jokowi.

Sri Mulyani telah mematangkan reputasinya dalam suatu simbol dengan penghargaan itu, yang semakin dikuatkan lewat dukungan Jokowi terhadapanya dan sikap skeptism Fadli Zon.

Ibaratnya, jika saya tidak setuju pada penghargaan itu, maka saya adalah bagian dari Fadli Zon. Jika saya pro Jokowi, maka saya harus mengamini pencapaian Sri Mulyani. Tidak ada istilah netral atau abu-abu.

Pengkotak-kotakan nalar semacam itu adalah hukum di media sosial sekarang ini. Publik yang masuk ke dalam diskursus melalui media sosial siap-siap disesatkan masuk ke dalam kotak tersebut. Suka atau tidak.

Inilah model baru dalam jagat viralitas politik. Tidak ada perdebatan gagasan, karena nalar itu dikerucutkan ke dalam sosok badan manusia.

Ide itu disempitkan. Siapa yang mengatakannya? Ide ini lebih condong untuk mendukung siapa? Seberapa hitam dan putih ide itu disampaikan?

Maka mulai dari situlah nalar kritis hilang. Kita lalu menjadi minder untuk bersuara. Jika ada gagasan yang berseberangan dengan idolanya, orang itu terlebih dahulu meminta izin sampai-sampai membuat klarifikasi bahwa apa yang dikatakannya tidak bermaksud untuk mendeskreditkan pemahaman tokoh idolanya.

Hal inilah yang lebih mengkhawatirkan daripada pasal tentang penghinaan presiden ataupun perendahan martabat DPR yang menjadi pembahasan luas di masyarakat.

Sebabnya, keinginan untuk menghina muncul akibat sempitnya nalar berpikir. Sekarang, tinggal bagaimana kita untuk menjaga jarak terhadap Sang Idola.