Mohon tunggu...
Een Nuraeni
Een Nuraeni Mohon Tunggu... Administrasi - pekerja sosial

"Orang yang tidak menulis, tidak punya sejarah"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Siswa SD Sorongan, Banten Berjibaku dengan Kano dan Sekolah Bambu

31 Juli 2017   11:13 Diperbarui: 1 Agustus 2017   09:35 1645
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sabtu (29/07), ketimbang ngemis pandeglang, pandeglang care movement beserta relawan pandeglang lainnya melakukan ekspedisi ke kecamatan Cibaliung dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 07.00 dari pasar Cibaliung. Jalanan berbatu, curam kami jumpai sekitar 1 km dari jalan raya sampai ke sungai tempat dimana kami harus menyebrang untuk sampai ke lokasi. Sarana penyebrangan yang ada hanyalah beberapa bambu yang diikat menjadi satu atau yang biasa disebut dengan  "getek". Sebenarnya sungai yang kami sebrangi tidak begitu besar, dengan luas tidak lebih dari 10meter. Namun sayangnya belum dibangun jembatan, sehingga cukup sulit untuk menjangkau lokasi.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Setelah semua menyebrang, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan yaitu SD Negeri Sorongan 2 (kelas jauh) yang berada di Kp.Lewimalang, Desa Curug, Kecamatan Cibaliung. Hanya sekitar 10 menit dari sungai kami akhirnya sampai ke tujuan.

Sesampainya disana, sekitar pukul 8.30 kami menjumpai bangunan dari bilik dan kawat jendela berukuran sekitar 4 x 8 m beratap rumbia (welit), beralas tanah. Bangunan tersebut dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas 1-3 dan kelas 4-6, tidak ada atribut sekolah seperti di sekolah pada umumnya, bahkan papan tulis hanya tersedia satu buah dan digunakan bergantian. Bangunan tersebut merupakan hasil swadaya warga dikarenakan sekolah dasar induk SDN Sorongan 2 yang berada di Desa sebelah (Desa Sorongan) dan berlokasi cukup jauh (sekitar 3 km) dengan menyusuri kebun dan hutan untuk sampai kesana.

Di kelas 1-3 ada 9 siswa yang terdiri dari satu orang kelas 3, dua orang kelas 2 dan sisanya enam orang kelas 1, hanya beberapa siswa yang mengenakan seragam, sepatu? Jangan ditanya.. mereka semua menggunakan sendal. Sedangkan untuk kelas 4-6 ada sekitar 16 siswa yang saat itu hadir.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Kondisi saat kami datang, mereka duduk tertib di meja masing-masing, awalnya kami mengira ada guru yang sedang mengajar karena mereka begitu tenang duduk dalam ruangan tapi ternyata guru mereka belum datang. Heran, karena mereka begitu tertib dan tidak gaduh. Bahkan ada beberapa dari mereka yang belajar sendiri dengan bukunya. Semangat belajar anak-anak ini patut di apresiasi, karena berkaca pada diri sendiri saat sekolah bahkan kuliah, saat tidak ada guru atau dosen kami justru senang dan asik bermain. Sedangkan anak-anak disini, setia menunggu guru mereka datang karena ingin belajar.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan dan kami berikan pada mereka. Hanya mengajak mereka melakukan beberapa permainan, bernyanyi bersama (kelas 1-3 terutama), dan memberikan sedikit pengetahuan umum termasuk tentang HAN (Hari anak nasional) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Hingga pukul 10.30, tidak juga ada tanda-tanda kehadiran guru yang mereka nanti, karena ternyata memang berhalangan hadir hari itu. Kami berpamitan pulang dan anak-anak juga pulang ke rumah masing-masing. Nah, disini lah kami melihat "Asep" salah satu siswa yang diceritakan di sini sedang mengayuh "kano" (perahu kecil dari kayu) di danau yang berada tepat di belakang sekolah.

Asep hendak pulang sekolah
Asep hendak pulang sekolah
Hari sabtu memang saatnya bagi Asep untuk pulang ke rumahnya di sebrang sana, dan kembali ke Kobong (pesantren) dekat sekolah hari senin. Pemandangan yang langka dan pilu, anak sekolah menyebrangi sungai dan tinggal jauh dari keluarga demi mendapatkan pendidikan dan bisa belajar dengan teman-temannya, saat anak-anak lain disekolah kota setiap pagi diantar jemput mamah-papah atau sopir dengan mobil.

SD Negeri Sorongan 2 (kelas jauh) ini mungkin hanya salah satu potret pendidikan dari banyaknya sekolah yang memiliki kondisi yang sangat "terbatas" dalam berbagai hal khusunya di Kabupaten Pandeglang. Keterbatasan infrastruktur seperti jalan dan jembatan memang sangat berpengaruh besar untuk kemajuan suatu daerah dan salah satu imbasnya adalah ke sektor pendidikan.

Seperti yang dituturkan salah satu warga Lewimalang bahwa tidak ada guru yang mau mengajar di sekoah tersebut karena jauh kemana-mana, sehingga yang sukarela mengajar adalah Kepala Sekolah dari SD Negeri Sorongan 2 (induk) dan anaknya yang juga berprofesi sebagai guru. Semoga dengan banyaknya program pemerintah untuk pendidikan dapat dirasakan manfaatnya oleh anak-anak di daerah terpencil seperti adik-adik kita di SDN Sorongan 2 ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun