Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Hati Menyuarakan Dengki dan Korupsi

14 November 2017   22:04 Diperbarui: 14 November 2017   22:12 1988
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus mengingatkan tentang penyakit takabur, dengki dan pikiran keruh. Foto | filegrob.blogspot.com

Sudah jadi sunatullah, atau ketentuan alam, orang dengki atau pendengki selalu tidak ikhlas mana kala melihat keberhasilan orang lain. Anak generasi "now" menyebutnya sebagai nyinyir disertai rasa benci. Pendengki akan tertawa "ngakak" saat melihat lawan dan kawan terjungkel atau menderita karena sesuatu sebab. 

Jangan anggap ringan soal penyakit dengki ini karena jika didiamkan bisa berkarat di hati. Ibarat seorang ibu yang tengah menanak nasi, airnya kering lalu nasi mengering. Bagian bawah itulah yang kering disebut kerak. 

Jika dengki sudah jadi kerak, hitam buleng dan pekat, dapat dipastikan membahayakan orang lain karena dapat diikuti jenis penyakit lainnya. Yaitu, hasut yang dapat merusak lingkungan sosial sekitar. Kata-kata hasut dari mulut pendengki dapat dipastikan bagai bisa atau racun dari mulut ular, yang tentu dapat mematikan. Juga dapat berupa lidah api saat membakar hutan di musim kemarau. Dapat dirasakan, betapa orang banyak menderita akibat kebakaran itu. 

Namanya saja hasut. Maka, sudah jelas bahwa penghasut dimana dan kapan pun dapat membangkitkan hati orang supaya marah, melawan, bahkan jadi pemberontak. 

***

Lalu, masih di malam sepi, hati memberi pencerahan. Sebutnya, dengki juga dapat mendorong lahirnya orang-orang korup. Kalau sudah bermental korup, dapat diumpamakan bagai orang di padang pasir tengah kehausan. 

Jika pada awal tulisan ini disebut ada seorang suami bercerita isteri mendesak sambil merengek agar dibelikan barang serupa yang dibeli tetangganya, boleh jadi karena sang suami merasa "tertekan" akhirnya mencari jalan pintas. Cari pinjaman uang di kantor tak dapat, yang bersangkutan lalu melakukan tindakan tidak terpuji. Jadi koruptor adalah langkah yang sangat dimungkinkan. 

Korupsi pada awalnya kecil-kecilan. Lambat laun menjadi koruptor ke kelas kakap. Sebab, penyakit dengki yang bersemanyam di hati istri tadi, tidak mustahil dapat mendorong suami menjadi koruptor. Selanjutnya, langkah suami yang keliru dinilai sebagai tindakan biasa dan wajar. 

Siapa pun dia, apakah elite politik, pejabat di lingkungan birokrakat, legislatif, eksekutif dan yudikatif dapat berpotensi menjadi koruptor lantaran tak mampu mengendalikan kemauan isteri berpenyakit dengki. Tak sedikit di negeri ini suami menjadi koruptor juga karena diawali penyakit dengki. 

Pendengki itu temannya banyak. Paling dekat dan nyata adalah setan yang selalu membawa keburukan pada manusia. Untuk mengusir penyakit dengki, para ulama sufi sudah lama mengingatkan hal ini. 

Penting diingat, dengki dan hasut sejatinya dapat meruntuhkan iman. Masih menurut generasi "now", iman memang kadang "pasang-surut", tapi kalau sudah "syahwat" ikut lemah akan jauh lebih berbahaya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun