Humaniora highlight

Gunakan "Bahasa Bunga" Untuk Mengayomi Rakyat

13 Oktober 2017   19:46 Diperbarui: 14 Oktober 2017   20:01 468 6 3
Gunakan "Bahasa Bunga" Untuk Mengayomi Rakyat
Berpose di kumpulan karangan bunga mengasikan. Foto | Dokumen Pribadi.

Sejak kapan orang menggunakan bunga untuk mengungkapkan perasaan hati, kasih sayang, dan mungkin rasa benci? Sejak kapan orang menggunakan bunga sebagai alat komunikasi dengan sesama, dengan tuhan dan ruh para leluhur.

Sejak kapan bunga digunakan untuk sesembahan? Sejak kapan bunga digunakan sebagai persyaratan kelengkapan ritual agama? Dan, sejak kapan pula bunga menjadi tradisi kelengkapan tabur bunga bagi pahlawan.

Mengapa sesajen harus dilengkapi bunga? Mengapa pula para dukun menggunakan bunga, padahal ia bermakud menyantet dan menganiaya seseorang?

Apa perlunya kita membawa sebungkus bunga dan air mawar saat nyekar ke kuburan orang tua, keluarga dan famili lainnya?  Apa perlunya membawa karangan bunga ketika anggota keluarga wafat? Apa perlunya menempatkan bunga di pojok ruang tamu?

Mengapa harus bunga?

Karangan bunga untuk gubernur baru di Balaikota. Foto | Detikcom
Karangan bunga untuk gubernur baru di Balaikota. Foto | Detikcom
Ucapan terima kasih kepada mantan gubernur. Foto | Dokumen Pribadi.
Ucapan terima kasih kepada mantan gubernur. Foto | Dokumen Pribadi.
Sering dijumpai pula di club, pub dan bar atau tempat hiburan malam dijual bunga terbungkus plastik transparan kepada para pengunjung. Bunga dibeli kemudian diberikan kepada pramusaji yang kebetulan berparas cantik. Mengapa harus dilengkapi dengan bunga, toh diberi uang pun tak bakal ditolak.

Kadang didapati, mengapa pula para Polwan cantik hadir di persimpangan jalan lampu merah, lantas membagikan bunga kepada pengemudi mobil dan motor?

Dalam Islam dan agama-agama samawi lainnya di Indonesia, ketika seseorang wafat, kehadiran bunga sangat perlu sebagai wujud ungkapan turut duka cita. Sebagian umat Islam lain merasa tidak perlu bunga ketika familinya wafat, bahkan wewangian berupa daun pandan saja sampai-sampai ditolak.

Alasannya,  ia berpegang pada kultur negeri jauh di sana. Arab Saudi - negeri tempat awal agama itu berkembang ke berbagai negara - yang tidak ada bunga-bungaan ketika seseorang wafat.

Tapi, jangan dikira, orang Arab paling suka dengan wangi-wangian. Aroma bunga paling disukai. Meskipun ia tengah menggotong mayat, srengg ... wanginya yang terasa dan semakin menyengat hidung kala lewat di hadapan dengan pakaian gamisnya.

Sehari tak mandi, itu bukan soal. Bagi warga Arab, terpenting, badan banyak diciprati minyak wangi. Nyaman rasanya.

Lagi-lagi mengapa harus bunga?

Kalijodo pun mengirim ucapan kepada Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.
Kalijodo pun mengirim ucapan kepada Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.
Usakti, tempat Ahok belajar, mengirim karangan bunga. Foto | Dokumen Pribadi.
Usakti, tempat Ahok belajar, mengirim karangan bunga. Foto | Dokumen Pribadi.
Sampai-sampai bisnis karangan bunga kini menjadi laris. Pedagang karangan bunga di Rawabelong, Jakarta, makin kerepotan melayani permintaan. Ini lahan bisnis menggembirakan. Utamanya tatkala menghadapi musim pelantikan pejabat, gubernur, menteri, hingga pesta perkawinan. Semua itu telah menambah tingginya pesanan bunga papan dewasa ini.

Setahun terakhir di Jakarta, bisnis karangan bunga meningkat tajam. Sayang, tidak ada gambaran statistiknya. Tapi, secara fisik dapat dilihat animo warga mengungkapkan perasaan dengan bunga meningkat.

Saat Pilkada lalu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, kalah dari pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Apa yang terjadi, warga banyak memesan karangan bunga papan untuk pasangan Ahok. Melimpah pesanannya dan pedagang mengaku gembira.

Balaikota dan Lapangan Monas dipenuhi karangan bunga dengan aneka ragam ucapan.

Kini, hal serupa terjadi lagi. Namun tak sedahsyat tempo lalu. Ucapan bagi pasangan yang lengser - pasangan Ahok-Djarot - tetap mengalir dengan kata-katanya dibingkai bunga.

Mata Rakyat Jakarta menyampaikan terima kasih. Foto | Dokumen Pribadi.
Mata Rakyat Jakarta menyampaikan terima kasih. Foto | Dokumen Pribadi.

Berfoto dengan latar gambar Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.
Berfoto dengan latar gambar Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.

Tidak ada yang tahu persis kapan bunga digunakan sebagai alat mengungkapkan perasaan seseorang, kepada sesama, kepada Sang Khalik Tuhan Yang Maha Esa hingga pemanfaatan bunga tujuh rupa sebagai kelengkapan mandi seseorang untuk sukses meraih cita-citanya. Itu bagi yang meyakini petuah spiritual para tetua.

Juga tidak diketahui Habil dan Qabil - dua putera Nabi Adam - ketika menyerahkan kurban, apakah juga menyertakan bunga? Tidak ada cerita itu dalam Alquran.

Di permukaan bumi, sudah menjadi Sunnatullah, Tuhan sudah menganugrahkan manusia dengan bunga berbagai warna, corak dan bentuk yang beragam. Kesemuanya menampilkan keindahan dan siapa pun akan menyukainya. Hanya, maaf, bagi orang kurang waras sajalah tidak peduli akan keindahan bunga.

Bagi kita, bunga (Anggrek, Camelia, Gardenia, Candytuft, Celosia, Clover, Coreopsis, Cosmos, Dahlia, Ros, Daisi, Matahari dan berbagai jenis lainnya) yang berhamparan di Bumi Nusantara ini dapat dimaknai sebagai wujud dari Bhinneka Tunggal Ika.

Jelang pelantikan Anies dan Sandiaga, yang dijadwalkan Senin (16/10/2017), karangan bunga berhamparan di Balaikota dan Lapangan Banteng. Beragam ucapan selamat, dituliskan oleh si pengirimnya. Termasuk ucapan selamat jalan bagi gubernur yang sudah mantan pun - Joko Widodo,  Ahok dan Djarot - masih dikirimi bunga.

Bangga prestasi yang dicapai Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.
Bangga prestasi yang dicapai Ahok-Djarot. Foto | Dokumen Pribadi.

Ungkapan rasa cinta warga terhadap seorang gubernur. Foto | Dokumen Pribadi.
Ungkapan rasa cinta warga terhadap seorang gubernur. Foto | Dokumen Pribadi.

Memang, menyampaikan kata dan perasaan hati terasa lebih mengenai sasaran jika dikemas dengan bunga. Apalagi memberi bunga bagi sang pacar, hati bakal berbunga-bunga.

Bumi Pertiwi pun akan semakin indah jika warna-wani bunga itu terus terpelihara dalam bingkainya, bhinneka tunggal ika. Sampaikan kata dengan bunga, tapi jangan berlebihan sehingga menjadi berbunga-bunga. Waspadai pejabat berucap dengan kemasan bunga nan manis bagai madu, karena di balik kata itu ada domba diadu.

Tentu pula semua akan sepaham, jika pengabdian seorang gubernur dilakukan dengan ikhlas, jauh dari perbuatan curang - apalagi korupsi - maka hidup semakin punya makna.  

Hidup yang bermakna manakala dapat memberi arti bagi kehidupan orang lain. Menjadi pejabat tinggi, presiden, menteri hingga gubernur, sejatinya adalah pelayan. Karena itu, jangan bodohi dan melukai rakyat dengan perbuatan menyakitkan. Katakan saja dengan bahasa bunga yang indah untuk mengayomi warga Jakarta.

Selamat bekerja kepada Anies - Sandi.