Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Zakir Naik Luput Memasukkan Agama sebagai Perekat Bangsa

4 April 2017   04:03 Diperbarui: 4 April 2017   13:18 2871 20 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Zakir Naik Luput Memasukkan Agama sebagai Perekat Bangsa
Zakir Naik (Foto. Sindonews.com)

Isi ceramah Zakir Naik mengundang pro-kontra di tengah masyarakat. Terutama yang berkaitan dengan toleransi antarumat beragama. Pasalnya, soal pembangunan rumah ibadah di Indonesia seperti dipandang “minyak dan air” dalam gelas yang sama, terpisah. Nggak bisa nyatu.

Padahal, di Indonesia, sudah sejak lama kehidupan ibadah sudah jelas berbeda. Tidak saling mengganggu dan malah saling menumbuhkan kehidupan gotong royong. Dalam soal pembangunan rumah ibadah, di berbagai daerah, semangat gotong royong sangat kuat.

Di Kupang, ada sebuah masjid yang pembangunannya didukung dan dilakukan umat Kristen dan Islam secara bergotong royong. Di daerah lain juga dimikian. Di Sumatera Utara, ada warga setempat berbeda agama tetapi satu marga. Tidak rebut. Malah, ketika punya hajatan besar saling membantu tanpa merusak aqidah dan keimanan seseorang. Untuk makan, saat hajatan, mereka saling menghormati dengan ditempatkan secara terpisah. Sehingga makanan yang diharamkan tak tersentuh umat Islam.

Di Jakarta, berdiri Masjid Megah Istiqlal, yang dibangun pada masa Pemerintahaan Soekarno. Barang kali umat di Jakarta belum banyak tahu, siapa arsitek masjid negara itu. Sekadar menyegarkan ingatan, begini sejarah berdirinya Masjid Istiqlal (MI).

Pada 1949 penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia. Pada 1950 tercetus gagasan pembangunan MI oleh Bapak KH. A. Wahid Hasyim (Menag) dan Bapak H. Anwar Cokroaminoto, yang ditunjuk menjadi Ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Pada 1953 dibentuk Panitia Pembangunan MI, diketuai oleh H. Anwar Cokroaminoto. Dan pada 1954 Presiden RI, Dr. Ir. H. Ahmad Soekarno diangkat oleh Panitia menjadi Kepala Bagian Teknik Pembangunan MI (dan juga menjadi) Ketua Dewan Juri untuk menilai sayembara maket MI.

Pada 1955 sayembara tersebut diikuti oleh 30 peserta. dan dari 27 peserta yang menyerahkan gambar terseleksi 22 memenuhi syarat, dan tersaring 5 pemenang sebagai berikut:

  • F. Silaban dengan sandi "Ketuhanan"
  • R. Oetojo dengan sandi "Istighfar"
  • Hans Groenewegen dengan sandi "Salam"
  • Lima Mhs ITB dengan sandi "Ilham", dan
  • Lima Mhs ITB dengan sandi "Khatulistiwa".

Dewan Juri akhirnya sepakat memenangkan maket dengan sandi "Ketuhanan" arsitek F. Silaban. Pada 1961 pemancangan tiang pertama pembangunan MI. Tujuh belas (17) tahun kemudian, yaitu pada 22 Pebruari 1978, MI selesai dibangun dan diresmikan penggunaannya. Biaya APBN Rp 7 milyar dan US$.12 juta.

Penulis sengaja mengangkat sejarah pembangunan Masjid Istiqlal, karena hal ini jelas bukan hanya seksdar simbol dari kehidupan toleransi antarumat beragama saja tetapi agama telah dijadikan sebagai perekat bagi Negara Kesatuan Republik Indoesia (NKRI).

Jika mengaitan pernyataan Zakir Naik sambil mengangkat surat Al Maidah dalam kontek Pilkada, maka jelas semakin membingungkan umat. Terutama bagi orang yang memiliki pemahaman radikal akan lebih cenderung makin menggaungkan dan mendorong tindakan kekerasan.

Memahami agama secara kaffah secara keseluruhan, komprehensif di sini sangat penting sekali.

Penulis sadar, tulisan ini pasti ada yang mencibir. Tidak suka. Terlebih bagi pengusung salah satu calon pada Pilkada DKI Jakarta. Sangat disayangkan, elit politik terasa tak berani bertindak sebagai penganjur kehidupan saling toleransi. Kalaupun bersuara, bicaranya tak sampai menyentuh pada substansinya. Bisa jadi, mereka tengah memetik keuntungan dari situasi yang tengah terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN