Mohon tunggu...
editan to
editan to Mohon Tunggu... tukang mesin cetak mau menulis

semoga selalu dalam berkah dan berkat

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Kelompok QAnon di Belakang Donald Trump, Siapa Mereka?

14 Januari 2021   17:54 Diperbarui: 14 Januari 2021   18:39 2252 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kelompok QAnon di Belakang Donald Trump, Siapa Mereka?
Perusuh Capitol DC mengenakan kaus QAnon. (Foto: Reuters)

WANITA veteran perang Ashi Babbit terbang dari San Diego, California, menuju Washington DC untuk bergabung dengan loyalis Donald Trump pada 6 Januari 2021. Tujuannya satu menghambat rencana pengesahan Kongres untuk kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris.

Babbit yang berusia 35 tahun dan berpengalaman dalam perang selama 14 tahun baik di Afghanistan dan Irak sebelum bergabung dengan Garda Nasional di Kuwait dan Qatar membawa bendera 'Make America Great Again' menutup bahunya.

Ia ikut dalam barisan gerombolan perusuh yang mendobrak pintu terkunci di Gedung Capitol. Tembakan seorang pertugas kepolisian menghambat langkah dan teriakan 'hancurkan'. Ia terjatuh di tengah hiruk pikuk kerumunan. Babbit tewas malam itu meski telah dilarikan di rumah sakit.

Babbit merupakan satu dari sekian banyak loyalis Presiden Donald Trump. Veteran itu menjadi penganut QAnon, sebuah teori konspirasi yang mengklaim Donald Trump merupakan penyelamat  dunia dari komplotan rahasia pedofil pemuja setan yang kini (hendak) menguasai dunia.

Komplotan terdiri aktor Hollywood, politikus dan pejabat tingkat tinggi yang terlibat dalam lingkar perdagangan seks anak-anak. Simbol Q dijadikan atribut kelompok konspirasi sayap kanan jauh ini dengan tujuan mempertahankan Trump.

Trump dipercaya tengah melancarkan perang rahasia melawan elit pedofil pemuja setan di pemerintahan, bisnis, dan media sehingga harus didukung. Kelompok ini mengecam tokoh seperti Hillary Clinton, Joe Biden, Barack Obama dan mempercayai mereka akan dieksekusi pada suatu saat nanti.

Babbit tidak sendiri sebagai penyerbu anggota Kongres yang sedang bersidang untuk mengesahkan kemenangan Joe Biden. Ada juga Jacob Anthony Chansley yang menyebut diri sebagai 'Si Dukun QAnon'.

Saat menyerbu ke Kongres, ia mengenakan topi bulu dan bertanduk. Wajahnya dicat, bertelanjang dada, dan membawa tombak dengan panjang dua meter berbalut bendera AS. Anggota lain mengenakan simbol Q dalam pakaiannya.

Seperti halnya Babbit, ia juga mengklaim diri sebagai patriot yang akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan para pendiri negara. Kini Anthony dalam penahanan dan mengeluhkan tidak bisa makan karena menu penjara yang dihidangkan bukan makanan organik.

Mereka menyebut diri sebagai patriot merah, putih, dan biru, yang datang berbaris menuju Capitol selain menyelamatkan Trump juga untuk menghentikan demokrasi multiras yang hanya akan membentuk agenda globalisasi dari radikal kiri.

Kelompok QAnon ini juga berencana mengguncang pelantikan Biden dan Harris pada 20 Januari mendatang. Namun, seluruh gerak mereka telah dibatasi. Seperti halnya Trump, kelompok ini juga tidak bisa lagi mengakses seluruh media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, Instagram.

Kini mereka berkonspirasi bahwa Trump tengah terkunci dalam pertempuran antara baik versus jahat. Hal itu kian memantapkan teori mereka bahwa komplotan rahasia jahat 'elit global' dan pejabat pemerintah negara telah menguasai dan perlu penyelamatan.

Kelompok QAnon juga tidak mempercayai upaya pencegahan virus corona. Bahkan menuding Covid-19 merupakan konspirasi dari kelompok rahasia itu. Mereka menuding seruan karantina sebagai omong kosong. Sebagaimana Trump, kelompok ini skeptis terhadap kampanye masker bahkan tak mengindahkan.

Sebenarnya FBI telah memasukkan kelompok ini dalam 'ekstrimis domestik yang didorong oleh terori konspirasi'. Fakta menunjukkan bahwa para pengikut QAnon ini ada yang melakukan tindak pidana pembunuhan, penculikan terkait keyakinan mereka. QAnon berpotensi menjadi ancaman terorisme domestik.

Plaform Facebook dalam penyelidikannya menemukan grup yang beranggota jutaan orang QAnon. Kelompok ini dinilai memiliki pandangan yang berpotensi besar menjadi kelompok-kelompok yang berkaitan dengan kekerasan.

Trump sendiri tidak pernah mengutuk kelompok tersebut dan mengklaim tidak mengetahui banyak mengenai kelompok itu. Namun, ia mengetahui   QAnon sangat memujanya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x