Regional Pilihan

Kutaradja, Kota Para Raja-raja

18 Mei 2017   20:57 Diperbarui: 18 Mei 2017   21:05 112 0 1
Kutaradja,  Kota Para Raja-raja
1896: Taman Bunga Teratai Kota Gunungan, Aceh. Juru foto: G.B. Hooijer

Dahulu, antara tahun 1903 sampai 1905 seperti inilah wajah Koeataradja sekarang Banda Aceh. Ketika kota yang dijuluki juga Bandar (kota) Para Raja-Raja karena kelebihannya  melahirkan banyak Raja –Raja di massanya. Kala itu, kota ini masih terlihat lenggang dan jauh dari hiruk-pikuk kendaraan modern, sehingga kita dapat melihat dengan jelas pematang sawah nan hijau, sungai nan jernih  juga Gunung Seulawah tertutup kabut tipis dengan malu-malu dari kejauhan. Ahh.. begitu mempesona dan damainya jika dibayangkan.  

Pernah Neknda saya (ibu kepada ibu saya) membuat saya takjub dengan cerita nya bahwa Kotaradja (red:Banda Aceh)  itu “Nyak” dilalui oleh sungai-sungai dan taman-taman bunga yang harum semerbak, tempat yang indah permandian para raja-raja. Dan kononnya siapapun yang minum air dari sungai tersebut akan awet muda.

Namun demikian, jika anda masih ingat, ruang sejarah itu masih disana masih tegak berdiri menanti untuk dijelajahi, meskipun keberadaan beberapa bangunan penting dan beberapa bangunan asli lainya sudah berubah bentuk. Malah ada yang luput dari perhatian padahal bisa jadi kita melewatinya sehari-hari.

Artinya, meski diubah atau diperluas menjadi bangunan tua  untuk kebutuhan lebih luas sesuai kebutuhan perkembangan kota, wujud bangunan sejarah itu masih dipelihara. Semacam titik-temu antara kebutuhan praktis penghuni kota itu dan kebutuhan untuk menyisakan masa lalu, sejarah serta identitas unik kota pusaka ini.

Tetapi cara berpikir seperti ini, sayangnya tidak pernah terlintas di dalam benak para pemimpin daerah Aceh yang selalu bangga dengan sejarah Aceh tapi kosong pemahaman, sehingga bukti-bukti penting perjalanan sejarah kota Banda Aceh – yang bisa dilacak melalui bukti-bukti keberadaan bangunan peninggalan kerajaan hingga kolonial – dihancurkan. Mungkin cenderung di abaikan anggap saja begitu.

Itulah sebabnya,  anda yang pernah merasakan sisa-sisa sudut lama kota tua Banda Aceh, akan sedikit linglung saat mendatangi lagi lokasi persis kota ini, karena saat itu anda tidak akan menemukan apa-apa.

Seperti kehilangan identitas diri, akhirnya saya alami ketika mencoba lagi menemukan masa lalu kota Banda Aceh saat berjalan ke kota ini bersama sahabat saya masykur, sebulan silam.

Harapan dapat membayangkan kembali hal –hal unik, atau kagum ( ingat lagi kisah raja-raja di negeri ini yang sering kita banggakan waktu kecil), akhirnya hilang menguap begitu saja.

Rasa haus untuk melihat sepotong kenangan masa kecil dari atas “kolam Khaca” kepada temanku akhirnya menjadi tidak menarik, ketika dia  menanyakan: “ kemana istana Darod Donya, di mana kira-kira sungai jernih yang bisa buat awet muda?” ( Sumber foto : Tropenmuseum)

Edi Al Rahman