Mohon tunggu...
Edi Mulyono
Edi Mulyono Mohon Tunggu... MAHASISWA IAIN MADURA

serpihan hidup kudapati disetiap singgahan perjalananku

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Hilangnya Sakralitas Guru Alif

12 Juni 2019   15:10 Diperbarui: 12 Juni 2019   15:30 0 0 0 Mohon Tunggu...
Hilangnya Sakralitas Guru Alif
dokpri

Santri PONPES Riyadlus Sholihin, Ds. Laden, Kec. Pamekasan, Kab. Pamekasan

Alqur'an merupakan wahyu terbesar baginda Nabi Muhammad SAW. yang tidak akan sirna hingga akhir zaman, sebagaimana firman Allah SWT. Dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya " Kamilah yang telah menurunkan Al-Qur'an dan Kami pula yang akan menjaganya". Selanjutnya dari sekian banyak keistimewaan Al-Qur'an adalah setiap huruf yang bernilai pahala di sisiNya. Satu huruf bernilai 10 kebaikan, oleh karena itu mermperbanyak membaca Al-Qur'an akan menambah pundi-pundi pahala. Perlu ditegaskan bahwa membaca Al-Qur'an tidak hanya serampangan baca saja, akan tetapi kita harus tartil dalam membacanya, firman Allah SWT " ...dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil", belajar mengaji adalah kata kunci untuk bisa membaca Al-Qura'n dengan tartil.

Belajar mengaji tidak akan bisa secara otodidak artinya kita butuh yang namanya seorang guru atau lebih tepatnya guru alif atau guru ngaji, orang yang senantiasa mengaji kita tanpa pamrih, mulai dari belajar mengucapkan huruf hijaiyah hingga bisa baca Al-Qur'an dengan fasih yang semuanya itu tidak mudah dan butuh ketekunan yang luar biasa, butuh keikhasan untuk bisa mengajari anak yang tidak tahu mengucapkan huruf hingga meraka fasih.

Sakralitas guru alif sudah tidak dipertanyakan lagi,  dihati masyarakat guru ngaji menjadi guru spritualitas yang selalu di Ta'dzimi dan dihormati. Pekerjaan mulianya tidak pernah terbengkalai lantaran tidak digaji, yang mereka harapkan adalah pahala, berkah dan rahmah dari Ilahi. Tidak hanya mengajari anak bagaimana bisa mengaji guru ngajipun membekali mereka dengan penanaman nilai-nilai karakter, guna sebagai bekal penjalan hidupnya.

Dewasa ini, sakralitas sosok seorang guru ngaji sudah mulai pudar. Artinya guru ngaji mulai dipandang sebelah mata, rasa Ta'dzim sudah tidak ada lagi, pola pikir dan gaya hidup mereka berubah yang disebabkan pengaruh globalisasi sehingga mereka menganngap guru alif (ngaji) adalah orang yang kurang kerjaan dan tidak punya peran untuk kehidupan mereka. 

Zaman telah berubah, sikap peduli dan sosial mulai menurun banyak orang yang memperjuangkan diri untuk menggapai masa depan yang lebih baik, paradigma mereka berubah. Banyak yang meneruskan pendidikannnya keluar kota, merantu membangun ekonomi, dan lainnya. Ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing, mereka sibuk dengan urusannya hingga melupakan siapa yang mengajari mereka membaca dan mengaji.

Dalam kacamata islam, sikat hormat dan ta'dzim kepada guru itu sangat dianjurkan. Dalam satu riwayat Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah berkata "Aku adalah budak bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf ". orang islam dizaman dahulu sangat mengagungkan guru-guru mereka, akan tetapi ain halnya seperti saat ini yang bukan menghormti guru akan tetapi malah menyepelekan dan tidak hormat.

Syekh Hasyim Asy'ari berkata  dalam kitab Adabul 'alim wa mutaallim " barang siapa yang tidak meyakini kemulian gurunya maka ia tidak akan sukses" dari dawuh tersebut mengingatkan kita urgensitas seorang guru yang dalam hal ini guru ngaji atau guru tolang.

Kunci kesuksesan ada pada ridha orang tua dan guru kita, jadi seberapapun hebatnya kita tidak bisa dipungkiri ada seorang guru yang mangajari kita walaupun itu hanya 

" Jangan mengurangi rasa homat dan ta'dzim pada gurumu, karena dengan perantara mereka ilmumu akan barokah."



EDI MULYONO
Mahasiswa Semester VI
Pendidikan Bahasa Arab
IAIN MADURA