Mohon tunggu...
EcyEcy
EcyEcy Mohon Tunggu... Pembelajar

Sejatinya belajar itu sepanjang hayat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kertas Ajaib

24 Mei 2019   14:01 Diperbarui: 24 Mei 2019   14:10 0 18 4 Mohon Tunggu...
Kertas Ajaib
Sumber: Pixabay.com


Pagi tersenyum indah melihat berbondong-bondong manusia berjejer memenuhi antrian kasir di sebuah toko buku kecil tepi kota. Seakan senang melihat kesadaran literasi warga membaik setelah lama membeku dalam tumpukan buku di lemari kayu.


Melihat fenomena langka di wilayahnya, seorang perjaka pun mencari tahu, apa sebab toko  buku menjadi seramai ini. Usut punya usut, telah tersiar kabar bahwa toko tersebut menjual kertas ajaib yang dapat meredakan rasa. Entahlah dari mana kabar itu berhembusnya.


"Kebetulan sekali aku sedang patah hati. Siapa tahu kertas ajaib itu mampu membuat hatiku lebih lega dan impianku untuk mendapatkan pendamping yang Sholeha tercapai," guman perjaka sambil mencari tempat berpijak yang aman dan nyaman.


Perjaka itu pun ikut andil dalam antrian panjang yang berkelok-kelok hingga keluar pintu toko dan memenuhi trotoar tepi jalan. Phenomena ini membuat pemilik toko menjadi kewalahan meskipun ada keberkahan di dalamnya. Hingga toko buku kecil tepi kota menjadi terkenal.


Tibalah giliran sang perjaka untuk membayar kertas ajaib itu. Kesempatan itu dipakainya untuk bertanya panjang lebar pada pemilik toko mengenai keampuhan kertas tadi. Meskipun raut wajah kecut dan ocehan renyah nan menusuk berhembus di belakang antriannya, perjaka itu tetap memuluskan niatnya.


"Bagaimana caranya agar kertas murah ini benar-benar ajaib untuk meredakan rasa?" Sang perjaka mengangkat kertas putih dan uang seribu rupiah yang dipegangnya.


"Tuliskan rasamu, lakukan, pasti kau akan menemukan perbedaannya." Pemilik toko tersenyum memandangi perjaka yang sedikit tak percaya.


Akhirnya sang perjaka beranjak dari toko tersebut setelah mendapatkan penjelasan seadanya. Dia berjalan pulang sambil memandangi kertas putih tak bermotif yang ada dalam genggaman tangannya. Terlihat sama saja dengan tumpukan kertas di meja belajarnya. Namun dia masih penasaran dengan keajaibannya.


Keesokan harinya, sang perjaka kembali ke toko tersebut dengan wajah kotak-kotak tak suka. Toko buku tampak lengang tak seperti biasanya. Tak ada lagi antrian panjang. Hanya terlihat beberapa pengunjung toko yang sekedar membaca buku atau membeli sesuatu.


Secepat kilat, sang perjaka tiba-tiba sudah ada di depan kasir. Dengan emosi dia menuduh pemilik toko telah berhasil menipunya. Setelah dia tuliskan kekesalannya pada secarik kertas ajaib itu, ternyata tak ada rasa kesal, marah dan tak terima yang berkurang. Alih-alih berkurang, sekarang malah rasa kesal itu bertambah lagi dengan masalah ini.


Pemilik toko tersenyum seakan perjaka ini sedang melucu dihadapannya. Diperhatikannya secarik kertas berhiaskan tinta hitam. Tampak senyum tadi terulang kembali. Lalu dipandanginya perjaka yang berdiri di hadapannya. Dari ujung kepala sampai ke dada, lalu terhenti. Sang perjaka merasa seperti ditelanjangi."

Apa yang kau pandangi?"

"Aku hanya melihat sisi beda dari tulisanmu ini." Jari telunjuknya mengarah pada satu kata yang tertulis di kertas itu.


"Apanya yang beda? Itu hanyalah sebuah kata." Perjaka tak mau terlena.


"Kau tuliskan kata sabar di sini. Namun kulihat dadamu terasa sesak. Napasmu turun naik tak teratur, raut wajahmu cemberut dan tuturmu penuh kebencian."


"Apa hubungannya dengan itu semua? Yang jelas, aku tak menemukan keajaiban dari kertas ini. Karena itulah, kau kusebut penipu."


Pemilik toko hanya tersenyum melihat tingkah perjaka yang sedang emosi. Percuma debat dengan orang yang sedang emosi. Dia tak akan pernah bisa menerima penjelasan karena hatinya masih dikuasai amarah.


"Ah... nggak usah senyaman senyum.  Yang jelas aku nggak percaya lagi sama kamu!" Sang perjaka mengarahkan telunjuknya ke arah pemilik toko sedangkan tangan satunya mengambil paksa kertas tadi dari tangan pemilik toko lalu sibuk meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah tepat di samping meja kasir.


Pemilik toko tersenyum lebar. Sedangkan  sang perjaka pergi dengan tangan hampa. Terlihat Kecewa dan kekesalan pada wajahnya. Yang tersisa hanyalah gumpalan kertas harapan yang terhenti di tempat sampah tanpa ada yang memahaminya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2