Mohon tunggu...
Media

Mitos Jurnalisme

10 Juni 2016   20:54 Diperbarui: 10 Juni 2016   21:09 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mitos Jurnalisme
img-20160610-142222-575ac5961493735c08dab9b5.jpg

DUA MAZHAB KOMUNIKASI

Komunikasi adalah salah satu cara manusia mempertahankan harkat dan martabat kemanusiannya. Dengan komunikasi, manusia mengaktualisasikan segala potensinya. Dalam setiap gerak, manusia berkomunikasi dalam berbagai bentuknya, mikro, meso, dan makro. Komunikasi juga merupakan konsekuensal dari posisi manusia sebagai makhluk sosial. Littlejohn dan Karen A. Fross mencatat keberagaman definisi komunikasi karena berangkat dari tiga level yang berbeda. Yaitu, level of observationsatauabstractness, intentionality,dannormative judgement. Beberapa definisi komunikasi adalahcommunication is social process in which individuals employ symbols to establish and interpret meaning in their enviroinmentdan communication is a prosess whereby people collectively create and transmit meaning through the exchange of verbal and nonverbal messages in a particular context.

KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL

Teori konstruksi realitas sosial adalah khas Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Teori ini dilansir dalam buku The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge( diterjemahkan menjadiTafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan,LP3ES, Jakarta, 1991). Internalisasi adalah proses ketika masyarakat sebagai kenyataan subjektif menyiratkan realitas objektif ditafsirkan secara subjektif oleh setiap individu. Dalam proses menafsirkan tersebut terjadilah internalisasi. Dengan demikian, internalisasi merupakan proses manusia untuk memasukan dunia yang dihuni bersama individu yang lain.

KONSTRUKSI REALITAS MEDIA

Menurut Akbar S. Ahmed ada beberapa karakteristik media. Pertama,media tidak setia dan tidak ingat teman. Kedua,media memperhatikan warna kulit dan pada lahirnya bersifat rasis. Ketiga,media adalah pengabdian diri dan bersifat sumbang. Keempat,media massa telah menaklukan kematian. Kelima, pada dasarnya media bersifat demokratis dan mewakili masyarakat umum. Keenam,media telah membuat fakta menjadi lebih asing daripada fiksi, sehingga fiksi lebih enak dilihat dan didengar. Ketujuh, media dengan dingin bersifat netral terhadap posisi-posisi moral dan pesan-pesan spiritual. Kedelapan,media kuat karena teknologi tinggi, tetapi lemah karena antropologi kultural. Kesembilan,dalam dunia kita media memainkan peran kunci dalam masalah internasional dan akan terus meningkatkan peran tersebut.

BAHASA DAN KONSTRUKSI REALITAS MEDIA

Manusia adalah makhluk yang berbahasa. Dengan bahasa manusia melakukan komunikasi. Menurut Poepoprodjo yang dikutip Alex Sobur, hakikat bahasa adalah bahasa penutur (lisan). Ia didengar bukan ditulis dan dilihat. Selain untuk komunikasi, bahasa merupakan ekspresi dari sikap, pikiran, dan gagasan yang dimiliki seseorang. Salah satu bentuk interaksi adalah melalui bahasa tulisan dalam media cetak yang dikenal dengan nama berita. Berita yang semula merupakan fakta yang dirangkai secara pribadi dalam institusi media karena dipublikasikan melalui media cetak  ia menimbulkan makna bagi orang lain. Oleh sebab itu, bahasa dalam bentuk berita tidak bias bebas dari nilai. Ia dikonstruksi dan mengkonstruksi makna-makna tertentu, tergantung dari orang yang membuat dan membacanya.

REPRESENTASI MAKNA MEDIA

Kata represntasi menurut Graeme Burton memiliki definisi yang simple dan menyeluruh. Definisi sederhana menyangkut stereotip, sedangkan versi yang menyeluruh berkaitan dengan sisi media yang tampak dari teknologi. Sedangkan Marcel Denasi memberi definisi representasi yang sangat lengkap. Menurutnya representasi sebagai penggunaan tanda (gambar, bunyi, dan sebagainya) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret, dan memproduksi sesuatu yang dilihat, diindra, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu. Reprsentasi merupakan tindakan untuk menggantikan sesuatu yang tidak bisa terjadi atau tidak bisa menghadirkannya sendiri. Ada dua hal penting dalam representasi, yaitu representative (yang mempresentasikan orang lain) dan represented (yang dipresentasikan). Pengertian representasi nyaris sama dengan pencitraan, yaitu proses pembentukan citra melalui proses yang diterima oleh khalayak, baik secara langsung maupun melalui media sosial atau media massa.

JURNALISME ONLINE

Beberapa karakteristik media/jurnalisme online, antara lain:

Unlimited Space. Jurnalistik online memungkinkan halaman tak terbatas. Ruang bukan masalah. Artikel dan berita bias sepanjang dan selengkap mungkin, tanpa batas.

Audience Control. Jurnalistik online memungkinkan pembaca lebih leluasa memilih berita/informasi.

Non-Lienarity. Dalam jurnalistik online masing-masing berita berdiri sendiri., sehingga pembaca tidak harus membaca secara berurutan.

Storage and Retrieval. Jurnalistik online memungkinkan berita “abadi”, tersimpan dan bisa diakses kembali dengan mudah kapan dan dimana saja.

Immediacy. Jurnalistik online menjadikan informasi bisa disampaikan secara sangat cepat dan langsung.

Multimedia Capability. Jurnalistik online memungkinkan sajian berita berupa teks, suara, gambar, video, dan komponen lainnya sekaligus.

Interactivity. Jurnalistik online memungkinkan interaksi langsung antara redaksi dengan pembaca, seperti melalui kolom komentar dan social media sharing.

MITOS JURNALISME SEBAGAI PILAR KEEMPAT DEMOKRASI

Di era modern dengan kapitalisme sebagai urat nadi, media dan politik bertemu dengan faktor bisnis. Dengan tuntutan kapitalisme media berubah menjadi industri, menjadi perusahaan yang berorientasi pada keuntungan. Ia bukan lembaga sosial sebagaimana fungsi dasarnya, yakni menyampaikan berita. Maka lengkaplah penderitaan pers Indonesia ketika media bersinergi dengan bisnis dan politik. Berita sebagai jantung jurnalisme kehilangan substansinya. Media hanya bisa menjadi pilar keempat demokrasi jika mengambil jarak dan independen dengan tiga jenis kekuasaan yang terdapat pada lembaga Negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Keberjarakan dengan politik, ekonomi, dan bisnis serta pemegang kekuasaan akan membuat media berani bersikap kritis. Sebaliknya, jika dalam satu naungan kekuasaan, ungkapan Lord Acton ‘power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely’ (kekuasaan itu cenderung berbuat korup, kekuasaan yang absolut dengan sendirinya pastilah korup) menemukan kebenarannya.

TEKS DAN WACANA PERSPEKTIF TEORI KRITIS

Beberapa karakteristik analisis wacana kritis adalah:

Tindakan. Wacana dipahami sebagai tindakan yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi.

Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari sebuah wacana.

Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu sehingga tidak dapat dimengerti jika tanpa konteks.

Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan.

Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana kritis karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebagainya adalah praktik ideology atau efek ideologi.

SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Di muka bumi, semuanya bisa jadi tanda. Tanda terbagi dua, yaitu tanda verbal dan non verbal; alami dan buatan. Segala sesuatu yang bisa diamati dan dibuat serta mengacu pada sesuatu yang dirujuk dan dapat diinterpretasikan adalah tanda. Contoh tanda antara lain : bendera, isyarat, wajah, sikap, bunga, gagap, meludah, intensitas, kecepatan, kesabaran, dan kegilaan. Hingga kini banyak teori tentang semiotika yang dikemukakan para ahli. Salah satu pengusung semiotika yang cukup terkenal adalah Roland Barthes. Kunci dari ajaran semiotika Barthes adalah makna denotasi, konotasi dan mitos.

BAGIAN II JURNALISME SEBAGAI MITOS

Liputan6.com

  • 50 Buku Jihad dari Teroris Ciputat Diserahkan ke Komnas HAM
  •            Adigium bahwa “yang didengar bukan fakta tapi opini dan yang dilihat bukan kebenaran namun perspektif” harus dijadikan langkah awal bagi wartawan menemukan kebenaran. Bahwa yang terpenting dari jurnalisme adalah memverifikasi fakta. Semakin ketat dan rinci verifikasi fakta kian dekat berita tersebut kepada kebenaran. Salah satu kaidah verifikasi fakta versi Kovach dan Rosentiels adalah “jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa maupun pendengar,” seperti disebutkan diatas. Namun berita berjudul “50 Buku Jihad dari Teroris Ciputat Diserahkan ke Komnas HAM” adalah menyesatkan pembaca.

Merdeka.com

  • Cerai dari Brad Pitt, Begini Perasaan Jennifer Aniston
  •            Media bisa, boleh, atau bahkan harus memberitakan sesuatu yang tidak bisa diverifikasi (perasaan). Padahal jantung jurnalisme kata Bill Kovach dan Tom Rosentiel adalah verifikasi fakta. Bisakah sesuatu yang tidak factual diverifikasi?. Media kini sudah terseret memberitakan sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak ada kepentingannya untuk public. Cerai, selingkuh, dan kawin, misalnya. Media massa adalah ranah publik, cerai, selingkuh dan kawin, adalah urusan pribadi.

Metrotvnews.com

  • Densus Tangkap Teroris di Banyuwangi
  •            Kelemahan paling nyata dari berita berjudul “Densus Tangkap Teroris di Banyuwangi” adalah tidak ada verifikasi fakta. Menurut Bill Kovach dan Tom rosentiels disiplin dalam verifikasi fakta adalah jantung jurnalisme. Ada lima item indikator dalam verifikasi fakta, yaitu (1) wartawan jangan menambah atau mengarang apapun, (2) jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, (3) bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi, bersandarlah terutama pada reportase sendiri, dan (5) bersikaplah rendah hati.

Vivanews.co.id

  • Diam-diam Naikkan Harga Elpiji 12 Kg, Ini Alasan Pertamina
  •            Dugaan pelanggaran kode etik ( selanjutnya lihat Kode Etik Jurnalisme tentang larangan plagiatisme) dalam berita ini adalah menjiplak atau copy paste. Berdasarkan hari dan tanggal keduanya mengunggah berita ini, sama 2 Januari. Namun, Vivanews.co.id tidak mencantumkan waktu pengunggahan sedangkan okezone.com Jum’at, 2 Januari 2015 – 18:26 WIB. Bandingkan berita Vivanews.co.id, berjudul “Diam-diam Naikkan Harga Elpiji 12 Kg, ini alasan Pertamina” dengan Okezone.com, “Premium Turun, Diam-diam Pertamina Naikan Elpiji 12 Kg”, nyaris sama bukan? Kedua berita menggunakan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang, sebagai narasumber namun jabatan yang berbeda.

Beritasatu.com

  • Ditanya Soal Bunda Putri, Dipo Alam Sinisi Elite PKS
  •            Kata “sinis” adalah interpretasi wartawan. Tidak ada ungkapan yang menunjukan Dipo Alam sinis terhadap elite PKS. “Sinis” menjadi mitos sebagai ungkapan untuk menghantam PKS yang merupakan partai Islam tetapi terjerat korupsi. Karena menjadi narasumber tunggal dalam berita ini, semua yang ditulis dari satu versi. Konotasinya, semua yang dikatakan narasumber dalam berita ini sebagai kebenaran.

Detik.com

  • AirAsia Ditemukan
  • Dugaan Terkuat, Mesin AirAsia QZ8501 Mati Lalu Menghujam ke Laut
  •            Detik.com mengambil berita dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Judul ini merupakan bagian kesimpulan analisis BMKG berjudul “Analisis Meteorologis Kecelakaan AirAsia QZ8501” yang dikutip detik.com dari situs BMKG. Padahal yang berwenang dan pakar menyatakan kecelakaan pesawat adalah KNKT (Komite Nasional Kecelakaan Transportasi).

Tempo.co

  • Serang SBY, Anas Pertanyakan Surat Dukungan
  •            Makna denotatif dari kata “Serang SBY” dalam judul berita ini memiliki pengertian mendatangi untuk melawan (melukai, memerangi, dsb); menyerbu; melanda; melanggar; menimpa atau menentang (seperti melancarkan kritik), atau menolak hujan; menangkal. Tetapi dalam keseluruhan teks beritanya tidak ada satupun kata yang menegaskan Anas menyerang Susilo Bambang Yudhoyono.

Okezone.com

  • Premium Turun, Diam-diam Pertamina Naikkan Elpiji 12 Kg
  •            Pemberian judul “Diam-diam” dalam berita tersebut tidak menunjukan sebenarnya. “Diam-diam” berarti dilakukan dengan tanpa pemberitahuan. Dalam judul yang dipakai dalam berita ini diasumsikan wartawan turun ke lapangan untuk mencari dan menemukan data tentang kenaikan harga elpiji 12Kg yang secara diam-diam dilakukan Pertamina. Ternyata tidak ada usaha yang mencerminkan kenaikan harga diam-diam. Ternyata wartawan kedua tersebut hanya melakukan kontak melalui telepon seluler bukan berdasarkan pencarian ke lapangan.

Inilah.com

  • Tim Sembilan Rusak PSSI, Menpora Harus Mundur
  •            PSSI adalah institusi yang meiliki beberapa bagian. Di dalamnya ada peran, wewenang, fungsi. Pun ada bagian pertandingan, organisasi, wasit, pemain, dan sebagainya. Penggunaan kata ‘rusak’ yang dilakukan tim sembilan (tim yang dibentuk Menpora Imam Nahrowi untuk membenahi PSSI) adalah mitos belaka. Jauh panggang daripada api. Konotasi ‘rusak’ dalam berita itu berarti menyeluruh sedangkan tim sembilan tidak berwenang dalam keseluruhan PSSI.

Republika.co.id

  • ‘Innaalillahi wa innaa ilaihi rojiun, Pilkada Melalui DPRD’
  •            Penggunaan kata ‘Innaalillahi wa innaa ilaihi rojiun’ terlalu berlebihan untuk sesuatu yang masih menjadi perdebatan seperti pemilihan kepala daerah. Kata ‘Innaalillahi wa innaa ilaihi rojiun’ untuk menunjukan kepastian seperti halnya ajaran agama yang mutlak dan mengandung kepastian. Penggunaan untuk polemik pemilihan langsung adalah mitos Republika sebagai media yang mengklaim milik umat muslim.

Antaranews.com

  • Pejuang Kurdi Tewaskan 24 Anggota ISIS di Kobane
  •            Makna denotasi pejuang adalah terminologi orang atau kelompok yang memperjuangkan kebenaran. Di sisi lain, ISIS disebutkan sebagai penjahat. Makna  konotatif dari kata “pejuang” adalah mitos karena pada waktu yang bersamaan seolah-olah anggota ISIS bukan pejuang, tetapi lawan dari pejuang, yaitu pemberontak. Media ini hanya memastikan jumlah yang tewas adalah 24 orang dengan tanpa menyebutkan ciri dan karakter yang tewas. Pengambilan berita dari sumber berita asing tanpa verifikasi yang jelas akan membahayakan.

Kompas.com

  • SBY dan Ibas Disebut Dalang di Balik Pilkada Melalui DPRD
  •            Makna denotatif tulisan ini ingin menegaskan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono dan Edhi Baskoro (Ibas) sebagai orang yang mengatur semua drama yang ada perbedaan UU Pilkada melalui DPRD. Dalang adalah penentu segala pertunjukan. Makna konotatif yang disediakan media ini adalah ingin menunjukan bahwa SBY dan Ibas sebagai pengatur semua aksi walk out  Fraksi Demokrat dalam rapat paripurna DPR yang mengesahkan UU Pilkada Tidak Langsung. UU ini mengubah aturan sebelumnya yaitu pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat.

Cnnindonesia.com

  • Keselamatan Penerbangan
  • Auditor PBB: Penerbangan Indonesia Punya Masalah Kronis
  •            Judul berita ini ingin menginformasikan badan PBB, sebagai organisasi/badan tertinggi dunia, menyatakan penerbangan Indonesia memiliki masalah yang sudah akut. Penggunaan kata “kronis” adalah mitos yang diciptakan situs berita ini. Kronis seperti merujuk kemakna aslinya adalah sesuatu yang sudah dalam tahap sangat berbahaya atau bahkan mendekati kematian. Tetapi fakta menunjukan penggunaan kata “kronis” adalah sesuatu yang sangat berlebihan. Artinya, benar adanya dunia penerbangan Indonesia ada yang salah, tetapi penggunaan kata “kronis” akan mebuat kata ini menjadi mitos.

Rmol.co

  • Penerbangan Liar AirAsia QZ8501 Jadi Sorotan Dunia!
  •            Makna denotatif penggunaan “penerbangan liar” adalah terlalu berlebihan. Liar secara kamus adalah Tidak ada yang memelihara, tidak (belum) jinak, tidak tenang (tt pandangan mata); buas; ganas, tidak teratur; tidak menurut aturan (hukum), dan belum beradab. Bandingkan dengan makna konotatif “penerbangan liar”. Tidak resmi ditunjuk atau diakui oleh yang berwenang; tanpa izin resmi dari yang berwenang; tidak memiliki izin usaha, mendirikan, atau membangun. Liar seperti makna aslinya tidak bisa atau sulit dikendalikan bahkan tidak memiliki. Penggunaan kata liar menjadi mitos karena berlebihan. Liar tidak berarti seperti makna aslinya tetapi karena adanya yang tidak beres.

Sindonews.com

  • Pelantikan Jokowi-JK Hapus Nuansa Kebencian
  •            Penggunaan kata “nuansa kebencian” menjadi mitos yang berangkat dari makna dasarnya. Ketidakpuasan pasti ada dari sebuah proses  politik dibelahan manapun, tetapi penggunaan kebencian terlalu diada-adakan. Tidak berpijak pada fakta pascapilpres semua stakeholder bangsa ini aman-aman saja.

Jppn.com

  • Mbah Mijan Kirim “Pasukan” Ikut Mencari Korban AirAsia
  •            Judul “pasukan lain” menandaskan pengertian lain. Menggunakan tanda kutip dalam kalimat itu menunjukan bukan sesuatu yang sebenarnya. Artinya, pasukan lain, bukan berate pasukan dalam pengertian manusia. Ia merujuk pada pasukan nonmanusia atau ghaib. Sebagaimana layaknya keahlian paranormal (Mbah Mijan). Mitos dalam berita ini adalah sesuatu yang tidak bisa diverifikasi seperti alam ghaib tetap dipaksakan dalam berita.

Beritajatim.com

Penyebutan paranormal sudah menunjukan mitos, baik mitos tradisional maupun kontemporer. Mitos tradisional berarti paranormal atau kerap dipanggil dukun adalah orang pintar; segala tahu, termasuk letak bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang. Sedangkan paranormal sebagai mitos kontemporer bermakna secara jurnalistik diverifikasi sebagai narasumber kualifaid yang mengetahui letak bangkai pesawat AirAsia QZ8501.

Tribunnews.com

  • Kecelakaan Pesawat Air Asia QZ8501
  • Paranormal Ini Sebut Tiga Kekuatan Gaib Belitung Bisa Cari Air Asia
  •            Apa jadinya jika jurnalisme yang berbasis data dan fakta menyajikan sesuatu yang metafisik (tidak faktual)?. Secara sederhana jurnalistik seperti itu sudah runtuh dengan sendirinya. Ia bukan jurnalistik. Sesuatu yang gaib (tidak ada) dalam pendekatan rasionalitas tidak bisa difaktakan. Penyebutan paranormal dan kekuatan gaib menunjukan pada sesuatu yang tidak bisa diverifikasi secara jurnalistik. Jadi tidak ada makna denotatifnya. Justru yang muncul adalah makna konotatif atau mitos tradisional. Meskipun demikian mitos yang paling kuat menurut Barthez adalah yang terletak pada makna denotasinya.

Hasil Penelitian

Objek yang diteliti adalah teks dan foto berita di 18 media online yang diambil secara acak, baik media maupun tema berita yang diangkatnya. Berdasarkan hasil penelitian pada 18 berita di media online itu, ada beberapa temuan penelitian, antara lain :

Banyak penggunaan bahasa dan istilah asing

Hal yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan bahasa asing sebagai pengaruh budaya populer biar disebut keren. Diaku atau tidak, bahasa keseharian wartawan sangat berpengaruh pada penggunaan bahasa tulisan. Celakanya, bahasa, termasuk singkatan, keseharian wartawan menjadi bahasa yang disajikanke pembaca. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh kepada kualitas berita yang disajikan.

Narasumber tunggal dan tidak kompeten

Narasumber adalah elemen terpenting dari sebuah karya jurnalisme. Wartawan tidak mungkin mengetahui secara pasti suatu peristiwa. Ia pasti mengandalkan tangan orang lain yang bernama narasumber. Ketika narasumber tunggal, kian jauh dari kebenaran. Sedangkan narasumber tidak kompeten bukan saja menjauh dari kebenaran tetapi menjurus ke arah kesalahan dan kesesatan. Dengan narasumber tunggal dan tidak kompeten, jurnalisme bukan saja menjadi sebuah karya tidak bermutu tetapi ia juga berbahaya.

Penuh prasangka dan tidak ada verifikasi fakta

Kejujuran yang utama dari sebuah karya jurnalistik sedangkan verifikasi fakta, yang menurut Bill Kovach dan Tim Rosentiel adalah jantung jurnalisme. Jika kejujuran dan verifikasi fakta sudah hilang dari sebuah karya jurnalistik, bisa dipastikan berita itu tidak memiliki orientasi dan bertujuan untuk kebenaran. Ia jadi cenderung fitnah dan prasangka.

Nilai Kesejatian Pers

            Pers adalah subsistem dari sebuah sistem pemerintah. Kelangsungan hidup pers bergantung pada sistem politik yang berjalan saat itu. Pers adalah lembaga independen yang tidak memihak kepada salah satu golongan ataupun pemerintah, tetapi berpihak kepada kebenaran informasi berupa fakta yang disampaikannya kepada masyarakat.

Objektivitas versus subjektivitas media

Secara historis, pers ideal yang menjadi pilar keempat demokrasi yang objektif, netral dan nonpartisipan tak pernah terjadi di negeri ini. Ia pernah dijadikan alat melawan penjajah sebelum Indonesia merdeka, menjadi alat partai politik ketika demokrasi liberal, tangan kekuasaan pada masa Orde Baru, dan kooptasi modal di era reformasi. Dengan kata lain, pers di negri ini selalu berpihak dalam wujud apa saja. Dengan kondisi tersebut, wartawan tidak memiliki independensi untuk menetukan kebijakan media, sehingga ada jarak antara berita sebagai produk jurnalistik dengan profesionalismenya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
KONTEN MENARIK LAINNYA
x