Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Penulis Itu Biasa Hidup di Kesunyian dan Kegembiraan

30 Desember 2020   14:08 Diperbarui: 30 Desember 2020   14:10 152 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penulis Itu Biasa Hidup di Kesunyian dan Kegembiraan
diptra.id

Sudah tahu jika menjadi seorang penulis akan merasakan kesunyian sekaligus kesenangan yang meluap - luap. Mengapa? Apa penyebabnya? Apa karena ketika menulis sering merasa tidak ada pembaca yang mengintip tulisan kita atau karena sebab lain? Di lain hari atau bulan tiba - tiba penulis lain panen ide dan seringkali menemukan suasana nyaman hingga mengalir tulisan aktual, dan menjadi langganan admin karena seringnya mendapat ganjaran Artikel Utama.

Jika kalian penulis pemula, kalian pasti merasakan betapa beratnya menulis. Apalagi mencoba mencari cara bagaimana membuka cerita dan melawan rasa minder dari dalam diri. Apakah layak tulisan pertama dipublikasikan, apakah ada pembaca yang tertarik dengan tulisannya yang secara perasaan masih kacau dan lucu susunan bahasanya. Bukan hanya penulis pemula,  yang artikelnya sudah lebih dari seribu saja sering masih merasa kesepian dan merasa tidak yakin apakah tulisannya akan dibaca oleh banyak pembaca.

Orang secara kebiasaan akan mendongak ke atas, melihat tulisan - tulisan yang biasa nangkring di papan atas, sering menjadi Headline atau artikel utama, menjadi pilihan admin untuk diprioritaskan daripada tulisan lainnya dari para penulis pemula yang berusaha menyibak belantara kepenulisan. Setiap saat mencoba menghitung sudah berapakah pembaca yang peduli atau memberi komentar pada tulisan -tulisan kita. Kenapa baru sedikit, kenapa lambat. Ah masih 50 pembaca, lambat merangkak lagi, padahal tulisan yang kita tuliskan itu termasuk tulisan yang berjenis short term, mengulas berita sesaat yang akan cepat basi dalam hitungan waktu dan hari.

Kita terpekur, seperti ingin menangis melihat tulisan itu dengan cepat lenyap dari jajaran tulisan dalam hitungan waktu sebentar saja. Apalagi di platform blog itu sudah berderet antre tulisan - tulisan berkualitas tinggi dengan sederet penulis menjanjikan. Mereka sudah siap tempur, mempunyai stamina luar biasa mempunyai ide cemerlang dan selalu menjadi jaminan untuk tetap nangkring di jajaran tulisan top dan populer.

Hati seperti teriris-iris menyaksikan betapa sepinya tanggapan, betapa sebagai penulis gagal paham mengapa bisa terpuruk tulisan yang sudah begitu lengkapnya referensi saat menulis. Saat kegagalan serasa sunyi menyergap, serasa tidak ada teman, dan merasa terlempar dari komunitas.

Namun dalam kurun waktu yang dijalani penulis, ia merasa harus berteriak girang, manakala tulisannya menjadi trending, banyak dibicarakan, banyak dikomentari, masuk jajaran populer,dan sering sekali langganan Artikel Utama. Saat keadaan seperti itu penulis seperti mengawang- awang, merasa sedang di atas dan sedang terjebak dalam euforia kesuksesan.

Ia dengan perasaan percaya diri datang dan mengetuk teman para penulis, memberi komentar dan dengan sombong mencoba memberi trik dan tips bagaimana menulis yang baik dan menjadi langganan admin untuk diganjar sebagai tulisan pilihan. Ada saatnya euforia kegembiraan itu melenakan sehingga tidak terasa penulis lantas sombong, selalu ingin menunjukkan ini lho tulisan saya yang Headline, yang populer, unggul.

Antara sunyi dan tiba - tiba merasa tersanjung itu sering seiring, sebab kadang sebagai penulis merasa bahwa pengalaman menulis itu seperti roller coaster. Kadang mengawang - awang, kadang seperti tengah dininabobokkan merayakan kemenangan demi kemenangan, kesuksesan demi kesuksesan. Saat sukses penulis merasa bahwa ia sedang berada di dimensi lain dari para penulis yang tengah berjuang menuju ke puncak, yang tengah bekerja keras masuk menjadi penulis dengan kualitas artikel yang tidak diragukan lagi.

Kadang karena tengah bergembira ia menjadi lengah, tulisannya banyak yang berisi pengulangan, menceritakan tentang mimpi dan khayalan yang terbang jauh ke atas. Kelengahan itu membuat tulisan menjadi menurun kualitasnya, terlalu lama mengagumi diri sendiri sehingga lupa belajar. Padahal ada sebuah ungkapan di atas langit masih ada langit. Artinya bahwa ada yang lebih the best dari kualitas  tulisan kita saat ini.

Beruntung di platform blog Kompasiana banyak penulis yang selalu mawas diri, meskipun beliau sudah masuk di jajaran maestro, masuk sebagai legenda dalam kepenulisan, ia mengajarkan selalu untuk rendah hati. Tulisannya selalu menginspirasi, tulisannya selalu memberi dorongan untuk tidak jumawa terhadap capaian hidup kita. Ia tengah mengajari dengan tindakan nyata. Semangat, konsistensi dan produktifitas yang luar biasa.

Beruntunglah seorang penulis yang mempunyai sifat rendah hati, sebab meskipun bisa dikatakan sudah maestro selalu haus untuk belajar dari penulis lain. Harusnya begitulah kira - kira yang harus menjadi pegangan penulis. Kadang kita terperangkap dalam kesunyian saat ada perasaan ditinggalkan karena merasa gagal membuat tulisan yang baik, namun saat tulisan sering muncul dan dibicarakan kadang merasa melenting ke atas dan jumawa. Merasa bisa menasihati dan jarang menengok tulisan - tulisan yang sedikit pembacanya.

Menjadi penulis, itu memang sering terjebak dalam perasaan sunyi, apalagi untuk menghidupkan puisi atau karangannya yang penuh imajinasi. Kadang kesendirian penting, apalagi suasana yang tenang membuat pikiran segar dan ide mengalir deras. Tapi bukan berarti kesunyian menjadi sahabat satu - satunya. Saya malah merasa bahwa penulis perlu teman yang banyak, relasi yang luas, dan mata yang selalu nanar dan sifat diri yang ingin tahu segala hal. Sebab dengan banyak teman dan keingintahuan yang kuat, narasi, dialog dan isi dari tulisannya menjadi dalam. Penulis seperti tahu rupa - rupa sifat manusia, bisa mengenal lingkungan secara detail sehingga bisa menggambarkan dengan tingkat presisi yang hampir sempurna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x