Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru yang terpanggil untuk berbagi tulisan

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menggiring Semangat Menulis Sampai ke Puncak

15 September 2019   13:25 Diperbarui: 15 September 2019   13:27 0 2 0 Mohon Tunggu...
Menggiring Semangat Menulis Sampai ke Puncak
Sumber: Pinterest/GregoryKickow

Apakah kalian tahu bagaimana kalian bisa semangat untuk bekerja, semangat untuk memecahkan rumus- rumus matematika, semangat untuk menterjemahkan bahasa kawi untuk mengetahui sejarah Kerajaan- Kerajaan. Aku sendiri sebetulnya bukanlah yang terpandai yang dengan cepat menapak ke tataran tertinggi sebuah pilihan pekerjaan.

Dengan passion, menikmati hobi dan mencintainya maka aku berhasil perlahan lahan ke puncak. Untuk sampai ke puncak betapa tidak mudah teman! Aku perlu bertahun- tahun bisa membariskan kata, bisa menggoyang kalimat menjadi sebuah paragraf. Awal mula aku hanya berkirim surat pada kekasih yang tidak pernah mampu kepeluk. Mungkin hanya bayangannya dan khayalan- khayalanku yang membuat kata- demi kata terangkai. Lama -- lama terbiasa juga menyeduh kata dan membariskannya menjadi artikel, curhatan, cerpen, essay dan puisi.

Aku perlu menggiring semangat, sebab kadang ketika semangat menggebu ada saja rintangannya hingga membuat aku kembali terjerembab dalam sunyinya ide, rasa putus asa ketika tidak ada satu tulisanku yang disukai redaksi. Ah. Mellow banget sih! Memang kenyataannya begitu, aku putus asa dan sempat memutuskan menjauh dari kegiatan menulis, tetapi lama- lama aku rindu dan ingin menggerakkan jari untuk menulis apa saja suka- suka aku.

Biarlah aku lepaskan teori- teori menulis yang sempat aku ingat sewaktu pelajaran bahasa. Aku hanya fokus pada rumus. Sebelum menulis aku perlu membaca sebanyak- banyaknya dan ketika menulis aku perlu menaklukkan rasa malas, ketergantungan pada teknik bercerita dan tersandera pada baku tidak bakunya  bahasa. Ah. Aku menulis untuk memanggil ide, membentuk kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, mengumpulkan paragraf agar menjadi sebuah artikel. Aku ngeri membayangkan masa depan, sampai kapan aku akan terus menulis. Aku jalani saja sebuah proses ini, mengalir saja seperti air.

Nyatanya tiba -- tiba eh tidak tiba- tiba ding, aku menemukan artikelku pernah tayang di beberapa koran, majalah dan media sosial. Sebuah kebanggaan atau sebuah hasrat besar untuk rajin menulis, menulis dan menulis. Aneh rasanya baru kemarin kok bisa aku menulis ratusan artikel, membuat beberapa novel dan catatan catatan di media sosial. Apa yang menggerakkan jariku, bagaimana sebuah artikel akhirnya bisa ditulis dengan sekali duduk, padahal dulu perlu berjam- jam untuk merangkainya.

Apakah bernama konsistensi, apakah bernama kesabaran ataukah karena aku hanya menikmati serasa air mengalir dari puncak menuju muara. Menggiring semangat menulis itu adalah sebuah perjalanan rasa. Hati harus merasa terlibat dan jiwa harus terpanggil untuk menyusun barisan kata tersebut. Apakah langsung bagus? Yah, jangan harap langsung berkibar. Perlu bertahun- tahun agar tulisan bisa diapresiasi, tulisan bisa dinikmati.

Menulis itu perpaduan ketrampilan, ketekunan, semangat pantang menyerah dan kenekadan. Bayangkan sampai saat ini sebagai perupa aku masih minder saja memamerkan lukisan- lukisanku di event pameran, tetapi betapa dahsyatnya diriku saat tulisan- tulisanku ingin segera dibaca pembaca. Dulu, pada tahab awal tulisanku yang berupa coretan tinta di kertas hanya kudekap dan kubaca sendiri. Aku sering menulis cerpen cinta tetapi hanya kubaca sendiri, aku telah menulis puisi cinta tetapi hanya kubaca sambil tersenyum getir. Ah, masa lalu. Dan saat ini bagaimana? Yang masih sering minder sih tetapi sebagai penyandang gelar penulis,penulis opo yo... aku mesti pede. Masalah dikritik yo ben tho.. didengar saja disimak saja, toh jika dikritik semakin tahu kekurangan kita ya to...

Maka dari itu menulis itu menjadi sebuah ritual mengasyikkan yang membikin aku jadi gagal move on, dan memang tidak ingin menghentikan kebiasaan menulis yang kadung membuat aku tresno (cinta).

Ibaratnya anjing menggonggong kafilah berlalu. Bayangkan aku harus mendengarkan apapun kata orang mengenai kegiatan menulis, pun kadang diomeli istri gara- gara ritual menulisku sering mengganggu waktu -- waktu intim saat harus berbagi rasa dengan pasangan hidup. Kadang egoku muncul, kebiasaan menulisku sudah mendarah daging jauh sebelum aku menikah. Tetapi aku memang mesti sadar setelah berkeluarga egoisme harus dikubur dan mesti bisa berbagi agar menulis tidak menjadi hambatan untuk bersosialisasi, tetapi menambah semangat dan luasnya wawasan berpikirku.

Kalau lingkungan mendukung maka aku akan menggiring semangat menulis sampai ke puncak. Aku mesti terus mendorong kekuatan imajinasi, kesabaran saat ide tiba- tiba macet dan banyaknya persoalan yang tiba tiba datang tanpa permisi.

Menulis itu adalah masalah konsistensi. Mencatatkan diri dalam rangkaian sejarah. Bukan ingin sombong nyatanya dengan menulis aku menjadi lebih sabar dalam berbagai hal, meskipun kadang jika badai masalah datang aku tetap meledak saja dan marah karena merasa tidak mendapat tempat yang baik bagi sebuah hasrat bernama menulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2