Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko GURU

Seorang Guru, Suka Menulis.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Puncak Perseteruan Kata-kata

11 Oktober 2018   15:42 Diperbarui: 11 Oktober 2018   15:55 656 1 0
Puncak Perseteruan Kata-kata
sumber gambar:radarbojonegoro.jawapost.com

Kata yang Melukai

Bara itu itu bernama kata-kata. Ia tersebar berserak dalam ruang- media sosial. Membaca kata-kata mereka seperti ingin meledak isi kepala. Sumpah serapah, saling ejek, baik halus maupun kasar sama satu tujuan mengukuhkan diri sebagai pejuang maupun pecundang. Sama-sama kukuh mempertahan argumen demi sebuah keyakinan bahwa dirinyalah yang terbaik orang lain salah dan bodoh.

Tanpa melihat wajah dan hanya menyerap kata- kata yang tersembur aku tahu dibalik kerinduan hidup damai, tenang, ternyata banyak manusia rindu berseteru. Salah satu nafsu purba manusia yang masih dipiara adalah berdebat. Manusia mempunyai adrenalin dan gen untuk bersilat lidah. Dengan fakta-fakta menurut sudut pandang sendiri mencari pembenaran bahwa satu manusia adalah serigala bagi yang lain. Manusia adalah homo homini lupus.

Kata-kata adalah pedang, Senjata kata-kata seringkali melukai dan membuat kebencian menggelegak. Letupan-letupan kemarahan menyeruak dari kata-kata yang tersirat. Ada titik-titik emosi saat tanda apostlop.

Dua tiga kata menyelusup di ruang depan media sosial, lalu dimulailah pergunjingan, perdebatan khotbah. Ratusan bahkan ribuan netizen seperti ingin menegasikan bahwa ada keberpihakan, ada arus utama ideologi yang membuat mereka kukuh untuk bertahan dalam badai meskipun dikeroyok juga oleh barisan kata- kata yang membullynya.

Menyusur bukit perdebatan, kata- kata semakin membuat  mata hati, mata jiwa menggelap. Ketika gelap menutup seluruh indera, seperti Krisna ketika berubah menjadi Raksasa saat menyaksikan betapa biadabnya dan liciknya bala Kurawa dan Sengkuni biang kekisruhan. Kata-kata telah mencederai bahkan menghilangkan nyawa, kata-kata telah mencederai persahabatan dan meluluhlantakkan persaudaraan.

Media Sosial dan Perseteruan netizen

Itulah ruang media sosial. Baik di Facebook, twitter dan lapak-lapak komentar yang tersebar portal berita. Akun  abal-abal, hantu blau, akun tuyul tanpa identitas menebarkan kata-kata penuh ancaman, kasar dan hiperbolis dengan data-data bodong. Bahkan judul judul mengerikan sengaja diekspos untuk menimbulkan kegaduhan hingga perang saudarapun tidak terbendung.

Para pengkotbah dengan sombong menampilkan dalil-dalilnya untuk mempengaruhi khaayak agar tersentuh dengan dan berbalik mengagumi. Ada doa-doa yang sengaja diviralkan untuk menutupi kebohongan diri dan  tips menghindari selingkuh padahal dirinya sedang berkubang dalam cinta terlarang.

 Peristiwa  hancurnya menara Babel  salah satu kegelisahan Tuhan  yang memuncak hingga bencana demi bencana mendekap manusia . Kala manusia  kalap oleh nafsu purba hingga melupakan penghormatan kepada manusia lain dan berpesta sekedar mengumbar hasrat sex, pesta kebebasan yang kebablasan.  Politisipun menampilkan kebusukan-kebusukan syahwat kuasanya. Manusia terninabobokan pada pengkultusan simbol-simbol melupakan bahwa manusia adalah makhluk terlemah ketika tergoda kenikmatan. 

Yang sekarang terjadi mungkin manusia tengah mabuk agama, agama disembah dan agama dipuja sementara esensi kedekatan dengan Tuhan Yang Maha lekat, Maha mendengar diabaikan. Manusia marah ketika simbol-simbol agama dilecehkan sementara Tuhan sendiri "dilecehkan" oleh pemujaan agama yang akhirnya menjebak manusia saling membenci, saling membunuh dan saling curiga.

Penghancuran gedung-gedung tempat manusia menyesap kasih sayang Tuhan dengan bermeditasi, berdoa khusuk dengan kata-kata yang yang muncul dari relung jiwa. Tuhan tahu meskipun manusia tidak berucap, Tuhan tahu meskipun  kata- kata manusia  sering menimbulkan salah persepsi bagi manusia lain.

Perseteruan kata telah menancapkan dendam yang susah terhapus, ia akan menjadi stigmata yang akan dikenang sepanjang hidup, ia adalah teror yang terus bergema dalam sanubari. Kebencian  meletup-letup hingga yang muncul hanya cinta buta, buta karena kepentingan buta hanya karena kesetiaan yang penuh nafsu kuasa.

***

Agama dan Puncak Perseteruan Kata

Aku begitu gagap dengan serentetan kata-kata yang datang dan pergi. Dalam ruang ruang sunyi tetapi gaduh oleh umpatan. Sampai kapan kita, kamu, mereka, ayang , mbeb, mas, mbak, akang, eneng, nona,  tuan, puan harus saling menyakiti lewat kata-kata.

Tidak adakah kesempatan  berangkulan merayakan perbedaan dalam satu kayuh kebersamaan. Mengapa harus selalu gaduh. Satu Indonesia merayakan perbedaan dalam keceriaan. Keyakinan adalah pertanggungjawaban manusia pribadi terhadap Tuhan yang mencipta,  memaksakan keyakinan untuk sekedar penyeragaman itu bulsyit.

Boleh jadi aku adalah bagian dari makhluk yang datang  menyediakan waktu untuk menulis. Tersirat aku ikut menyumbang kata-kata terhadap gaduhnya media maya yang tanpa sopan memuntahkan kata-kata provokatif hingga persaudaraan sebangsa menjadi terbelah. Tetapi aku mengelak jika aku menjadi sumber masalah bagi puncak perseteruan kata-kata.