Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko GURU

Seorang Guru, Suka Menulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Rabu Abu, Puasa dan Mawas Diri

14 Februari 2018   12:53 Diperbarui: 14 Februari 2018   14:13 788 1 0
Rabu Abu, Puasa dan Mawas Diri
Bertobatlah dan Percayalah Pada Injil (Manado - tribunnews.com)

Rabu Abu dan Peristiwa Pertobatan

Sudah menjadi tradisi bahwa Umat Katolik mulai masa prapaskah dengan di awali sebuah peristiwa yang di sebut Rabu Abu. Rabu Abu menurut pemahaman penulis adalah peristiwa pertobatan. Pastur atau Pro diakon akan memberi tanda pada jemaat/umat di  kening. Abu yang menjadi tanda salib di kening itu adalah hasil pembakaran daun palma yang dibagikan setiap Minggu Palma 5 hari seminggu sebelum Paskah. 

Abu adalah perlambang pertobatan. Dosa-dosa yang lalu telah dibakar dan manusia kembali menjalani masa Prapaskah dengan melakukan puasa dan pantang. Bagi umat katolik Rabu Abu biasanya dibuka dengan puasa. Puasa dalam pengertian Katolik adalah mengurangi perbuatan sehari-hari yang dianggap sebagai simbol nafsu manusia. Makan kenyang, merokok, bergosip, atau perbuatan dosa lainnya. Pastur atau prodiakon akan mengucapkan"Bertobatlah dan Percayalah pada Injil". Selanjutnya mulailah masa prapaskah yang berlangsung kurang lebih 40 hari sampai tiba saatnya Paskah. Hari minggu tidak dihitung.

Yang saya tahu menghapal dan memahami injil tidak begitu diutamakan karena dalam tradisi katolik yang penting melaksanakan amanat kitab suci. Pemahaman Alkitab itu tidak menjadi harga mati, karena katolik juga harus bisa menjadi garam dunia, mampu melebur dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dan tidak  eksklusif meskipun  kenyataannya banyak orang katolik hidup berkecukupan. 

Sabda sudah menjadi daging, Katolik memahami Kitab suci bukan kata per kata, huruf perhuruf tapi makna keseluruhan dari teladan Yesus Kristus. Tafsir tentang Kitab suci biasa didiskusikan di lingkungan,  dengan melakukan sharing iman. Karena Alkitab bukan hal yang terlalu disembah-sembah. Ajaran utama Katolik adalah pelaksanaan firman itu sendiri bukan hapal kitab suci.

Setiap orang mempunyai sudut pandang sendiri dalam memahami kebaikan dan Katolik menyesuaikan dengan budaya setempat. Maka kadang Misa atau pelaksanaan ibadat sabda sering menggunakan ritual tradisi daerah setempat tanpa mengurangi makna liturgis sebuah peribadatan. Umat katolik adalah minoritas di Indonesia meski begitu kontribusi terhadap negara sebetulnya besar. 

Sejak awal masa kemerdekaan pendidikan Katolik sudah berkontribusi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, terutama dalam pendidikan kedisiplinan, karakter building, dan kualitas sumber daya manusia. Meskipun saat ini sumbangsih pendidikan Katolik mulai meluntur dan agak susah bersaing dalam bidang pendidikan sumbangsih pendidikan Katolik masih menonjol dalam bentuk pendidikan karakter. 

Jika sekarang ada peristiwa traumatis dengan teror terhadap ulama, teror terhadap lembaga agama karena mulai panasnya kontestasi politik terutama pemilihan kepala daerah, umat kristiani meyakini bahwa kebinnekaan dan pelaksanaan Sila-sila Pancasila tetap penting untuk menghadang aksi radikalisme yang merebak saat ini.

Agama harus menjadi pilar utama dalam menanamkan kerukunan, kedamaian dan tidak dipungkiri kebinnekaan adalah sebuah kekayaan yang dimiliki Indonesia. Mungkin hanya segelintir rakyat yang tergelincir memahami agama secara salah, memperlakukan agama  mampu menyelamatkan manusia dari siksaan api pencucian(neraka).

Setiap umat atau manusia yang mampu berbuat baik, tulus baekerja, mengabdi pada kebaikan, mengamalkan ajaran agama dengan baik tentu akan mendapatkan balasan setimpal dengan perbutan baiknya. Dalam Ajaran Islam ada Lakum Dinukum Waliyadin,bagiku agamaku, bagimu agamamu. Atau untukmu agamamu, untukku agamaku. 

Ajaran toleransi agama adalah memberi ruang pada setiap orang untuk melaksanakan ajaran agama tanpa intervensi pemeluk agama lain. Dalam masyarakat kehidupan normal sebagai  warga negara yang sama di mata negara.

Awal puasa mendorong umat untuk melakukan jejak kebaikan. Dengan menolong sesama, mengurangi jatah makan untuk, melakukan pantang dan mengurangi egoisme dan mulai lebih memperhatikan sesama. Ritual Prapaskah sama di seluruh penjuru dunia. Hanya tema Prapaskah bisa berbeda-beda di tiap negara atau keuskupan.

Mawas diri

Mawas diri berarti setiap umat perlu kembali ke diri masing-masing, meneliti bathin meneliti tingkah laku dan perbuatannya yang dilakukan sebelum-sebelumnya. nafsu-nafsu duniawi nantinya akan mendapatkan penebusan dengan memahami arti pengorbanan Tuhan Yesus yang  rela dihempaskan dalam jurang kesengsaraan dan akhirnya Disalibkan mati dan bangkit lagi di hari ketiga yang menjadi penanda paskah.

Selamat memasuki masa Pra paskah untuk umat Kristiani. Semoga damai senantiasa. Rabu Abu menjadi penanda memasuki masa prapaskah.Tuhan memberkati.