Mohon tunggu...
Em Ridha
Em Ridha Mohon Tunggu... -

Pemungut Ide. masih Memimpikan Pancasila sebagai Resolusi Berbangsa dan Bernegara Founder KITRA TNI POLRI @Kitra_indonesia Pusaka Indonesia Email: Kitra@gmail.com Cp.081213564764 BBM: 5D4F5C3F

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hercules adalah Kita ; Mitos Negeri Kaya Berlimpah

6 Juli 2015   23:41 Diperbarui: 6 Juli 2015   23:41 866
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Padahal siapapun orangnya, dalam kondisi hidup ekstrim, pasti akan melakukan segala cara agar tetap bisa survive. Jangankan TNI  POLRI tapi siapa saja yang secara ekonomi keluarganya terdesak , tidak kenal ampun, pejabat, wartawan, ataupun perempuan biasa-biasa maka apa saja akan dikomersialkan, termasuk prostitusi agama, jabatan dan Kelamin.

Jatuhnya hercules adalah fakta bom waktu yang telah lama ditanam sendiri, diwariskan sejak beberapa dekade oleh pemerintahan yang doyan bikin kebijakan “Sampah” yang setiap waktu dapat memicu endemik mematikan. Penggunaaan berbagai peralatan usang “sampah” bukan hanya pada alutsista tetapi juga hampir semua sarana yang disediakan pemerintah, alat transportasi publik; Kereta Api, Kapal laut, bus way dll adalah deretan modus kebijakan pemerintahan  yang berlogika ‘sampah’.

Kebijakan ini dikategorikan sebagai teror bagi warga Negara dengan alasan keterbatasan anggaran. Alih-alih focus pada isu utama kemiskinan yang menimpa  jutaan keluarga bangsa ini,  pemerintah malah pilih alokasikan anggaran; bayar utang orang2 swasta sok kaya, membangun infrastruktur ditanah-tanah kosong, Ratusan juta Warganya miskin dan lapar pemerintah lebih peduli bikin jalanan aspal jutaan kilometer dan bangunan megah agar  investor tertarik, kebijakan pemerintah ini bila diumpamakan: kebakarannya di Jakarta tapi kirim pemadamnya ke pulau sebatik.

Tragedi hercules harusnya membuka mata bangsa ini akan mitologi pembangunan pemerintahan yang teorinya sangat-sangat  modern tapi secara operasional sebanarnya hanya eksplotasi warga Negara, gunakan asumsi primitive, pekerjaan sebagai TNI atau POLRI dimana warga Negara tidak memperoleh apa-apa, kecuali jaminan Sandang, pangan, papan serta seragam dinas; saking ekstrimnya hidup mereka untuk mudik sekali setahun saja bagi mereka sekeluarga harus dengan cara-cara sangat riskan, penghasilan minim oleh pemerintah tidak memungkinkan gunakan pesawat komersil atau sarana transportasi komersial berbiaya tinggi,  kondisi hidup TNI POLRI mewakili semua pendapatan dari pekerjaan yang disediakan baik swasta maupun pemerintah, beli baju baru, mudik sekeluarga demi sedikit berbudaya bagi warga  pekerja jadi barang yang sangat mahal.

Sementara, fasilitas ekslusif dan privilege terbuka lebar bagi kaum taipan- minoritas yg  tidak pernah mau berpuasa, selalu harus menjadi arus utama yang diuntungkan pemerintahan karena jasa atau setoran,transaksi gelap;  sementara  kaum papa mayoritas hanya bisa hidup dgn doktrin gnotisme atau sufisme; Puasa , puas menikmati fasilitas bodong "seadanya", sarana berteknologi usang ‘sampah’ , negeri yang di jejali jalan aspal “klaim pembangunan’ penuh kerikil, berlobang dgn prestasinya pembunuh nomor satu dinegara ini, beberapa fokus‘pembangunan’,  malah seret  warga miskin bersahabat dengan maut. Sebagaimana tradisi dari bangsa miskin, Duka lara dan air mata keluarga miskin Bangsa ini hanya tetesan yang jatuh diatas sungai selalu hanyut terbawa arus; hilang tak berbekas.

praktek  demokrasi yang dipuja-puja masih  berpusat tentang managemen perebutan kekuasaan; politisi  miskin akan terpinggirkan, birokrasi miskin sebagai penumpang gelapnya, sebab hanya menguntungkan kaum taipan minoritas sejak bangsa ini merdeka  lalu berkutat disitu-situ saja,   belum pernah menyentuh logika pengelolaan kemanusiaan atau distribusi kesejahteraan bangsa ini.rapat kabinet ditambah perpres, sidak pasar, Kontrol harga cabe, bawang atau daging diyakini prnerintah cukup menjaga “citra”  wong cilik, keberpihakan pada warga pekerja miskin, tapi bencana paham eksploitatif, sumber utama kemiskinan TNI Polri dan seluruh pekerja; nyaris tidak pernah jadi renungan apalagi jadi topik rapat kabinet ,alasannya sudah didelegasikan hitung-hitungannya ke masing-masing institusi.

Nawa cita kita yakini bukanlah mitos seperti hercules sebagai anak dewa dalam mitologi yunani: tetapi nawa cita adalah pilihan kritis bangsa ini untuk mengakhiri praktek pemerintahan yang selama ini  hanya bisa berkeluh kesah dan  pelipur lara bagi kepedihan keluarga besar bangsa ini yang tepanggang oleh kemiskinan sistemik, Jokowi adalah kesempatan besar bagi bangsa ini, sebagaimana bulan puasa hadir sebagai momentum bagi umat manusia mengevaluasi dan bersiap diri secara total atas tantangan kehidupan bulan-bulan berikutnya. Pesawat Hercules yang jatuh di bulan ramadhan memang bukan kendaraan Jibril Membawa Wahyu, tapi insiden Hercules harus  membuka fakta bagaimana ekses pemerintah dengan paham, sistem ekonomi primitive ini akan menyeret siapa pun warga negara ini dalam antrian pembantaian.

Jokowi dan nawa Cita jangan sampai hanya sosok dengan teks skriptual bodong, militansi dan keberpihakan pada bangsanya yang miskin  hanya ada pada saat kampanye Pilpres dan podium-podium konfrensi pers, tapi saat warga Negara sudah memenangkannya, Jokowi   bingung, linglung, kehilangan ruh progresifitanya akibat kuatnya pengaruh taipan dan politisi bermental receh-receh, hanya ngotot menyuarakan, mewakili kepentingan murahan dengan segala argumen spekulatifnya. Jokowi tidak boleh pelihara warisan  mitos developmentalisme  yang terbukti tidak sesuai karakter bangsa; akumulasi anggaran untuk infrastruktur  dan bayar utang buat jaga citra ekonomi pemilik modal, sebagai praktek gaya dan  mindset pemerintahan miskin; biar lapar asal bisa gaya.

Pembangunan infrastruktur memang menjanjikan kemakmuran warga Negara tapi  untuk mengaksesnya kesana,energi warga terbatas dgn jarak yg sangat jauh dan  berliku, malah hanya jadi  bancakan birokrasi miskin  dan olahan (kemiskinan) politisi recehan. Nawa Cita harus terus dikawal agar aktual transformasinya dapat segera dinikmati oleh bangsa ini tanpa terkecuali. Sebab tidak satupun kosa kata secara tegas tentang pembangunan infrastruktur bisa ditemukan dalam konstisusi. Segala kekayaan yang terkandung dikuasai Negara untuk kemakmuran setiap warga Negara;  sederhana, Rigid, jelas, kongkrit tapi pemerintah justru masih berpihak pada teori-teori impor pembangunan yang ditangani oleh birokrasi "mogok" bukannya  berpegang teguh pada Visi konstitusi.

Relasi antara Pencapaian visi nawa Cita dan keberlanjutan tatanan usang pemerintahan mengharuskan bangsa ini gunakan pendekatan puasa; dimana tuhan mendidik manusia untuk menghindari hal-hal yang bersifat rutin, biasa-biasa agar potensi luar biasa dalam dirinya bisa mengaktual; dalam konteks alokasi anggaran  pemerintah selama ini yang hanya habis untuk bayar utang dan pembangunan infrastruktur yg sudah rutin ini juga harus segera berpuasa, hanya untuk beberapa tahun, agar anggaran yang terbatas ini bisa difokuskan melatih dan memajukan kesejahteraan TNI POLRI, sehingga nawa cita tidak sebatas teks metafisis kampanye, puasa anggaran untuk bayar utang swasta atau pembangunan yang tidak strategis adalah pilihan untuk identifikasi keberpihakan pemerintah pada penuntasan problem kemanusiaan yang menimpa keluarga besar ini.

relasi warga Negara TNI POLRI dengan kualitas nasionalisme 24 karat yang ada dalam intitusi ini adalah suprastruktur  utama serta strategis guna transformasi mimpi nawa cita, pemiskinan yang dialamatkan negara atas mereka tidak memupus prestasi dan kerja-kerja kemanusiaannya; tentunya sudah kongkrit jika eksistensinya menentukan keberhasilan revolusi nawa cita dalam menegakkan hak-hak, moralitas dan karakter luar biasa bangsa ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun