Mohon tunggu...
dr. Simon Yosonegoro Liem
dr. Simon Yosonegoro Liem Mohon Tunggu... Dokter - Sedang pendidikan dokter spesialis di Universitas Indonesia

Saya dokter asal Kalimantan, alumni UGM dan sedang melanjutkan pendidikan di UI. Senang berbagi informasi kepada sesama, berorganisasi, doyan sejarah dan fotografi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dituduh Sabotase Vaksin, Profesor Dokter Achmad Mochtar Dibunuh Jepang

24 Oktober 2021   00:29 Diperbarui: 24 Oktober 2021   06:54 498 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Penulis di makam Prof dr Achmad Mochtar di Ereveld, Ancol, Jakarta Utara (dokumentasi pribadi tahun 2021)

Penulis di makam Prof dr Achmad Mochtar di Ereveld, Ancol, Jakarta Utara (dokumentasi pribadi tahun 2021)
Penulis di makam Prof dr Achmad Mochtar di Ereveld, Ancol, Jakarta Utara (dokumentasi pribadi tahun 2021)

Profesor dokter Achmad Mochtar, seorang ahli Bakteriologi dan Direktur Lembaga Eijkman dieksekusi tentara Jepang pada tanggal 3 Juli 1945. Beliau dituduh melakukan sabotase terhadap vaksin TCD (Typhus Cholerae Dysentry) setelah para pekerja paksa Jepang (romusha) tewas usai divaksin TCD pada tahun 1944. Beliau pun mengorbankan diri dengan mengaku bahwa beliau bersalah dan meminta para peneliti dibebaskan dengan taruhan dirinya dieksekusi oleh Jepang. Kepalanya dipenggal dan jenazahnya dikubur secara masal. Tuduhan Jepang ini kemudian terbukti tidak benar.

Sosok Prof dr Achmad Mochtar. Sumber: https://oorlogsgravenstichting.nl/persoon/104585/achmad-mochtar
Sosok Prof dr Achmad Mochtar. Sumber: https://oorlogsgravenstichting.nl/persoon/104585/achmad-mochtar

Jenazah Prof dr Achmad Mochtar baru ditemukan kembali tahun 2010 dan saat ini disemayamkan di Pemakaman Ereveld di Kawasan Pantai Ancol, Jakarta Utara. Kebetulan penulis sempat berkunjung ke makam beliau akhir-akhir ini. Namanya tertulis bersama para korban kekejaman Jepang dari berbagai latar belakang.

Makam Prof dr Achmad Mochtar di antara pemakaman masal korban Penjajah Jepang di Ereveld, Ancol, Jakarta. Foto koleksi pribadi.
Makam Prof dr Achmad Mochtar di antara pemakaman masal korban Penjajah Jepang di Ereveld, Ancol, Jakarta. Foto koleksi pribadi.

Beliau lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat tahun 1892, dan diterima di sekolah kedokteran STOVIA pada tanggal 25 November 1907 dan lulus dokter pada tanggal 21 Juni 1916. STOVIA adalah sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Banyak tokoh nasional adalah lulusan STOVIA misalnya dokter Sutomo (pendiri Budi Utomo), dokter Cipto Mangunkusumo (namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit nasional di Jakarta yakni RSCM) dan Prof dr Johannes Leimena (pernah menjadi Menteri Kesehatan) serta tokoh berbagai daerah yang namanya dijadikan nama RSUD misalnya dokter Agoesdjam di Ketapang, Kalimantan Barat (lihat tulisanku di kompas.com tentang dr. Agoesdjam di sini).

Sekolah Kedokteran STOVIA, tempat sekolahnya Prof dr Achmad Mochtar. Sekarang STOVIA menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Foto koleksi pribadi. 
Sekolah Kedokteran STOVIA, tempat sekolahnya Prof dr Achmad Mochtar. Sekarang STOVIA menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Foto koleksi pribadi. 

Dokter Achmad Mochtar sempat mengabdi 2 tahun di Sumatera Utara.  Saat ini Sumatera Utara, beliau bertemu dengan W.A.P Schuffner, soerang peneliti Belanda. Berkat koneksi dari Schuffner, pemerintah kolonial Belanda di Nusantara (Netherlands East Indies) memberangkatkan Mochtar ke Universitas Amsterdam untuk meraih gelar doktor.

Dalam tesisnya tahun 1927 dia menulis penelitian tentang leptospira, suatu penyakit yang disebabkan infeksi bakteri dari genus spirochaete. Leptospirosis (penyakit karena infeksi bakteri Leptospira interrogans) dapat diperantarai oleh tikus dan terutama terjadi saat banjir dengan salah satu gejalanya yakni sakit kuning (ikterus) akibat kerusakan pada liver (hati). Promotor utama tesis beliau adalah Hideyo Noguchi, ahli mikrobiologi Jepang yang pada tahun 1911 membuktikan bahwa neuropati sifilis disebabkan oleh bakteri dari genus spirochaete yakni bakteri Treponema pallidum.

Setelah meraih gelar doktor, beliau pun kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) dan bertugas di berbagai daerah di Nusantara. Beliau pun melanjutkan penelitiannya tentang leptospirosis. Beliay berpindah-pindah tempat bertugas antara lain: Bengkulu, Sumatera Barat, hingga Semarang. Beliau aktif menulis karya ilmiah dan diterbitkan di berbagai jurnal kedokteran ternama.

Pada tahun 1937 beliau bergabung dengan fasilitas penelitian biomedis terbaik di Nusantara ketika itu yakni "Geneeskundig Laboratorium" (Medical Laboratory). Beliau pun kemudian ditunjuk sebagai direkturnya yang kemudian lembaganya berganti nama menjadi Eijkman.  Nama ini diambil dari nama seorang peraih Nobel Kedokteran yakni Christiaan Eijkman yang meneliti tentang penyakit beri-beri dan vitamin B saat Eijkman berada di Nusantara dan pernah menjadi direktur lembaga ini pula.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan