Mohon tunggu...
Reni Indrastuti
Reni Indrastuti Mohon Tunggu...

writing is a passion

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Dokter Wajib Piknik

7 Juli 2015   02:43 Diperbarui: 7 Juli 2015   02:43 774 1 3 Mohon Tunggu...

[caption caption="diambil dari artikel pada http://malesbanget.com/2015/05/dokter-juga-manusia-yang-bisa-tidur-di-jam-kerja/"][/caption]

Baru saja membaca berita online tentang kematian dokter di Cina setelah jaga 24 jam nonstop. Kemudian membaca komentar dan respon orang-orang yang membaca headline tersebut atau setidaknya mereka membaca judulnya. Ada yang berempati, ada yang membandingkan dengan potret dokter di Indonesia, ada juga yang menyebut “itu baru dokter beneran”. Busyeet, setelah kerja sampai mati baru disebut dokter beneran? O jadi gitu ya anggapan orang-orang bahwa dokter yang bekerja tak seekstrim itu, yang biasa-biasa saja, sesuai jam kerja atau kurang bukanlah dokter beneran, jadi sebutannya dokter jadi-jadian?dokter siluman?atau dokter-dokter serigala?

Terlepas dokter dari Cina tersebut mungkin memiliki riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan serangan jantung setelah jaga 24 jam, ataupun ada faktor resiko yang menyebabkan kematiannnya yang mendadak, faktanya dia meninggal setelah jaga 24 jam. Saya yakin nggak nonstop-nonstop amat, pastilah barang beberapa menit atau sejam atau lebih pasti dia terpejam, tidak ada yang bisa melawan bioritme tubuh untuk beristirahat dalam siklus harian. Sel-sel tubuh butuh istirahat sebagai fase pemulihan untuk dipergunakan kembali pada fase terjaga. Kejadian di Cina tersebut bukan untuk diteladani, atau malah mengarahkan supaya dokter Indonesia juga seperti itu. Tentang semangat dan dedikasi, ya bolehlah, itu contoh yang baik. Tetapi mengadopsi potret idealistis pun juga mestinya realistis. Bagaimana bisa menyelamatkan nyawa orang lain ataupun mengupayakan kesembuhan pasien jika kesehatan dokter sendiri tak dijaga? Seminim-minimnya tenaga dokter di suatu sarana kesehatan tidak semestinya membuatnya kerja rodi, ini tentu saja mengabaikan keselamatan kedua belah pihak. Baik dokter maupun pasien yang ditolongnya. Jika terjadi kecelakaan karena human error ujung-ujungnya berakibat tuntutan terhadap dokter, sudah pasien tak tertolong, dokternya pun di-bui-kan. Sangat tidak safety.

Sayangnya ada yang menginginkan demikian. Maksudnya menuntut dokter bekerja tak hanya bersimbah darah tetapi juga berdarah-darah dan mati-matian sampai mati beneran pun tak mengapa. Beneran lho. Sebelumnya saya sudah menulis tentang   Dokter, Duit dan Diagnosis, yang menuai komentar yang skeptis tentang dokter Indonesia, bahkan darimana saja sisi dijelaskan, menurut pandangannya tetap salah dan jelek. Dokter Indonesia salah, jelek, bodoh dan jahat. Dokter Indonesia itu kurang bekerja keras, menuntut penghasilan gede dan sulit dihukum jika terjerat kasus dugaan malpraktik. Dokter indonesia dianggap memiliki perilaku yang arogan, yang tidak peduli terhadap pasien BPJS, hingga menolak pasien. Buramnya berita yang disajikan media ditelan begitu saja, bahwa ada fakta pasien tertolak karena alasan-alasan tertentu yang disalahkan dokternya. Pasien bergelimpangan di selasar RS karena ruangan perawatan penuh, yang salah juga dokter. Obat-obatan di apotik RS tidak tersedia atau jumlahnya tak memadai, tertuduhnya dokter juga. Atau pasien tidak bisa bayar administrasi RS, itu pun dokter pula yang salah. Semuanya salah dokter. Dokter Indonesia sepertinya sudah disamakan dengan Presiden Jokowi, segala yang terjadi di Indonesia yang negatif, pasti salahnya Jokowi. Rakyat nggak bisa kentut pun itu salahnya Jokowi. Hebat. Maaf jika ada yang tersinggung, tetapi itu yang saya tangkap dari komentarnya yang out of the topic dari konten tulisan yang saya sajikan. Bodohnya saya tanggapi saja itu OOT-nya dan seperti saya duga, diresponi kembali sampai panjang dan bertele-tele. Maaf curhat colongan (curcol).

Kembali ke topik jam jaga dokter tentu tidak seragam di antara beberapa tempat. Normalnya dokter jaga memang diatur dengan sistem shift, sehari 3 shift. Itu shift jaga dokter umum. Untuk dokter ahli (spesialis) yang jumlahnya tak sebanyak dokter umum, persoalannya beda lagi. Mereka harus bertanggung jawab 24 jam dalam pelayanannya. Mungkin secara fisik mereka tak hadir di RS 24 jam, tetapi tanggung jawabnya untuk kasus-kasus yang digolongkan cito (emergency/gawat) mewajibkan mereka bertindak kapan pun, entah itu jam istirahat atau larut malam sekalipun. Kesehatan dan keselamatan diri digadaikan itu sudah biasa. Bukan berita menarik untuk diliput media, lain halnya jika ada dokter yang ketiduran saat jam jaga, itu berita bagus bagi media, redaksional judul dan foto-fotonya pasti akan sangat atraktif dan menggugah pembaca untuk mengklik link berita dengan penuh antusias

Bekerja di malam hari tentu bukan hal yang asing kita lihat. Banyak profesi mengharuskan pekerja di profesi tersebut melawan bioritme yaitu melek di malam hari, akan tetapi sebagai kompensasinya, dia bisa mengganti waktu istirahat pada siang hari. Supir nyetir kendaraan di malam hari esoknya dia tidur pulas beristirahat secukupnya. Bakul gudeg di Jogja yang diantri pengunjung mulai jam 9 malam hingga larut esoknya dia juga istirahat. Pekerja di Rumah Sakit pun demikian, para perawat memiliki jadwal jaga sehari 3 shift. Tetapi terkadang ini tak berlaku bagi dokter, khususnya dokter-dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis. Tidak tidur 36 jam sudah lumrah. Pada pagi hingga sore hari dia menunaikan tugasnya melayani kebutuhan pasien dalam hal memperoleh pengobatan ataupun perawatan. Malamnya jika jadwal gilirannya tiba dia harus berjaga hingga esok hari. Esok harinya kembali ke rutinitas menghadiri morning report, ilmiah pagi, dan dilanjutkan dengan pelayanan. Sore baru bisa pulang. Mereka melakoninya dengan alamiah, tak ada komplain maupun protes. Mereka menyadari itu sebagai bagian dari proses gemblengan bak di dalam kawah candradimuka. Tentu berbeda jika sudah berada di dunia kerja, hal-hal ekstrim begitu tak terjadi, shift kerja pasti berlaku.

Permasalahan mulai timbul saat orang lain menjumpai mereka tertidur di tempat-tempat yang tak semestinya, di atas meja, di kursi tunggu, di lantai lorong RS, ataupun di bed pasien yang kosong. Label yang melekati kondisi tersebut adalah dokter-dokter itu males, nggak profesional, tukang molor, dokter itu salah, salah, salah. Padahal mungkin mereka tertidur setelah harus melek 24 jam. Bagaimanapun takkan mungkin memaksakan seorang manusia normal untuk tidak tidur lebih dari 24 jam. Permasalahan lainnya adalah stamina yang sangat kendor tersebut menimbulkan error dalam pekerjaannya. Timbullah kecelakaan terhadap pasien, entah obatnya salah, tindakannya tidak sesuai prosedur, yang menyebabkan pasien tidak selamat. Mengerikan. Jika dokter ahli yang jumlahnya minim mengalaminya, dan tenaganya sangat dibutuhkan untuk kasus-kasus yang kebetulan sangat beruntun pada saat itu, alangkah malangnya. Malang bagi dokter yang harus menguras seluruh dayanya, tenaga, waktu, dan pikiran, juga malang bagi pasien, ditangani oleh dokter yang staminanya tidak prima dan rentan kesalahan tindakan. Beneran mau menggadaikan nasib seperti itu?

Istirahat itu wajib. Istirahat bukanlah hak ataupun imbalan karena sudah bekerja. Istirahat merupakan fase relaksasi dimana terjadi proses regenerasi dan perbaruan jaringan tubuh yang nantinya siap untuk re-create tenaga baru, pemikiran yang fresh untuk menghadapi pekerjaan yang stresful. Oleh karenanya tenaga baru, akal sehat yang segar, semangat yang ter-charge tak akan terbentuk tanpa recreation. Jika piknik sebagai bentuk rekreasi sebelumnya merupakan suatu pilihan, sebaiknya menjadi suatu kewajiban untuk profesi yang stresful, misalnya dokter. Karena istilahnya kewajiban, jika tak dilakukan tentu ada sanksinya. Jadi, dokter (dengan kriteria overduty) yang menolak istirahat atau piknik harus dikenai sanksi. Setuju?

Itu opini saja kok, syukur-syukur Pak Presiden membacanya. Jam kerja dalam seminggu perlu diperhitungkan betul, jika sudah over, harus stop. Itu tidak hanya berlaku di tempat dokter bekerja sebagai fulltimer, di klinik lain atau praktik pribadi pun diperhitungkan. Ini akan berbuntut pada masalah kenapa dokter bekerja hingga di tiga tempat, UUD deh. Ujung-ujungnya duit. Pendapatan di tempat kerja utama tidak memadai, sehingga harus mengepak sayap terbang ke tempat lain. Saya sendiri lebih senang bekerja di satu tempat saja dengan kompensasi gaji yang memadai (tetapi belum saya alami). Diluar jam kerja adalah untuk bersama keluarga. Itu reward yang tak terbandingkan dengan jasa medis. Eh curcol lagi, maaf. Tetangga sebelah sudah mengerti betul masalah ini, sehingga dokter digaji selayaknya, senilai jika dia memperoleh income dari tiga tempat, sehingga dokter loyal bekerja untuk satu tempat saja. Hasilnya, di negeri sebelah itu, service oriented, pasien-pasien puas dengan pelayanannya. Eh ternyata, orang Indonesia pun ngikut periksa ke sebelah, karena ingin mendapat pelayanan yang prima. Padahal dokter yang melayani tak sedikit yang lulusan dari fakultas kedokteran di Indonesia. Jadi apa?skill dan knowledge dokter Indonesia tak kalah, bahkan mungkin unggul, tetapi iklim pekerjaan dan reward di dunia medis di kedua negara sangat berbeda meski sama-sama negara beriklim tropis.

Wah, jadi panjang. Yang jelas sampai saat ini masih banyak dijumpai para dokter kurang piknik dalam arti sebenarnya, kebanyakan pada piknik colongan alias menggunakan moment-moment pertemuan ilmiah di suatu kota untuk sekalian berwisata. Tidak salah sih, jika itu bisa menjadi proses perbaruan diri baik fisik maupun spirit, tentu membuahkan kinerja yang optimal. Jika yang terjadi sebaliknya, tentu piknik yang seperti itu bukan suatu rekreasi yang mestinya menghasilkan manfaat bagi jasmani dan rohani. Yang penting juga, mestinya tak ada lagi kerja forsir dalam pekerjaan yang berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia. Piknik itu wajib. Dokter wajib piknik.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x