Pemerintahan

Surat Cinta untuk Sang Jenderal

9 Agustus 2018   18:20 Diperbarui: 9 Agustus 2018   18:20 405 0 0

Salam, Pak Budi Waseso semoga bapak sehat selalu. Saya sapa dengan Pak Buwas saja agar lebih akrab. Sebab demikianlah nama bapak kerap disebut media.

Bagaimana rasanya pak sudah tiga bulan menjalani amanah baru menjadi Dirut Perum Bulog? Pasti melelahkan. Bisa dibayangkan. Betapa repot mengurusi ratusan juta perut masyarakat Indonesia yang butuh nasi. Ibu saya saja kewalahan mengatur jatah makan di rumah, apalagi bapak?

Saya masih inget betul, semangat optimistik bapak ketika awal-awal dilantik. Sungguh menggugah. Bapak bilang di bawah kendali bapak Bulog akan tolak impor beras. Mendengar ucapan itu, saya takjub dan bangga dengan bapak. Artinya, negeri kita benar-benar mencapai swasembada. Syukurlah.

Tapi tak lama kemudian, saya tertegun. Sebuah berita di katadata.co.id bikin saya terhenyak. Media yang terbilang kredibel itu menyebut seperti ini, pak, "Mengutip situs resmi inatrade Kementerian Perdagangan tentang perizinan impor dan ekspor, pada 23 Juli 2018 Bulog  diketahui telah memperpanjang izin impor yang diberikan Kementerian Perdagangan sebesar 1 juta ton".

Isi lengkapnya bisa disimak melalui tautan berikut.

Yang lebih mengherankan lagi, diberita itu tertulis bahwa Bapak tidak mengakui data yang dilansir BPS tersebut. Apa benar bapak tidak tahu? Ah, mungkin bapak hanya lupa, sebab begitu banyak perkara yang menumpuk untuk bapak selesaikan. Tapi, entahlah. Saya tak mau berburuk sangka.

Jujur, saya nyaris tidak percaya membacanya. Mengapa bisa kita masih impor beras sebanyak itu? Dan yang paling membingungkan, bapak justru sering memberi pernyataan anti-impor. 

Padahal, Bulog lah yang melaksanakan keputusan impor itu. Bukan begitu, Pak? Misal, seperti yang tertayang pada berita ini.

Hal lain yang bikin saya tak habis pikir adalah harga beras yang masih melambung. Kata orang, ini akibat pasokan yang kurang. Bukankah negeri agraris ini kaya raya? Gemah ripah loh jinawi. Apa pertanian kita tidak mampu mencukupi kebutuhan pokok warganya sendiri? Apakah produksinya lemah? Kementerian Pertanian bilang kita surplus. 

Kalau tidak salah, bapak juga pernah menyatakan hal yang sama. Tapi bagaimana bisa? Kalau stok melimpah, harga beras bakal turun dong? Kata guru ekonomi saya saat di SMK begitu, Pak. Supply dan demand adalah penentu harga.

Lalu kemarin, saya juga membaca pernyataan bapak yang sangat yakin beras kita aman jelang musim kemarau tahun ini. Beritanya bisa diakses di sini.

Tapi di sisi lain, tak sedikit pula berita mengenai kekeringan di puluhan ribu hektare sawah, yang berpotensi menggagalkan panen. Seperti pada berita ini.

Pertanian Indonesia sedang tidak baik, Pak. Puso merajalela, gagal panen dimana-mana. Petani menjerit kesusahan. Tolong mereka, Pak. Ajak juga Kementan sebagai Kementerian yang bertanggung jawab. Saya melihat mereka kok klaim-klaim di media terus kalau pertanian Indonesia baik-baik saja. Heran.

Saya berharap, bapak tidak terseret dalam permainan klaim-klaim itu. Sangat sayang jika sampai terjadi. Reputasi baik yang sudah bapak bangun sejak dulu jangan sampai dipertaruhkan. Prestasi bapak yang sudah berderet itu, terlalu berharga untuk dihanguskan gara-gara terbawa arus glorifikasi tanpa bukti, seperti soal surplus beras itu. Bapak idola saya. Tak rela rasanya jika itu terjadi.

Terakhir, semoga Bapak sehat selalu dan tetap semangat menjalankan amanah bapak di Perum Bulog.