Mohon tunggu...
hendra donal silalahi
hendra donal silalahi Mohon Tunggu... suka menganalisa fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat

penyuka analisa politik, sepakbola,ekonomi,marketing dan militer

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Parapat, Nasibmu Kini

12 Juni 2019   10:51 Diperbarui: 12 Juni 2019   11:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Parapat adalah kota kecil setingkat kelurahan yang terletak di di pinggiran Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara. Parapat merupakan bagian dari kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. 

Dari tahun 80-an, Parapat sudah terkenal sebagai daerah tujuan wisata lokal dan mancanegara, penyebutan daerah inipun identik dengan "kota wisata Parapat", bukan hal yang aneh apabila mata pencaharian sebagian besar masyarakat disini bergerak di sektor jasa yang berhubungan dengan parawisata seperti usaha travel, money changer, guide, karyawan hotel dan banyak lagi jenis pekerjaan yang dihidupkan dari sektor pariwisata.

Tetapi untuk saat ini, julukan Kota Wisata Parapat mungkin harus dipertanyakan lagi, Parapat sudah kalah pamor dari "adik-adiknya" tujuan-tujuan wisata baru yang bermunculan di pinggiran Danau Toba, contoh paling dekatnya adalah pada saat libur Lebaran tahun ini, para wisatawan lebih memilih berlibur ke destinasi wisata lain seputaran Danau Toba, sementara Parapat tetap nyaman dengan kesepiannya.......preeettt.  

Sebagai orang yang lahir dan besar disana saya merasa prihatin dan miris melihat kondisi ini, rindu melihat Parapat yang hiruk pikuk dengan keramaian para wisatawan yang hilir mudik menikmati liburannya. 

Memang semenjak krisis moneter tahun 1998, geliat sektor pariwisata di Parapat tidak pernah pulih lagi seperti sediakala, tetapi faktor ini tidak relevan lagi pada saat ini, kita melihat destinasi wisata lama seperti Bali, Yokyakarta sudah pulih dan malah makin maju dibandingkan sebelum krisis moneter tahun 1998.

Apa yang salah dengan Parapat? padahal krisis Moneter sudah berlalu 20 tahun? Kenapa pariwisata Parapat tidak pernah lagi pulih seperti sebelum tahun 1998? Kenapa Parapat kalah dengan tujuan wisata lainnya yang terletak disekitar Danau Toba? 

Apa harus dilakukan warga Parapat? Sudah seharusnya Pemerintah Daerah dan warga Parapat menanyakan ini. Warga Parapat dan Pemda Simalungun harus gelisah dan kritis melihat kondisi ini.

Parapat memang harus berubah kalau tidak mau digilas zaman.  Bercermin dari Bali dan Yokyakarta, hal pertama yang harus dirubah adalah mental dan attitude para pelaku pariwisata disana, sebagian besar turis yang berwisata ke sana pasti pernah mengalami pengalaman buruk dengan hal ini, jamak dijumpai disana pedagang yang tidak ramah kepada pembeli, mematok harga sesuka hati, menipu timbangan, petugas parkir ilegal yang mematok tarif seenaknya, awak wahana air yang menipu harga dan durasi pemakaian, serta situasi yang tidak nyaman dengan banyaknya wisatawan yang kehilangan barang- barang pribadi yang berharga. 

Semua kelakuan buruk itu harus diubah dan harus. Pelaku pariwisata disana sudah harus mulai melakukan sesuatu yang membuat wisatawan nyaman, bukan sesuatu yang rumit seperti ramah kepada pengunjung, membuat label harga  untuk barang dagangan, wahana air , tarif parkir, mulai belajar lagi mengembalikan barang-barang wisatawan yang tertinggal di tempat kita, menjaga kebersihan sekitar kita.  Percayalah hal-hal tersebut akan berdampak sangat besar, dan itu bukan hal yang sulit karena yang kita lakukan ini adalah basic mental di semua sektor jasa, dimanapun itu.

Kalau pelaku wisata Parapat sudah dapat menerapkan basic mentality ini, untuk selanjutnya tinggal menantikan peran dari Pemerintah Daerah untuk  melakukan Program yang mendukung pariwisata Parapat ini. 

Melihat kondisi sekarang Parapat, hal pertama yang harus segera dilakukan Pemda dan memang sangat dibutuhkan Parapat adalah perbaikan fasilitas umum pendukung pariwisata seperti perbaikan jalan, pembangunan toilet umum, perbaikan lampu penerangan Jalan, pemasangan rambu jalan di lokasi wisata, saya sendiri melihat ada satu pantai disana,yang sering disebut orang sana Pantai Atsari mulai tahun 90-an sampai sekarang fasilitasnya tidak pernah mengalami perbaikan atapun pembangunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2