Don Zakiyamani
Don Zakiyamani Penulis

Sedang mengelola media belumtitik.com dan personal web https://www.donzakiyamani.co.id Wa: 081360360345

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Mengapa Prabowo-Sandi Kalah di Jatim dan Jateng?

13 Mei 2019   15:29 Diperbarui: 13 Mei 2019   15:35 160 0 1
Mengapa Prabowo-Sandi Kalah di Jatim dan Jateng?
Tandaseru.id

Prabowo-Sandi berharap rebound di Jawa Tengah setelah kalah hingga 8 juta pada pilpres 2014. Padahal Sandiaga Uno menyatakan memindahkan markaz pemenangan dari Jakarta ke Jawa Tengah. Tapi faktanya Prabowo-Sandi malah kalah telak di Jawa Tengah bahkan lebih buruk dari hasil 2014. Saya menilainya kekalahan telak tersebut akibat blunder. Hasrat ingin menggembosi suara PDIP di Jawa Tengah malah sebaliknya. 

Kader PDIP semakin semangat ketika markaz mereka diserang. Harusnya Prabowo-Sandi tetap memberlakukan daerah lain sama. Kalaupun ingin lebih baik di Jawa Tengah tak perlu mengumumkan di media apalagi sampai memindahkan markaz pemenangan. Kekalahan yang sama juga terjadi di Jawa Timur, markaz NU. Kekalahan yang sama juga terjadi pada 2014, Prabowo saat itu didukung pengurus PBNU. Wajar bila hasil kali ini lebih buruk mengingat PBNU condong ke Jokowi-Ma'ruf Amin.

Terlepas kesalahan strategi dan taktik, pasangan Prabowo-Sandi juga harus menghadapi isu khilafah. Dukungan dari ormas Islam atau anggota dari ormas yang berhaluan khilafah dianggap Prabowo-Sandi akan memperjuangkan khilafah. Isu tersebut cukup efektif membuat perolehan suara di dua daerah itu anjlok. Kenyataan itu tak bisa ditolak, bahkan isu khilafah mempengaruhi psikologis pemilih di LN. Prabowo-Sandi dianggap akan menghidupkan paham khilafah padahal itu hal yang mustahil dilakukan keduanya. 

Faktor yang tak kalah penting sehingga menjadi dasar mengapa Prabowo-Sandi kalah telak ialah tokoh di daerah tersebut. Prabowo-Sandi terlambat mengambil Dahlan Iskan, padahal ia punya pengaruh di Jawa Timur. Sementara di Jawa Tengah praktis Prabowo-Sandi tidak didukung tokoh mumpuni. Sebagaimana kata analis, yang juga sejalan dengan ucapan DN Aidit, "kuasai Jawa berarti kuasai Indonesia". Dan tampaknya hal itu masih berlaku hingga saat ini.

Kekalahan Prabowo-Sandi di markaz PDIP (Jawa Tengah) dan markaz NU (Jawa Timur) sejatinya sudah bisa diprediksi. Hanya, apakah bakal kalah telak atau tipis. Sepertinya Prabowo dan tim tidak belajar banyak dari pilpres 2014. 

Bahkan bisa dibilang kemunduran terjadi dalam pilpres kali ini. Kekalahan telak di Jatim dan Jateng tak bisa dibantu Propinsi lain. Tinggal mencocokan data, apakah pilpres di Jatim dan Jateng jauh dari kata curang. Bila tidak ada PSU di Jatim dan Jateng maka sudah bisa dipastikan Jokowi akan kembali memimpin Indonesia