Mohon tunggu...
Doddy Salman
Doddy Salman Mohon Tunggu... Dosen - pembaca yang masih belajar menulis

manusia sederhana yang selalu mencari pencerahan di tengah perjuangan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Antara Berqurban dan Berkorban

7 Agustus 2019   09:06 Diperbarui: 7 Agustus 2019   20:13 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setiap setahun sekali umat Islam seluruh jagad merayakan Idul Adha. Orang menyebutnya juga sebagai Idul Qurban. Istilah populer menyebutnya sebagai lebaran haji karena saat itulah para jamaah haji di Tanah suci melangsungkan ritual sebagai pelaksanaan rukun Islam ke-5.

Di tanah air Idul Qurban identik dengan pemotongan hewan kurban. Sapi, kambing, kerbau atau domba menjadi pilihan hewan yang akan disembelih. Daging hewan tersebut kemudian dibagikan kepada para mustahiq atau mereka yang berhak menerima.

Di kebanyakan negara khususnya Timur Tengah lebaran haji lebih ramai daripada lebaran Idul Fitri. Sambutan perayaan lebih meriah dan kaum muslim di sana turut berbahagia menyambut kedatangan Idul Adha. Kata Id Mubarak bergema di media sosial maupun lontaran sapaan.

Di Indonesia (mungkin juga negara asia tenggara lainnya) Idul Adha tak semeriah Idul Fitri. Saya juga kurang paham mengapa bisa demikian. Adat istiadat masyarakat memang dapat berbeda dan tidak ada salahnya sepanjang tak menyalahi aturan agama.

Meskipun demikian makna berkurban di mana pun tetap sama. Manusia diingatkan untuk  mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mendekatkan diri kepada sesama manusia. 

Arti harfiah qurban sendiri adalah "mendekatkan".Menurut pemikir Persia Ali Syariati hakikat berkurban adalah menyembelih segala kendala yang menghalangi "perjalanan" menuju Tuhan. Semua sifat binatang pada diri manusia harus "disembelih" sehingga yang tersisa adalah sifat kemanusiaan.

Dalam kehidupan sehari-hari kata pengorbanan begitu sering terlihat daripada terucapkan. Ada pengorbanan orangtua kepada keluarganya, pengorbanan guru kepada muridnya, pengorbanan murid untuk mencapai cita-citanya dan lain sebagainya.

Pengorbanan paling dekat dan sangat terasa mungkin adalah pengorbanan orangtua kepada anaknya. Sang bapak bekerja mencari nafkah agar anak istrinya berkehidupan dengan layak. 

Sang ibu mengelola rumah tangga agar suami dan anak-anaknya hidup nyaman dalam keseharian. Mereka berkorban tanpa memposisikan sebagai kewajiban melainkan ketulusan. Tak diminta balasan. Tak bersifat transaksional.Orangtua sadar mereka memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah anaknya.

Anak-anak awalnya mungkin tak pernah sadar pengorbanan orangtua. Namun pasti ada suatu waktu yang membuat kesadaran itu muncul. Saat orangtua tiada misalnya.

 Kita meneteskan air mata bukan karena tak rela mereka pergi. Namun karena teringat dan tersadar betapa besar dan banyak pengorbanan mereka dalam merawat dan membimbing kita sedari kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun