Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis masalah arkeologi, sejarah, museum, budaya, numismatik, astrologi, dan palmistri

Arkeolog mandiri, penulis, bloger, komunitas KPBMI, kolektor, pemerhati (astrologi dan palmistri). Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perploncoan pada Masa Kolonial, Junior Menjadi Kurir Para Senior

19 September 2020   17:17 Diperbarui: 20 September 2020   21:33 564 15 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perploncoan pada Masa Kolonial, Junior Menjadi Kurir Para Senior
Siswa STOVIA 1902 (Foto: muskitnas.net)

Sepanjang sejarah pendidikan di Indonesia, baru kali ini perploncoan dilakukan secara daring. Maklum, sekarang masih dalam kondisi gawat manakala pandemi Covid belum berakhir. 

Banyak hal  dilakukan dari rumah, demi memutus mata rantai penyebaran Covid. Apalagi saat ini teknologi sudah berkembang sehingga memungkinkan bekerja atau belajar jarak jauh.

Namun, hal-hal yang tidak terduga kerap muncul. Beberapa hari ini muncul video viral tentang perploncoan. Ada mahasiswi baru yang dibentak seniornya. Ia harus mencoret wajah sendiri dengan lipstik.

Ada juga perploncoan luring ketika mahasiswa baru diminta para senior untuk meminum dan melepehkan air di satu gelas yang sama. Selanjutnya gelas itu diberikan kepada mahasiswa baru lain di sebelahnya.

Pasti masih banyak mahasiswa baru yang 'dikerjain' senior-senior mereka. Namun sampai sejauh ini belum beredar ke masyarakat.

Buku Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926 (koleksi pribadi)
Buku Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926 (koleksi pribadi)
Tidak mendidik

Perploncoan demikian jelas tidak mendidik. Dari tahun ke tahun perploncoan memang selalu ada, dengan nama atau istilah yang berbeda.

Dulu waktu saya kuliah namanya OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Sebelumnya dikenal dengan istilah Mapram (Masa Prabakti Mahasiswa).

Plonco identik dengan kepala gundul (untuk pria) dan rambut dengan pita warna-warni (untuk wanita). Mereka membawa pengki bambu dan karung goni.

Saya ingat pernah beberapa hari mengikuti OSPEK. Memang mengesalkan dan membuat repot seisi rumah.

Bayangkan, kaos putih harus diberi warna kuning. Untuk itu seisi rumah harus mencari wantex (semacam zat pewarna) ke sana ke mari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x