Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Upaya Menjadikan Ulos sebagai Warisan Tak Benda Dunia

12 November 2019   21:00 Diperbarui: 12 November 2019   21:06 0 2 2 Mohon Tunggu...
Upaya Menjadikan Ulos sebagai Warisan Tak Benda Dunia
Menenun ulos di sela pameran (Dokpri)

Ulos memang diidentikkan dengan suku Batak. Sampai sekarang masyarakat Batak dari berbagai agama masih menggunakan kain ulos untuk fungsi sakral dan fungsi simbolik dalam upacara adat. Bahkan ada kegiatan mangulosi untuk keluarga dan tamu kehormatan sebagai pelambang kasih sayang, harapan kebaikan, maupun pemberian restu.

Ketika zaman terus berputar, ulos digunakan untuk kepentingan profan, yakni dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai produk fashion bernilai seni. Saya pernah melihat ada tas wanita yang dibuat dari ulos. Inilah salah satu bentuk fashion tersebut.

Berbagai jenis ulos dalam ruang pameran (Dokpri)
Berbagai jenis ulos dalam ruang pameran (Dokpri)
Festival Ulos
Rupanya ulos sudah dikenal di mana-mana. Maka kemudian Pusat Habatakon atau Batak Center memandang perlu untuk mengenalkan secara utuh motif dan makna dalam ulos. Jadilah program Ulos Fest 2019 yang diselenggarakan di Museum Nasional pada 12 November sampai 17 November 2019 ini.

Ulos Fest 2019 menampilkan beberapa kegiatan, yakni pameran, seminar, diskusi, pergelaran busana, jelajah museum, atraksi seni dan tortor, dan bazar. Dengan mengetahui konsep "Motif, Ragam, dan Makna Ulos", diharapkan masyarakat dapat memahami pula ragam pemanfaatan ulos.

Acara Ulos Fest diisi sambutan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi. Beliau mengatakan, tidak hanya rupa ulos yang indah, adat istiadat di balik pemakaian ulos pada suku Batak juga sangat unik.

"Mau menikah, laki-laki ulosnya beda. Bapak datangi orang kawinan, karena bapak dari luar (keluarga luar) ulosnya beda," kata Pak Edy. Ulos sendiri ada 16 jenis, antara lain Ulos Bintang Maratur, Ulos Mangiring, Ulos Ragi Hotang, dan Ulos Ragi Huting. Setiap ulos ditandai motif tertentu yang menunjukkan makna. Ulos digunakan pada daur hidup manusia, mulai kelahiran hingga kematian.

Pak Edy berharap agar seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Batak, mendukung upaya menjadikan ulos sebagai salah satu warisan budaya tidak benda dunia.  Ulos Toba pernah mendapat sertifikat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 14 Oktober 2014.

Pembukaan Ulos Fest dilakukan oleh Ketua MPR RI Pak Bambang Soesatyo. Beliau merasa terkesan dengan ulos tapi belum pernah mengunjungi Pulau Samosir dengan Danau Tobanya.

Setelah mengunjungi ruang pameran, acara dilanjutkan dengan seminar ulos. Tampil sebagai pembicara perancang Edward Hutabarat, Binsar Manullang dari Kemdikbud, Ira Telaumbanua dari Disparbud Sumut, dan Jerry R. Sirait dari Batak Center.

ulos-04-5dcab8f6d541df2b30741b24.jpg
ulos-04-5dcab8f6d541df2b30741b24.jpg
Batak Center
Menurut Ketua Panitia Ulos Fest Jhohannes Marbun, Batak Center didirikan pada 18 Agustus 2018 di Jakarta. Joe sendiri duduk di Departemen Pelestarian Warisan Budaya. Visi Batak Center adalah terwujudnya masyarakat Batak Raya yang mampu melestarikan dan mengembangkan budaya dan peradaban Batak yang modern demi kemajuan dan martabat suku Batak sebagai bagian integral dari Bangsa Indonesia dan masyarakat dunia.

Selain Ulos Fest, pada saat bersamaan di Museum Nasional diselenggarakan Indonesian Art Festival, Pesta Seni Rupa Indonesia 2019 pada 9-18 Nobember 2019. Kegiatan dalam ajang ini berupa pameran, bazar lukisan, workshop membatik dan seni lukis, pojok seni, dan panggung hiburan. Ada sekitar 200 seniman lukis dan patung memamerkan karya mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x