Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pekerja mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Melihat Pustaha Laklak dan Benda Budaya Batak Kuno di Museum Batak

25 November 2017   08:40 Diperbarui: 25 November 2017   09:53 0 1 0 Mohon Tunggu...
Melihat Pustaha Laklak dan Benda Budaya Batak Kuno di Museum Batak
Salah satu ruang pameran di Museum Batak (Dokpri)

Danau Toba sudah dikenal luas oleh masyarakat. Bandar Udara Silangit yang bertaraf internasional baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat, 24 November 2017 lalu. Nah, di dekat Danau Toba dan Bandar Udara Silangit itu terdapat sebuah museum.

Namanya Museum Batak TB Silalahi Center. Memang ada dua museum di sana. Yang lebih bersifat umum disebut Museum Batak. Sementara TB Silalahi Center lebih bersifat pribadi, karena itu diberi nama Museum Jejak Langkah dan Sejarah TB Silalahi.

Museum bernaung di bawah yayasan yang didirikan oleh Letjen TNI (Purn) Dr. Tiopan Bernhard Silalahi, begitulah nama lengkap TB Silalahi, berdasarkan akta tahun 2006 dan 2007. Pak Tebe, demikian panggilan akrabnya, pernah menjabat Menteri PAN periode 1993-1998.

Gedung Museum Batak (Dokpri)
Gedung Museum Batak (Dokpri)
Budaya Batak

Museum itu didirikan untuk melestarikan budaya Batak, seperti tulisan Batak, bahasa Batak, gondang Batak, pakaian Batak, adat Batak, dan penggunaan marga. Selain itu untuk menyatukan keenam puak etnis Batak yang ada di Sumatera Utara, yakni Batak Toba, Simalungun, Mandailing, Angkola, Pakpak, dan Karo.

Bangunan museum didesain megah tetapi tetap memiliki motif gorga. Diharapkan melalui filosofi motif ini, orang Batak dapat menyebar ke seluruh dunia, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya Batak.  

Museum Batak didirikan pada 7 Agustus 2006 dan diresmikan pada 17 April 2008 oleh Letjen (Purn) TB Silalahi. Peresmian museum dilakukan pada 18 Januari 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Komplek TB Silalahi Center berdiri di areal seluas lima hektar. Gedung inti memiliki tiga lantai.  Khazanah kekayaan alam Sumatera Utara dengan hamparan Danau Toba dan lanskap Balige, jelas terlihat dari lantai 2 dan 3 gedung ini.

Koleksi Pustaha Laklak dan benda budaya lain (Dokpri)
Koleksi Pustaha Laklak dan benda budaya lain (Dokpri)
Koleksi museum

Di bagian dalam Museum Batak tersimpan beragam bentuk benda budaya Batak, antara lain senjata dan pakaian adat. Pada prinsipnya koleksi yang dipamerkan dikelompokkan berdasarkan tema tertentu, yakni arsitektur, aksara dan sastra, karya seni, religi dan upacara adat, serta peralatan sehari-hari.

Ada Pustaha Laklak yang berbentuk unik. Pustaha Laklak bertuliskan aksara Batak tentang ramuan obat, pantun, dan hukum. Ada lagi replika Piso Gajah Dompak milik Sisingamangaraja XII. Hasapi, salah satu alat musik petik tradisional Batak, juga bisa dilihat di sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2