Mohon tunggu...
Djohan Suryana
Djohan Suryana Mohon Tunggu... Pensiunan pegawai swasta

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Persahabatan 60 Tahun, Itulah Guyub FEUI 1959

16 Oktober 2019   21:48 Diperbarui: 17 Oktober 2019   04:29 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tanpa terasa waktu telah berlalu dengan cepat. Enam puluh tahun sudah anggota Paguyuban Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Angkatan 1959 (Guyub FEUI 1959) telah menjalin persahabatan, yang dimulai  ketika harus mengikuti Pekan Hijau Senat Mahasiswa FEUI pada tanggal 15 sampai dengan 29 September 1959. Pekan Hijau yang tidak akan dilupakan seumur hidup, dimana semua calon mahasiswa FEUI digembleng habis-habisan, dimana persahabatan sejati telah terikat erat sampai saat ini. Pada saat itu Ketua Panitia Pekan Hijau adalah Rudy Lengkong dan Ketua Senat Mahasiswa FEUI adalah Moeswar Djamal. 

Berdasarkan buku kecil yang diterbitkan oleh Pengurus Guyub FEUI 1959 periode 2010 -2012, sisa anggota Guyub yang terdaftar pada tahun 2011 adalah 45 orang. Dan terakhir Pengurus Guyub periode 2015 - 2017 menerbitkan buku kecil yang baru, jumlah anggotanya telah menurun menjadi 39 orang. Sedangkan yang aktif hadir dalam setiap pertemuan yang diadakan 3 atau 4 bulan sekali sekitar 30 an orang, termasuk pasangannya yang ikut hadir. 

Paguyuban ini pada awalnya terbentuk berkat kegigihan dan kerja keras Andriza Soedradjat, 78, yang pada sekitar tahun 1999 secara aktif menghubungi para alumni FEUI Angkatan 1959 sehingga pada akhirnya terbentuklah  sebuah Paguyuban seperti dalam bentuknya yang sekarang, Guyub FEUI 1959. Sayang sekali, Andriza berhalangan hadir dalam acara ini karena saudara sepupunya meninggal dan dimakamkan pada hari ini.

Kali ini pertemuan Guyub FEUI 1959 diadakan pada tanggal 16 Oktober 2019 bertempat di Little Amaroossa Residence, Jalan Cipete Raya 5, Cilandak, Jakarta Selatan. Resto ini dimiliki oleh Amalia Rooseno, 79, anggota Guyub FEUI 1959, yang juga memiliki enam hotel lainnya dengan bendera Amaroossa yang terletak di Bekasi, Bogor, Bali dan Jakarta. Acara ini dihadiri oleh 30 orang dan berlangsung dengan meriah walaupun tanpa acara musik yang mengiringi yang biasanya ditampilkan oleh penyanyi dadakan anggota Guyub FEUI 1959.

Acara dibuka oleh Pungki Nursenosidi,81, Bendahara, diiringi dengan kata sambutan oleh Ansye Saribanon Sapi'i, 79, Ketua, yang menyatakan kegembiraannya kepada para anggota sebab walaupun usia sudah hampir 80 an tetapi masih tetap bersemangat untuk hadir dalam pertemuan ini, bahkan, walaupun dengan memakai tongkat  dan berjalan tertatih-tatih seperti Agus Subagio, 80, dan Radja Sitorus, 81, masih menyempatkan diri untuk hadir di tempat ini, bertemu dengan sahabat-sahabat lama mereka untuk melepas rasa kangen yang selama 4 bulan terpendam. 

Sedangkan Wisnoe Lohanatha, 81, yang biasanya hadir bersama kursi rodanya, tidak bisa ikutan karena saat ini masih berada di Perth, Australia, sedang menjalani pengobatan sampai dengan akhir Oktober 2019. Demikian pula dengan Haridadi Sudjono, 79, dan Djoko Moersid, 79, tidak bisa hadir karena masih menjalani perawatan di rumahnya setelah beberapa waktu yang lalu sempat diopname di RSUP Fatmawati. 

Dan yang paling mendukakan hati adalah meninggalnya Soedarjono, 80, pada tanggal 28 Agustus 2019 yang lalu. Soedarjono yang lembut hati adalah mantan Ketua Guyub periode 2015-2017, mantan Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (1994-1998), mantan Ketua BPKP (1993-1999), mantan Komisaris Bank Mandiri (1998-2010) dan mantan Komisaris Bank Rakyat Indonesia (2010-2011). Ia merupakan salah seorang alumnus FEUI Angkatan 1959 yang telah memberikan dharma baktinya kepada negara dalam berbagai jabatan yang strategis. Alumnus lainnya yang patut disebutkan adalah Mar'ie Muhammad, mantan Direktur Jenderal Pajak dan Menteri Keuangan RI pada tahun 1990 an yang juga telah dipanggil oleh Sang Chalik pada tanggal 11 Desember 2016.

Dalam sebuah perbincangan dengan Moehardjo Soekartono, 79, ternyata ia masih sangat concern mengenai pendidikan di Indonesia yang tampaknya teringgal oleh negara-negara lain yang lebih fokus kepada pengembangan keterampilan dan spesialisasi cabang ilmu pengetahuan yang terarah sesuai dengan bakat serta kemampuan anak didiknya. Kita akan maju dalam pendidikan kalau kita lebih mementingkan kecerdasan daripada kepintaran tanpa menyepelekan pendidikan budi pekerti dan moral bangsa. Karena dengan sistem pendidikan yang sekarang yang tampaknya lebih mementingkan kepintaran daripada kecerdasan, maka tenaga kerja kita akan sulit bersaing dengan negara-negara lain sebab kita terlalu pintar dalam berteori diatas kertas daripada praktek di lapangan yang nyata.

Moehardjo memiliki sebuah lembaga pendidikan, LP3I Course Centre (LCC) di Jombang, Jawa Timur. LCC adalah sebuah lembaga pendidikan swasta dalam bidang bimbingan belajar (bimbel) aplikasi bisnis industri terutama teknologi informasi yang membantu para lulusannya langsung memperoleh pekerjaan melalui program khusus, yaitu KPK (Kuliah Pasti Kerja). LCC berpusat di Jakarta dan memiliki afiliasi di Surabaya, Malang, Semarang, Bandung, dan kota-kota lain di Indonesia. Moehardjo sendiri adalah mantan pejabat tinggi keuangan perusahaan migas USA, Exxon Mobil (1978-2002).

Dalam kesempatan ini pula, Rahardjo Jamtomo, 79, dan yang sekarang masih aktif dalam jabatan sebagai Direktur Eksekutif KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) secara singkat memberikan pemaparan mengenai situasi ekonomi Indonesia dengan latar belakang kemelut globalisasi seperti perang dagang antara Amerika dan China yang masih terus berlanjut, kemelut politik dan ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika, Turki, Saudi Arabia,  Eropa dan Suriah ditambah dengan kelesuan ekonomi yang dialami oleh negara-negara G 20. Menurut pendapatnya, secara keseluruhan perekonomian Indonesia masih bisa bertahan ditengah ancaman resesi dunia karena faktor fiskal dan moneter masih cukup kuat untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk seperti krisis finansial yang pernah terjadi pada tahun 2008.

Sementara itu Kartomo Wiryobroto, 78, mempunyai keinginan yang praktis dan mengejutkan, yaitu : "Kalau bisa sakit hari Senin, Selasa sudah meninggal...." Pesimistis atau optimistis ? Hidup atau mati berada di tangan Tuhan, tetapi tidak ada salahnya mempunyai keinginan sendiri, bukan ?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x