Mohon tunggu...
Djati Prasetyo Dwi Putranto
Djati Prasetyo Dwi Putranto Mohon Tunggu... Siswa yang merangkak menuju predikat Maha

Mahasiswa Sastra Jawa yang sedang belajar menulis lepas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kilas Balik: Mengenang 5 Tahun Profesor Simuh

27 Mei 2020   07:21 Diperbarui: 2 Juni 2020   05:44 96 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kilas Balik: Mengenang 5 Tahun Profesor Simuh
Ilustrasi Simuh Pakar Sufisme Jawa | perspektifbaru.com

“Ibu kami meninggal sewaktu adik perempuan kami berusia 1 tahun. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana wajah Ibu kami yang tercinta itu. Mungkin kakak perempuan kami yang dapat mengenalnya, Kami ingat dia menangis keras-keras sewaktu Ibu kami meninggal”.

Begitulah kiranya salah satu dari rangkaian kalimat yang sempat dituturkan Simuh, pada kesempatannya menyampaikan sambutan di balik mimbar pengukuhan guru besar IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta (kini UIN). Lahir dari keluarga petani, tak menyurutkan semangat Simuh kala itu untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tak tanggung-tanggung, gelar doctoral di Canberra University, Australia pada tahun 1963 diraihnya dengan hasil disertasi: “Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ronggowarsito: Studi tentang Wirid Hidayat Jati”.

Tentu pencapaian prestasinya ini tak lepas dari pengalaman masa lalu dan buah dari hasil didikan Supoyo, Ayah Simuh, yang sangat keras dan mempunyai keinginan yang tinggi dalam mendidik anak-anaknya, terutama anak laki-laki. “… Ayah kami tidak pernah bersekolah namun bisa membaca kitab kuning”. Selama ini, Simuh terkenal sebagai pakar kajian tasawuf Islam Jawa . Sejumlah buku yang Ia tulis banyak mengulas tema-tema sufisme dan mistisisme dalam tradisi Islam Jawa. Namun, siapakah Simuh sesungguhnya?

Masa Kecil Simuh 

Lahir di Kota Yogyakarta, 3 Juni 1933 dari sepasang keluarga kecil di kaki Gunung Merapi. Simuh kecil tak begitu mengingat rupa Ibunya kala itu. Yang Ia ingat hanya kenyataan bahwa isak tangis yang pecah dari mulut kakak perempuannya itu, ketika Tuhan Yang Maha Esa menjemput ibundanya untuk selama-lamanya. 

“Ibu kami meninggal sewaktu adik perempuan kami berusia 1 tahun. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana wajah Ibu kami yang tercinta itu. Mungkin kakak perempuan kami yang dapat mengenalnya, Kami ingat dia menangis keras-keras sewaktu Ibu kami meninggal.”

Kemudian Simuh menuturkan kembali kenangan masa kecilnya yang lain, “… Ibu tiri kami adalah orang yang tidak beranak (gabuk, mandul), karena tidak beranak, maka ibu kami agak keras wataknya dan mudah tersingung bila kami agak berani menentang perintahnya, di membentak dan menangis kelara-lara; mengatakan: “endah-endah anal ora le ngeden dewe, ya maneni wong tua’ maka sejak kanak-kanak kami terpaksa harus berlatih sabar agar tidak menyingggung perassan orang lain, Walaupun agak keras watak nya ibu tiri kami sangat ulet bekerja bakul tembakau, bakul beras dan sebagainya.”

Simuh kecil juga berkesempatan mengenyam pendidikan formal, meski begitu keras rintangan yang Ia hadapi kala itu. Bersekolah di SR (Sekolah Rakyat) di kampung kelahirannya dan berhasil menuntaskan pendidikannya di tahun 1945. Simuh menceritakan pengalaman sekolahnya pada zaman penjajahan kala itu. 

Simuh terpaksa pindah sekolah dua kali dikarenakan jarak rumah menuju sekolahnya yang terlampau jauh dan melewati beberapa desa tetangga. Namun siapa sangka, Simuh kecil juga pernah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan tatkala ia harus melintasi desa-desa tetangga sepulang sekolah. 

Simuh kerap kali di-bebeda (dikerjai) oleh anak-anak yang lebih besar, “… Kami sering di kejar-kejar, bahkan kami pernah ditanam hidup-hidup. Lalu kami tidak mau sekolah lagi". Ia kemudian dipindahkan ke Sekolah Kesultanan. Simuh juga menceritakan proses pendidikan waktu itu. “… Waktu zaman penjajahan Belanda terkadang Guru sangat keras, kami masih ingat disuruh menirukan membuat angka lima di papan tulis di depan kelas, tidak bisa angkanya selalu kami tidurkan menulisnya. Akibatnya kami dibentak-bentak dan dikeplaki sampai menangis di depan kelas”.

Setelah lulus, Simuh melanjutkan Pendidikan menengah pertama yang pada waktu itu disebut MULO. Namun menjelang kenaikan dari kelas 2 menuju kelas 3, Simuh remaja terpaksa harus berhenti untuk tidak bersekolah akibat dari gejolak perang kemerdekaan melawan penjajah (agresi militer Belanda II). 

Atas dasar keinginannya yang kuat untuk melanjutkan pendidikan, maka setelah disetujui kembalinya Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta (Perjanjian Roem-Royen), Simuh kembali melanjutkan sekolah ke kelas 3 SMP. Pada tahun 1953 Simuh berhasil menuntaskan pendidikan di SMA Kota Baru Yogyakarta.

Pernah Gagal Menjadi Mahasiswa UGM

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x