Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Merindukan Sosok Menteri seperti Baharuddin Lopa

9 Juli 2019   18:00 Diperbarui: 10 Juli 2019   06:35 0 10 6 Mohon Tunggu...
Merindukan Sosok Menteri seperti Baharuddin Lopa
Baharuddin Lopa dan Hoegeng, Sosok Berani Melawan Arus (Sumber: republikkaummiskin.blogspot.com)

Selama ini kita sering terjebak pada pola pikir bahwa orang pintar selalu dapat menyelesaikan masalah dan orang muda selalu membawa semangat baru. Stereotip tersebut selalu dibawa-bawa termasuk dalam menentukan sosok menteri yang akan dipilih pakde Jokowi. Sosok milenial dan pintar selalu dikedepankan dalam memilih menteri, disamping tentunya tetap harus mengakomodasi kepentingan partai pendukung dan berbagai kepentingan lainnya.

Sayangnya, sungguh amat sayang, tidak ada satupun, bahkan penulis di Kompasiana, yang mengedepankan sosok berintegritas, jujur dan berani. Padahal sosok seperti inilah yang harus dan mutlak dikedepankan dalam memilih pembantu presiden. Kita lebih terpesona pada sosok muda, pintar, dan sukses dalam membangun usahanya. Tapi tak satupun mencoba untuk menyelidiki integritas, kejujuran, dan keberaniannya.

Jangan lupa, para penghuni Sukamiskin sebagian besar adalah lulusan S2, bahkan doktor, ada pula yang masih muda juga. Semisal RR mantan kepala SKK Migas yang sebelumnya merupakan dosen salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, lalu ada HN mantan direktur Merpati Nusantara termuda, AU mantan ketua partai Demokrat yang juga masih berusia muda.

Masih banyak contoh-contoh lain betapa orang pintar dan orang muda ternyata juga mudah tersangkut kasus korupsi, terakhir KA mantan dirut Pertamina yang divonis 8 tahun penjara, dan SB mantan Dirut PLN yang menjadi tersangka dan sedang dalam proses pengadilan.

Kita pernah mengenal sosok Kapolri Hoegeng yang terkenal karena kejujuran dan keberaniannya. Demikian pula sosok Baharuddin Lopa yang pernah menjadi Menkumham dan Jaksa Agung di era Gus Dur.

Saya tak perlu menceritakan lagi bagaimana kejujuran dan keberaniannya melawan arus deras karena kita bisa minta bantuan mbah gugel. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kedua sosok tersebut merupakan barang langka yang pernah dimiliki negeri ini.

Sebenarnya banyak orang yang berintegritas, jujur, dan berani baik di dalam maupun di luar pemerintahan. Namun sayangnya banyak di antara mereka tidak dikenal karena tidak diberi peran penting baik oleh institusi atau partainya. Bahkan orang-orang seperti itu justru 'dimusuhi' oleh lingkungannya sendiri sehingga tidak bisa berkembang karirnya. Hanya satu dua orang saja yang dibiarkan tumbuh sebagai contoh bahwa masih ada 'orang jujur' dalam institusinya. Selebihnya, ya tahu sama tahu lah.

Pintar dan muda boleh-boleh saja menjadi salah satu kriteria untuk menjadi menteri. Namun saat ini yang diperlukan adalah menteri yang berintegritas, jujur, dan berani menghadapi arus besar berbagai kepentingan, terutama kepentingan partai-partai pendukung dan para pihak yang merasa berjasa membawa pakde Jokowi ke periode kedua.

Berbeda kondisinya dengan 2014, gerbong yang dibawa Jokowi kali ini cukup besar dan harus bisa diakomodasi kalau tidak ingin diganggu. Selama tidak melanggar aturan sebenarnya sih sah-sah saja, namun tetap saja ada pihak yang masih coba-coba untuk memanfaatkan pengaruh dan kekuasaan beliau. Untuk diperlukan sosok seperti Hoegeng atau Lopa yang berani melawan siapapun yang bertentangan dengan aturan hukum.

Jujur dan berintegritas saja tidaklah cukup, perlu keberanian tinggi menghadapi berbagai tekanan bahkan hingga ancaman fisik yang membayangi setiap saat. Taruhan jabatan mungkin tak seberapa dibanding taruhan nyawa, namun itulah yang harus dimiliki oleh calon-calon menteri pada periode kedua ini. Ketahanan mental terhadap tekanan tinggi merupakan syarat utama keberhasilan seorang menteri dibanding pintar apalagi muda.

Saya sendiri merekomendasikan Susi dan Jonan masih bertahan pada posisinya karena hanya merekalah yang sosoknya agak mendekati Lopa. Sementara untuk anak muda, apalagi milenial, saya belum melihat potensi keberanian yang dimilikinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2