Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kasus Turis Thailand, Puncak dari Buruknya Pariwisata Indonesia

5 Juli 2019   10:29 Diperbarui: 5 Juli 2019   16:09 0 14 7 Mohon Tunggu...
Kasus Turis Thailand, Puncak dari Buruknya Pariwisata Indonesia
Indahnya Alam Indonesia (Dokpri)

"Ada mafia di sini yang tidak bersahabat dengan wisatawan. Saya tidak akan kembali lagi. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan wisatawan seperti ini. I can't take Gojex here I must use them service they ask me 550000 IDR per car from Probolinggo to Bromo tpp expensive gojek ask me only 300000 IDR per car when i walk far away from them but them take motorcycle to block and will attack me.
I must tell them that i will sleep here at Probolinggo not go anywhere. But them found me at Cemeru Lawang and must use them service I pay 40000 IDR per person Them send me at Bayuangga again dan give me 60,000 IDR to Surabaya if not pay they May attack me. Why too expensive I take bus from Banyuwangi to Probolinggo 35000 IDR but bus from Probolinggo to Surabaya 60000 IDR. So I run escape Mafia and can take bus to surabaya only 25.000 IDR," Sumber: kompas.com

* * * *
Pemalakan, baik secara halus maupun kasar, sepertinya sudah mendarah daging dalam industri pariwisata kita. Kita selalu menganggap wisatawan baik domestik maupun asing adalah orang kaya yang akan menghambur-hamburkan uangnya di tempat wisata

Padahal di era teknologi informasi 4.0 sekarang ini, berwisata bukan lagi monopoli orang kaya. Kemudahan membeli tiket dan pesan hotel online membuat semua orang, tanpa memandang miskin atau kaya, dengan mudah berwisata ke mana saja selama masih sanggup membayar baik tunai maupun dicicil.

Sebagai travellers, saya sudah sering mengalami hal serupa seperti yang ditulis turis Thailand tersebut. Mulai dari bandara yang restricted untuk transportasi lain dari luar bandara, sewa kendaraan di luar batas kewajaran bila menuju obyek wisata tertentu, tarif masuk yang tidak jelas terutama pada obyek wisata yang dikelola pribadi atau bukan pemerintah, tukang parkir yang mematok ongkos tinggi, makanan yang mahal, hingga toko-toko suvenir yang memaksa membeli barang mereka.

Contoh-contohnya sudah banyak, seperti tarif masuk pantai di Anyer yang pernah mencapai 100 Ribu per kendaraan, tiket masuk Bromo yang sudah mahal tapi karcis yang diberikan berkurang satu, ojek merangkap pemandu wisata di Kawah Drajat yang memalak dengan dalih menunjukkan jalan, makan seharga 500 Ribu untuk tiga orang, hingga ibu-ibu penjual kaos di Kintamani yang memaksa beli barangnya. Mahalnya tiket pesawat turut memperparah keadaan yang membuat orang semakin malas berwisata di dalam negeri.

Kalau boleh jujur, saya merasa lebih nyaman berwisata di luar negeri daripada di negeri sendiri. Bukan tidak cinta, tapi karena hilangnya rasa nyaman dan aman saat berwisata karena berbagai gangguan seperti telah disebutkan di atas. 

Nyaris tidak ada keramahan dari penduduk lokal kecuali kita mau mengeluarkan uang banyak buat mereka. Seolah-olah wisatawan itu seperti raja minyak yang harus 'diporotin' sampai habis uangnya.

Sayang sekali indahnya alam dan budaya Indonesia dikotori oleh perilaku sebagian atau oknum penduduk lokal yang hanya mengejar Rupiah tanpa berpikir panjang dampak ikutan yang terjadi. 

Padahal Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi bisnis pariwisata, apapun bisa jadi uang asal dikelola dengan baik seperti Dukuh Ponggok di Klaten.

Memang harus diakui, pemerintah kurang memberdayakan dan mengedukasi penduduk lokal bagaimana melayani wisatawan agar betah berlama-lama di tempatnya. Persoalan klasik kemiskinan menjadi akar segala masalah yang berujung pada tindakan pemalakan seperti yang dialami oleh turis Thailand dan turis-turis lainnya selama ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2