Dizzman
Dizzman Abdee Negara

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Debat Pilpres yang Tertukar

19 Maret 2019   13:28 Diperbarui: 20 Maret 2019   08:36 2165 17 14
Debat Pilpres yang Tertukar
Jokowi vs Sandiaga (Sumber: suratkabar.id)

Pilpres 2019 ini tergolong unik, karena masing-masing pasangan merupakan kombinasi generasi tua-muda dan milenial-konservatif. Capres 01 yang bergaya milenial justru berpasangan dengan cawapres yang konservatif dan kuno. Sementara Capres 02 yang bergaya orde baru, ortu zaman dulu, malah berpasangan dengan cawapres milenial.

Sebuah antiklimaks sebenarnya ketika capres petahana memilih pasangan yang penampilannya justru kontradiktif dengan dirinya.

Sebagai sebuah strategi mungkin sah-sah saja, tidak ada yang melarang. Sayangnya strategi tersebut justru berpotensi menambah suara golput ketimbang menarik simpati kaum agamis yang selama ini cenderung kepada capres penantangnya.

Sementara capres penantang sedikit lebih cerdik dengan memilih cawapres yang berasal dari kaum muda. Gaya Sandiaga justru lebih mencuri perhatian para kaum milenial yang haus model ketokohan seperti Pakdhe Jokowi yang tampil dengan gaya serupa tahun 2014.

Terlepas dari segala kekurangannya, kehadiran sosok milenial yang mengerti kebutuhan kaum muda sangat dibutuhkan di era Industri 4.0 seperti sekarang ini. Sementara model orang tua jadul sudah tak lagi mendapat tempat di hati kaum muda yang mendambakan perubahan besar di negeri ini.

Debat Kedua dan Ketiga ibarat 'Kalkulator' vs 'Octacore'

Saya sendiri tak begitu menikmati debat yang sudah dilakukan selama tiga kali. Apalagi ketika dipisah debat antara capres dengan cawapres. Tampak sekali penampillan yang tidak apple to apple antara generasi tua melawan generasi milenial.

Generasi tua tampak sekali berpenampilan seperti pejuang kemerdekaan tahun 1945, terlalu formil dan kaku, serta normatif sekali. Sementara generasi muda, walau lebih kreatif dalam ide dan pemikiran, tampak canggung menghadapi generasi tua sehingga menampilkan debat yang sungguh membosankan untuk ditonton.

Ibarat generasi kalkulator melawan prosesor octacore.

Terlepas dari materi dan debat yang disampaikan, saya melihat debat ini sebagai debat yang tertukar. Tampak sekali rasa tidak enak Pakdhe Jokowi ketika berhadapan dengan Pak Prabowo, walau sesekali mencoba melakukan serangan. 

Sementara Om Sandiaga juga terkesan ewuh pakewuh berhadapan dengan kyai sepuh Ma'ruf Amin, tampak dari jawaban yang cenderung normatif dan tetap santun.

Seharusnya akan lebih seru bila Pak Prabowo berhadapan dengan Kyai Ma'ruf Amin atau Pakdhe Jokowi berhadapan dengan Om Sandiaga Uno. Saya membayangkan bila ide-ide Pakdhe Jokowi yang out of the box berhadapan dengan ide-ide segar Om Sandi yang rajin turun ke lapangan. 

Sungguh ideal seandainya Pakdhe Jokowi menyampaikan berbagai kartu yang akan dikeluarkan, bersaing dengan satu kartu sakti e-KTP-nya Om Sandi. Akan ada adu argumen kuat di antara mereka berdua tanpa terhalangi rasa sungkan karena perbedaan generasi yang cukup jauh. Ide OK Oce Om Sandi juga akan lebih mantul bila dihadapkan dengan ide unicorn-nya Pakdhe Jokowi.

Demikian pula bila Pak Prabowo dengan ide ekonomi anti-asing berhadapan dengan Kyai Ma'ruf Amin yang lebih menekankan pada ekonomi berbasis syariah, tentu lebih seru dibicarakan di ruang debat.

Apalagi bila materinya disesuaikan, misalnya materi tentang kebangsaan, sosial, hukum, HAM, dibahas oleh Pak Prabowo dan Kyai Ma'ruf. Sementara materi yang bersinggungan dengan generasi muda seperti ekonomi kreatif, tenaga kerja, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, dibahas oleh Pakdhe Jokowi dan Om Sandiaga.

Saya akan mantengin televisi kalau kedua pasangan yang tertukar tersebut berdebat karena pasti seru banget tanpa ada sekat generasi.

Mumpung masih ada dua sesi debat lagi, akan lebih baik bila calon lawannya disilang, Jokowi vs Sandiaga dan Prabowo vs Ma'ruf. Kita bisa saja melihat debat yang lebih terbuka dan lepas tanpa beban bila kedua pasangan tersebut ditukar.

Apakah hal ini dibolehkan aturan atau tidak, keputusan berada di tangan KPU. Saya hanya berharap sebuah debat yang lebih bermutu, lepas dari segala norma yang membelenggu dan rasa ewuh pakewuh karena perbedaan generasi yang begitu jauh.