Dizzman
Dizzman Freelancer

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama FEATURED

Tiket Pesawat Masih Tinggi, Industri Wisata Semakin Sepi

10 Maret 2019   22:14 Diperbarui: 16 Mei 2019   06:14 1229 13 6
Tiket Pesawat Masih Tinggi, Industri Wisata Semakin Sepi
Garuda dengan Logo Lama (Dokpri)

Biasanya setiap melakukan perjalanan udara saya selalu menggunakan jasa Garuda karena faktor keamanan dan kenyamanan. Namun kali ini saya cukup kaget ketika kemarin memesan tiket Garuda tujuan Kupang harganya masih bertengger di batas atas.

Menurut agen penjualan tiket Garuda tidak lagi menjual tiket di bawah kelas Y, artinya tidak ada lagi tiket promo atau kelas lain selain kelas Yankee yang harganya memang dipatok sesuai tarif batas atas. Biasanya harga tiket sekitar 5-6 juta pp, sekarang sudah di atas 7 juta pp, lebih murah pergi ke Bangkok, bahkan ke Istanbul dengan maskapai full service tapi harga promo atau kelas yang lebih rendah.

Setelah saya cek di websitenya, ternyata benar bahwa Garuda sekarang hanya menerapkan satu kelas tiket ekonomi saja, bahkan untuk penerbangan satu dua bulan ke depan sekalipun.

Biasanya ada 3-4 kelas harga tiket untuk setiap penerbangan, masing-masing tentu ada jatahnya dan akan terlihat kalau harga tiket promo sudah sold out. Kali ini kelas promo tersebut benar-benar hilang dari peredaran, padahal maskapai lain sejenis masih menerapkan beberapa tingkatan kelas ekonomi.

Maskapai lain memang sudah menurunkan harga tiket, tapi dikompensasi dengan menambahkan tiket bagasi sehingga bila dihitung harganya hampir sama dengan tarif batas atas bila kita membawa barang dengan berat maksimal gratis pada maskapai full service (20 Kg). Jadi apa yang disampaikan di media bahwa tiket pesawat mulai turun hanya isapan jempol belaka.

Dampaknya mulai terasa terutama buat industri wisata dan industri terkait dengan penerbangan. Penumpang sebelah bangku saya bercerita kalau sebenarnya dia baru terbang besok, namun mungkin karena sepi penumpang dimajukan satu hari dan berangkat sore hari.

Benar saja, jumlah penumpang yang ramai hanya sampai Surabaya, selanjutnya dari Surabaya ke Kupang hanya terisi separuhnya saja. Jadi wajar kalau penerbangan dialihkan harinya, padahal Garuda merupakan maskapai full service yang sangat jarang sekali memindahkan jadwal penerbangan.

Sewaktu mampir ke Ende, ternyata Garuda juga sudah tidak melayani penerbangan ke Ende baik dari Kupang maupun Denpasar atau Labuan Bajo karena sepinya penumpang akibat mahalnya harga tiket. Selain itu wacana menaikkan harga tiket masuk ke Pulau Komodo juga turut memperparah sepinya wisatawan yang akan berkunjung ke Flores.

Padahal Ende dan Kelimutu sangat bergantung pada wisatawan yang berkunjung ke Pulau Komodo karena biasanya menjadi satu paket yang ditawarkan oleh biro perjalanan wisata terutama di luar negeri.

Saat mendaki gunung Kelimutu saat libur Nyepi kemarin, suasana benar-benar sepi, hanya tampak beberapa pendaki saja, mungkin karena saya naik setelah sunrise.

Namun ketika ngobrol dengan emak-emak penjual kopi di puncak Kelimutu, mereka mengeluh karena sejak tahun baru jumlah wisatawan menurun drastis. Hari-hari libur tidak lagi ramai seperti dulu, hanya beberapa puluh orang saja yang mendaki, bahkan yang hendak menanti sunrise sekalipun.

Hari biasa apalagi, tak sampai belasan orang, padahal dulu Kelimutu merupakan favorit wisatawan setelah berkunjung ke Pulau Komodo.

Hotel-hotel di kota Kupang yang beberapa tahun terakhir mulai tumbuh dan berkembang, juga terlihat semakin sepi. Hanya satu dua hotel saja yang masih ramai, sisanya hanya mengandalkan belas kasihan para pilot dan pramugari yang menumpang nginap di hotel mereka untuk penerbangan esok hari.

Rapat-rapat pemerintah yang spanduknya biasa terpampang di depan hotel, kini nyaris tidak terlihat lagi tersangkut di tiang penyangga pengumuman. Bannerpun tak lagi tampak pertanda ada rapat besar di hotel itu.

Para sopir taksi di bandara El Tari pun senasib dengan rekannya di Soetta, menanti berjam-jam tanpa hasil, hanya menghabiskan uang jajan saja ketika nangkring di bandara. Penumpang yang turun dari pesawat lebih banyak orang lokal yang minta dijemput keluarganya di bandara, atau paling banter naik ojek, sementara hanya satu dua orang seperti saya ini yang masih menggunakan jasa taksi bandara.

Ini tentu sebuah ironi, dimana di satu sisi pemerintah berupaya menggalakkan sektor wisata sebagai pemasukan devisa negara, namun di sisi lain industri penerbangan yang seharusnya dimotori oleh BUMN malah justru 'membunuh' kebijakan pemerintah itu sendiri.

Saya sendiri tak habis pikir mengapa Badan Usaha yang notabene Milik Negara malah tidak mendukung tumbuhnya industri wisata, malah menghapus tarif promo bahkan untuk penerbangan beberapa bulan ke depan.

Jadi, sekali lagi meminjam istilah CEO BL, omong kosong kalau harga tiket pesawat sudah turun. Nyatanya masih bertengger di tarif batas atas yang diperbolehkan. Bagaimana wisata mau maju, terutama di luar Jawa, kalau harga tiket pesawat tidak kunjung turun.

Lalu sampai kapan mau begini terus?

Jangan heran kalau kunjungan ke luar negeri semakin meningkat karena frustasi menunggu harga tiket dalam negeri yang tak kunjung turun. Jangan kaget pula kalau nilai tukar Dollar pun kembali menguat karena banyaknya orang bepergian ke luar negeri ketimbang ke dalam negeri sendiri.