Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Menakar Keberuntungan Dua Capres di Tahun Babi

6 Februari 2019   11:28 Diperbarui: 6 Februari 2019   15:57 543 13 10
Menakar Keberuntungan Dua Capres di Tahun Babi
Jokowi dan Prabowo (Sumber: Tirto.id/Antara Foto)

Imlek kali ini menjadi tahun yang istimewa buat bangsa Indonesia karena di tahun inilah masa depan bangsa akan ditentukan oleh calon pemegang kuasa selama lima tahun mendatang, baik yang duduk di bangku legislatif maupun yang bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan bangsa. 

Uniknya lagi tahun ini merupakan tahun milik Shio Babi, sebuah hewan yang berkonotasi negatif bagi kalangan tertentu mengingat Babi adalah binatang yang diharamkan untuk dimakan.

Kedua capres sendiri memiliki shio yang berbeda. Capres 01 yang lahir tanggal 21 Juni 1961 berada dalam naungan shio Kerbau, sementara Capres 02 yang lahir pada tanggal 17 Oktober 1951 bershio Kelinci.

Perbedaan shio tersebut diramalkan dapat mempengaruhi pertarungan pilpres yang akan berlangsung tanggal 17 April mendatang.

Karakter kedua shio yang agak bertolak belakang, shio kerbau cenderung sabar, baik hati, tapi kadang keras kepala bakal berhadapan dengan shio kelinci yang cekatan namun sering moody membuat pertarungan bakal berlangsung seru.

Sayangnya menurut hasil ramalan dari beberapa sumber berita yang saya kutip disini, disini, dan disini, kedua shio tersebut bakal kurang bersinar di tahun Babi ini.

Shio kerbau diramalkan bakal penuh dengan tekanan dan berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, walau secara materi bakal terjadi hal diluar dugaan. 

Sementara shio kelinci malah rentan mendapat gangguan dari mana saja dan berpenampilan cenderung ganas. Apa yang dilakukan shio kelinci menjadi serba salah karena berada pada waktu yang kurang tepat.

Capres 01 memang tampak kelelahan menghadapi kritik bertubi-tubi yang dilancarkan capres 02. Saking kelelahannya semua keberhasilan pembangunan selama kepemimpinannya tak lagi tampak dalam kampanyenya, malah justru capres 01 melancarkan serangan balik yang sebenarnya bukan menjadi ciri khasnya. 

Capres 01 tampak mulai kehilangan kontrol kata-katanya menyebabkan blunder yang berpotensi menggerus suara swing voter. Sementara upaya untuk menggandeng pendukung capres 02 dengan menggandeng cawapres dari unsur ulama dan memberangus hal-hal berbau kiri seperti sia-sia belaka karena hasil polling kubu sebelah tidak berubah signifikan.

Capres 02 juga rentan gangguan terutama malah dari dalam kelompok pendukungnya sendiri. Kasus RS yang cukup mempermalukan beliau, ditambah beberapa anggota partai pendukung yang mulai membelot ke kubu sebelah membuat limbung barisan pertahanannya.

Sementara itu partai-partai pendukung yang bekerja setengah hati lebih mementingkan pileg ketimbang pilpres. 

Praktis capres 02 hanya mengandalkan cawapresnya yang makin rajin menyambangi para calon pemilih. Tampaknya kelihaian cawapres memainkan isu saat berkeliling Indonesia lebih efektif untuk mengget suara para swing voters daripada mengharapkan dukungan penuh dari partai-partai pendukung.

Konotasi negatif yang melekat pada babi diramalkan bakal menyulitkan kedua capres untuk memperoleh suara maksimal walau pemenang tetap ditentukan oleh suara terbanyak.

Suasana pilpres yang kian ngawur dan tidak mendidik masyarakat berdemokrasi makin menguatkan ramalan bahwa dewi fortuna enggan bersanding dengan kedua capres tersebut.

Lalu, siapakah capres yang akan beruntung memenangkan pertarungan di tengah suasana yang tidak menguntungkan pada tahun babi ini?

Cawapres 01 bakal memenangkan pertarungan bila kembali pada khittahnya seperti pada pilrpes 2014 lalu, menampilkan kembali sisi natural beliau yang mulai hilang belakangan ini serta lebih mengedepankan pencapaian selama pemerintahannya. 

Sementara cawapres 02 bisa jadi pemenang pilpres bila mampu memanfaatkan kelengahan kubu sebelah yang mulai melancarkan serangan ngawur dengan penampilan yang lebih kalem dan lembut serta merangkul masyarakat bawah dan milenial yang sudah jenuh dengan komentar-komentar pedas tak bermakna.

Waktu masih tersisa dua bulan dua minggu lagi, masih ada kesempatan untuk memperbaiki penampilan para capres untuk menggaet para swing voters yang masih galau.

Jangan pernah berfikir lagi untuk menggaet calon pemilih dari kubu sebelah karena masing-masing pendukung sudah cinta mati pada pilihannya, namun pikatlah hati para swing voters yang jumlahnya lumayan signifikan, bukan dengan ancaman yang justru akan menggiring mereka piknik ke luar negeri akibat tiket pesawat dalam negeri mahal saat hari pencoblosan nanti, yang kebetulan berdekatan dengan libur panjang dan hari kejepit.