Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Taj Mahal Memang Benar-benar Mahal Banget

3 Juni 2017   13:47 Diperbarui: 4 Juni 2017   18:26 0 5 0 Mohon Tunggu...
Taj Mahal Memang Benar-benar Mahal Banget
Taj Mahal dari Spot Foto (Dokpri)

Sesuai dengan namanya, berkunjung ke Taj Mahal memang-memang benar-benar mahal dan menguras kocek bila baru pertama kali tiba di sana. Setiba di Stasiun Agra Cantt dari New Delhi, sepertinya ada orang yang mengikuti gerak gerik saya. Padahal saya coba alihkan perhatian dengan berjalan ke arah lain, orang itu berteriak berupaya menunjukkan jalan keluar yang benar.

Saya katakan no dan saya tinggalkan dia ke arah air minum gratis yang tersedia di stasiun. Setelah celingak celinguk tampak aman, saya kembali ke arah pintu keluar. Tapi rupanya orang itu sabar menunggu dan langsung menawarkan jasanya begitu saya tiba di luar stasiun.

Stasiun Agra Cantt (Dokpri)
Stasiun Agra Cantt (Dokpri)
Dia menunjukkan konter taksi resmi dan sayapun terpaksa mengikuti karena di luar juga telah banyak manusia berlomba menawarkan taksinya. Dengan ongkos 300 Rupee saya menaiki taksi dari stasiun menuju hotel yang terletak dekat dengan Taj Mahal. Ngomong-ngomong soal kereta api, kali ini benar-benar tepat waktu, hanya tiga jam 20 menit dari New Delhi, padahal saya sempat khawatir bakal ngaret satu hingga dua jam lebih seperti cerita-cerita di beberapa blog. Di kereta saya juga ketemu pemuda India yang ramah dan bisa berbahasa Inggris sehingga agak membantu menjelaskan kepada petugas kereta dan memesan makan malam.
Tempat Penjualan Tiket Taj Mahal (Dokpri)
Tempat Penjualan Tiket Taj Mahal (Dokpri)
Kembali ke taksi, supir taksi mulai beraksi diawali berbasa basi bertanya seperti asal dari mana, kapan tiba di India, berapa lama, dan sebagainya. Ujung-ujungnya dia menawarkan jasa sewa taksinya dari pagi hingga pulang kembali ke stasiun kereta api. Awalnya dia menawarkan 1000 Rupee plus tips terserah kita untuk mengantar ke Taj Mahal, Agra Fort, dan beberapa obyek lainnya di Agra. Saya tawar 800 Rupee namun dia menolak dengan alasan harus setor ke bosnya. Akhirnya dia sadar bahwa hotel yang saya tempati malam itu dekat dengan Taj Mahal, sehingga dia bersedia dengan tarif 800 Rupee minus pengantaran ke Taj Mahal, dan saya dijemput jam 11 siang. Ok kita sepakat dengan harga itu.

Saya memesan kamar yang menghadap Taj Mahal, namun agak sedikit kecewa karena AC nya mati sehingga harus pindah ke kamar lain dengan ukuran Family yaitu tiga tempat tidur, padahal saya pergi sendiri. Untung tidak minta tambahan biaya sehingga saya bisa tidur nyenyak saat cuaca panas malam itu. 

Pas sarapan juga sempat terjadi miskomunikasi, saya tanya apakah free breakfast atau tidak. Dijawab oleh pelayan restoran tak ada yang free. Padahal jelas-jelas saya pesan hotel dengan breakfast. Baru setelah dikonfirmasi dengan bagian resepsionis, benar bahwa saya memang dapat free breakfast. Tapi setelah selesai breakfast, saya diminta tanda tangan bill sebagai bukti telah mengambil breakfast.

Taj Mahal dari Jendela Hotel (Dokpri)
Taj Mahal dari Jendela Hotel (Dokpri)
Untungnya saya menginap di hotel dekat dengan Taj Mahal, sehingga bisa datang setelah subuh saat belum banyak orang datang. Karena hotelnya terletak di sebelah timur, kita harus membeli tiket di gedung tourist information center seharga 1000 Rupee, jauh lebih mahal dari wisatawan domestik yang hanya dikenakan 40 Rupee saja. Kita dapat sebotol air mineral ukuran 300 ml dan penutup alas kaki agar tidak merusak marmer Taj Mahal. 

Mulai dari keluar gedung hingga perjalanan ke gerbang timur, silih berganti para pengemudi rickshaw menawarkan jasanya dengan gigih sampai mengikuti ke mana kita pergi. Kadang saya terpaksa berbalik arah untuk menghindari mereka, namun tetap saja ada lagi yang datang.

Pintu Gerbang Utama Taj Mahal (Dokpri)
Pintu Gerbang Utama Taj Mahal (Dokpri)
Sampai di east gate, pemeriksaan berlangsung ketat seperti di bandara. Selain tiket harus ditunjukkan, kita harus melalui alat pemindai barang dan orang untuk memastikan barang yang kita bawa tidak berbahaya. Setelah lolos pemerikaan, kita mulai menapaki jalan menuju Taj Mahal dan tak jauh dari situ para pemandu mulai menawarkan jasa mengantar keliling Taj Mahal. Namun saya abaikan tawaran mereka karena saya lebih fokus untuk mengambil gambar ketimbang mendengarkan cerita pemandu yang bisa di download di internet.
Kolam depan Gerbang Utama (Dokpri)
Kolam depan Gerbang Utama (Dokpri)
Dari gerbang masuk kita berjalan sekitar 100 meter menuju gerbang utama sebelum memasuki bangunan utama. Di gerbang utama ini terdapat spot pengambilan foto terbaik di Taj Mahal. Dari spot ini kita bisa mengambil foto bangunan utama bersama dengan taman dan kolam yang ada di depannya. Bila cuaca cerah maka kolam tersebut akan menjadi cermin yang memantulkan bangunan utama menjadi foto terindah. Kolamnya sendiri terdiri dari dua bagian dibatasi oleh selasar yang juga menjadi spot foto dari jarak dekat. Taj Mahal memang sangat eyecatching sehingga cocok buat latar belakang selfie atau pre-wedding.
Bangunan Utama Taj Mahal (Dokpri)
Bangunan Utama Taj Mahal (Dokpri)
Walau masih belum terlalu ramai, tapi spot tersebut sudah mulai rapat pengunjung. Kita mesti berebut tempat untuk memperoleh view terbaik dari Taj Mahal. Untung masih pagi dan cuaca cerah sehingga foto-foto yang dihasilkan lumayan bagus. Taj Mahal sendiri ternyata tak sebesar yang saya kira, Luasnya tak lebih besar dari Prambanan, dikelilingi tembok kecuali bagian yang menghadap sungai Yamuna. Namun harus diakui arsitekturnya sangat megah dan hebat pada zamannya. 

Hampir seluruh bangunannya, termasuk lantai dalam dan luarnya dilapisi marmer putih dan di dinding serta list pintu terdapat kaligrafi bertuliskan huruf Arab. Di dalam bangunan sebesar itu ternyata hanya berisi satu makam permaisuri raja Shah Jahan yang bernama Mumtaz Mahal. Sementara di sampingnya hanya terdapat selasar yang terhubung satu dengan lainnya. Sayang kita tidak boleh mengambil foto di dalam bangunan.

Salah Satu Pintu Taj Mahal (Dokpri)
Salah Satu Pintu Taj Mahal (Dokpri)
Setelah puas berkeliling dalam dan luar Taj Mahal, akhirnya saya kembali ke hotel berputar melalui west gate. Di sini terdapat semacam pertokoan yang menjual suvenir dan beberapa penginapan ala backpacker. Seperti biasa para pedagang mulai berkerumun menawarkan dagangannya sambil satu persatu saya tolak dengan halus. 

Memang sih harganya relatif murah, tapi caranya itu lho, setengah memaksa dan sesama pedagang saling sikut satu sama lain, membuat saya malas dan setengah berlari saya tinggalkan kerumunan mereka. Untung datang pagi hari, karena siang sedikit jalanan mulai macet dan pengunjung tumpah ruah memenuhi jalan.

Toko Suvenir dan Kumpulan Pedagang Siap Menawarkan Dagangan (Dokpri)
Toko Suvenir dan Kumpulan Pedagang Siap Menawarkan Dagangan (Dokpri)
Siang harinya setelah check out dari hotel si supir datang menjemput dan mengantar saya menuju Agra Fort. Bentengnya berwarna merah agak mirip dengan yang ada di New Delhi, hanya tampak sedikit lebih luas. Di sini kita harus berhati-hati karena manusia sudah mulai membludak dan banyak copet berkeliaran. Harga tiketnya 550 Rupee, dan apabila telah mengunjungi Taj Mahal dapat diskon 50 Rupee. Seperti biasa, pemeriksaan cukup ketat sebelum memasuki bagian dalam benteng. Di dalam benteng terdapat beberapa bangunan yang berdempetan satu dengan lain. Kita harus mengetahui arah angin karena banyaknya pintu masuk sehingga membentuk seperti labirin dan kita bisa tersesat di dalamnya.
Benteng Agra (Agra Fort) (Dokpri)
Benteng Agra (Agra Fort) (Dokpri)
Dari sini kita bisa melihat Taj Mahal dari kejauhan karena letaknya juga sejajar tepat di tepi sungai Yamuna. Di tengah terdapat taman dan bath tub para raja dinasti Moghul. Ada juga barak-barak prajurit, istana raja, serta kediaman para selir raja dan kolam taman sari yang terletak di tengah-tengah bangunan. 

Rasanya aman tenteram tinggal di dalam benteng tersebut saat itu karena benar-benar terlindungi dari serangan musuh. Arsitekturnya sejaman dengan Taj Mahal, sebagian bangunan dilapisi marmer terutama di istana raja dan kediaman para selir. Sementara bangunan bentengnya persis seperti di Red Fort New Delhi, berwarna merah bata dengan ketebalan hampir 5-10 meter.

Istana dan Bath Tub Raja Jahangir (Dokpri)
Istana dan Bath Tub Raja Jahangir (Dokpri)
Puas berkeliling, sayapun diantar supir menuju sebuah restoran halal untuk makan siang. Sepertinya supir di Agra telah berkoordinasi dengan tempat-tempat tertentu seperti rumah makan dan suvenir, dengan harapan memperoleh tips dan makan siang gratis. Benar saja, usai makan siang yang relatif mahal, 360 Rupee padahal menunya hanya Nasi Goreng Vegetarian dan Lemon Tea, saya dipaksa untuk mengunjungi tempat pembuatan marmer yang konon katanya turunan dari pembuat marmer Taj Mahal. 

Setelah mendengar penjelasan dan melihat-lihat sejenak, saya tinggalkan tempat itu dan kembali sang supir mengantar ke tempat batik dan oleh-oleh. Tapi lagi-lagi harganya mahal, gantungan kunci saja harganya 250 Rupee, padahal di tempat lain bisa 50 sampai 100 Rupee saja untuk model yang sama.

Menara Pandang Tinggi (Dokpri)
Menara Pandang Tinggi (Dokpri)
Mungkin karena saya tidak membeli apapun, supir tampak kecewa dan saya minta antar langsung ke stasiun saja. Khawatir kalau berkeliling lagi bakal diminta tambahan ongkos, padahal waktu masih menunjukkan pukul dua siang, sementara kereta datang jam setengah empat sore. Tak apalah menunggu satu setengah jam di stasiun yang panas daripada habis uang lebih banyak lagi. Taj Mahal memang benar-benar mahal bagi saya yang pertama kali menginjakkan kaki di sana. Sekitar 4000 Rupee habis dalam sehari termasuk penginapan, tiket masuk, sewa taksi, dan makan siang serta minuman ringan.