Mohon tunggu...
Dinda Monica
Dinda Monica Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Always looking for new opportunity

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Apakah Hidup Butuh Berbasa-Basi?

11 November 2020   13:55 Diperbarui: 11 November 2020   14:04 367 2 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Apakah Hidup Butuh Berbasa-Basi?
Bahasa. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Jcstudio

Komunikasi merupakan hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia. Seperti kita tahu manusia merupakan makhluk sosial dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini mengaitkan pada komunikasi dan bahasa. Manusia mengungkapkan rasa saling membutuhkan dengan berkomunikasi. Adanya komunikasi didasari dengan bahasa. Tentu manusia paham bahasa yang ia gunakan ketika berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Tetapi, apakah individu-individu tersebut paham “maksud” dari pesan yang dilontarkan oleh lawan bicaranya? Apakah bahasa dalam berkomunikasi dapat ditelan mentah-mentah tanpa tahu konteks dari pesan tersebut? Bahasa sendiri memiliki fungsi yang bermacam-macam. Tulisan ini akan membahas mengenai fungsi bahasa sebagai basa-basi. Teori-teori dari para ahli akan menjelaskan bahasa sebagai basa-basi dalam berkomunikasi. Hal ini dapat menjawab pertanyaan di atas mengenai “maksud” pesan dari dua individu yang saling berkomunikasi.

Basa-basi Sebagai Pelengkap Kehidupan

            Budaya berbasa-basi, khususnya di Indonesia, sudah menjadi hal yang lumrah di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. “Ayo mampir ke gubuk saya.”, “Mau minum apa, es teh, es campur, apa sirup?”, “Gendutan ya sekarang?”, “Kok jerawatan kamu?” dan masih banyak lagi yang dapat ditemukan di kehidupan bermasyarakat. Wajar? Tentu. Namun, apakah setiap individu-individu tersebut paham maksud lain atau konteks dari basa-basi tersebut?

            Bahasa memiliki fungsi yang bermacam-macam. Menurut Roman Jakobson (1980), bahasa dapat dibedakan menjadi 6 fungsi bahasa, yaitu fungsi referensial, fungsi puitis, fungsi emosi, fungsi konatif, fungsi fatik, dan fungsi metalingual (atau disebut "metalinguistik" atau "refleksif").  Bahasa pun ada yang berfungsi sebagai basa-basi dalam komunikasi, atau kata lainnya adalah fatis. Fatis adalah kategori kata yang hanya memiliki fungsi sosial dan tidak memiliki fungsi penyampaian informasi. Dengan kata lain, ujaran yang bersifat fatis tidak berisikan hal-hal mengenai informasi yang dituturkan, melainkan ungkapan tersebut hanya bertujuan mengeratkan hubungan antar penutur dan mitra tutur. Sejalan dengan hal tersebut, bahasa fatis dapat dikatakan sebagai basa-basi. Pengertian basa-basi sebenarnya adalah sopan santun atau tata krama (good manners) dalam berinteraksi antar manusia. Bentuknya dapat berupa salam, menanyakan kabar, menyampaikan ungkapan simpati dan penghargaan (terima kasih). Bentuk-bentuk tersebut sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut juga lazim ditemukan di daerah dengan latar belakang berbagai kultur. Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Harimurti Kridalaksana (2005: 114), yaitu bentuk fatis biasanya terdapat dalam bahasa lisan yang umumnya merupakan ragam lisan non-standar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional. Apapun tujuan penutur dalam berkomunikasi, biasanya sering diselipi basa-basi. Dapat dikatakan basa-basi menjadi pelengkap dalam komunikasi bahkan kehidupan.

            Bicara mengenai maksud lain atau konteks dari sebuah basa-basi, hal ini sebenarnya tidak terlalu dipermasalahkan dalam berkomunikasi. Sesuatu yang sudah mejadi kebiasaan akan menjadi suatu kewajaran. Budaya di Indonesia dalam berbasa-basi sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Orang-orang terdahulu mewarisi budaya basa-basi tersebut pada anak cucunya. Mungkin mereka tidak sadar mengucapkan basa-basi tersebut karena memang sudah menjadi suatu kebiasaan atau budaya yang sudah mendarah daging. Tetapi, apakah bagi sebagian orang ucapan basa-basi agaknya kurang pantas untuk diucapkan? Atau apakah bagi sebagian orang jawaban atas basa-basi yang tidak sesuai dengan keinginan si penutur basa-basi dapat melukai hati si penutur? Misalnya contoh kasus antara dua pedagang di pasar bernama Pak Supri dan Pak Japri. Lapak dagangan mereka saling bersebelahan sehingga mereka sering sekali bertegur sapa. Mereka saling menanyakan bagaimana hasil penjualan pada hari tersebut. Tetapi, sebenarnya mereka tidak benar-benar ingin tahu hasil penjualan dagangan masing-masing, mereka hanya ingin bertegur sapa. Dengan begitu hubungan silahturami antar pedagang tetap terjaga. Tetapi, lain halnya ketika berbasa-basi menyisipkan tujuan untuk menyindir. Tentu akan ada pihak yang merasa tersakiti hatinya. Walaupun hanya untuk berbasa-basi tetapi diselipkan sindiran, itu bukan tujuan basa-basi melainkan rasa iri hati. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut maksud lain atau konteks suatu ucapan. Walaupun secara tersirat disampaikan, tetapi jika kita paham konteksnya pasti kita dengan mudah mengetahui tujuan si penutur. Pemahaman akan konteks tidak terlalu sukar untuk dipelajari. Penutur dan mitra tutur yang saling kenal dapat menjadi dasar untuk mengetahui konteks pembicaraan. Pemahaman akan topik pembicaraan juga dapat menjadi apresepsi untuk mengetahui maksud dari pesan tersebut. Selama berbasa-basi tidak menimbulkan kebencian, basa-basi tetaplah bertujuan untuk menjaga kerukunan. Bisa dibayangkan jika bertetangga tetapi tidak pernah bertegur sapa, pasti akan menjadi bahan omongan tetangga lainnya. Tetapi, berbasa-basi harus tetap menjaga perasaan satu sama lain.

Kritis Berbasa-basi

            Berbicara basa-basi masih kuat hubungannya dengan sopan santun. Berbahasa atau berkomunikasi haruslah santun. Menurut Atfalul Anam (2011: 1-2) kesantunan berbahasa adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam komunikasi. Tuturan dalam bahasa Indonesia secara umum akan dianggap santun jika penutur memilih dan menggunakan kata-kata yang santun, tuturannya tidak mengandung ejekan secara langsung, tidak memerintah secara langsung, serta menghormati orang lain. Dengan berbahasa secara santun dapat menentukan pandangan orang lain terhadap diri si penutur. Orang lain dapat mengukur kualitas diri penutur melalui kesantunan berbahasanya. Sama hal nya dengan berbasa-basi. Tentu berbasa-basi dengan lawan bicara harus mengedepankan rasa santun dan saling menghormati. Tidak asal langsung bicara karena dapat melukai hati lawan bicara kita. Orang yang dikenai basa-basi akan bisa menilai sejauh mana lawan bicaranya ini bersikap santun terhadap dirinya. Tidak hanya orang muda kepada orang tua, tetapi seluruh individu, umur, pendidikan, latar belakang lainnya, harus santun dan saling menghormati.

            Berbasa-basi memang hanya bertujuan untuk menjaga kerukunan antarsesama. Hal itu sejalan dengan pendapat Malinowski (1923 dalam Waridin 2008:39) mengenai ungkapan fatis yaitu tipe tuturan digunakan untuk menciptakan ikatan sosial yang harmonis dengan semata-mata bertukar kata-kata. Individu satu dengan individu lainnya saling bertukar kata demi menjaga keharmonisan hubungan sosialnya. Ketika hidup bertetangga pasti sering dijumpai ucapan seperti, “Masak apa hari ini, bu?” atau “Jarang keliatan e, sibuk po?” dan masih banyak lagi. Jika ditelusuri lebih lanjut, mungkin perkataan “Masak apa hari ini, bu?” dapat bermaksud memang menanyakan menu makanan yang dimasak hari tersebut, atau bisa saja penutur ingin mencicipi masakan yang dibuat mitra tutur, atau hanya sekadar bertegur sapa hidup bertetangga. Akan ada banyak maksud yang dituturkan dalam berbasa-basi. Itu semua tergantung bagaimana penutur dan mitra tutur menerima ucapan basa-basi tersebut. Misal perkataan “Jarang keliatan e, sibuk po?” mungkin saja penutur bermaksud menanyakan kabar mitra tutur, atau bisa saja penutur menyindir mitra tutur yang jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Setiap individu pasti berbeda cara penangkapan pesannya. Maka, perlu setiap individu mempelajari maksud dari pesan yang disampaikan lawan bicaranya agar tidak terciptanya miskomunikasi atau pun mispersepsi. Orang Indonesia cenderung lebih suka menyampaikan pesan tidak langsung kepada intinya. Berputar dahulu merangkai kata lalu dapat menyimpulkan ke pesan inti. Itu pun masih dibumbui basa-basi. Itu semua karena budaya yang sudah mendarah daging dan menjadi suatu kebiasaan masyarakat kita. Orang yang dikenai basa-basi pun mengerti. Hal ini sangat lazim ditemui dimana pun di berbagai daerah Indonesia. Sebagai generasi muda seharusnya kita dapat berbasa-basi secara kritis. Kita sudah mengetahui dampak dari berbasa-basi dengan tujuan menjelekkan. Seharusnya kita mengurangi hal itu dengan memberikan edukasi pada orang yang menebar kebencian, semakin sadar bahwa hati manusia lain berbeda cara menangkap pesan satu sama lain. Memahami konteks informasi yang disampaikan juga sangat bermanfaat. Hal itu memang butuh pembiasaan.

            Basa-basi memang memberikan dampak yang bermacam-macam. Seharusnya masyarakat Indonesia mensyukuri dengan adanya basa-basi. Budaya tidak enakan tidak selamanya buruk. Rasa segan dan saling menghormati memang dibutuhkan di tengah kehidupan rakyat Indonesia yang bermacam-macam latar belakangnya. Rasa saling menghargai menjadikan bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya. Tetapi, perlu diingat sekali lagi bahwa berbasa-basi harus tetap mengacu pada nilai sopan santun. Tidak bisa langsung ceplas-ceplos. Basa-basi hanya untuk menjaga kerukunan bukan untuk saling menjatuhkan.

            Akhirnya, itulah paparan sedikit mengenai basa-basi. Terdengar sederhana tetapi jika dikaji lebih lanjut fungsi basa-basi akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Tetap ingat kesantunan berbahasa dan rasa saling menghargai antarindividu untuk tetap menjaga kerukunan. Sekian dan salam.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan