Mohon tunggu...
Dimdim
Dimdim Mohon Tunggu... Spesialis Tulisan Ngawur

Spesialis Tulisan Ngawur

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Si Kampret Pengawas Ujian

10 April 2019   19:45 Diperbarui: 10 April 2019   19:54 0 7 3 Mohon Tunggu...
Si Kampret Pengawas Ujian
picsart-04-10-07-42-42-5cade50fa8bc15636b296502.jpg

Sumber gambar: Dokumen pribadi


Beberapa hari yang lalu, Dimdim menghadapi pengawas USBN (Ujian Sekolah Berbasis Nasional) yang kalau diingat-ingat rasanya kepengen geprek tuh pengawas pakai sambal ijo satu karung.

Hari itu adalah USBN mapel matematika. Dimdim memasuki ruang kelas ujian, bersaliman dengan dua guru perempuan yang menjadi pengawas. Pengawas yang satu perawakannya seperti mbak-mbak sales yang datang ke rumah dengan menawarkan panci, sebut saja namanya Bu Lesa. Sementara yang satunya lagi terlihat sudah agak tua, ditandai dengan kerutan-kerutan di wajahnya. Dimdim nggak tahu pasti siapa namanya, jadi tak kasih nama Bu Ember ajah, cocok untuknya karena terlihat seperti Mamak-mamak yang pakai sepeda motor, begitu belok kanan malah sen kiri. Akhirnya orang yang dibelakang menabrak dia, tapi justru malah dia yang marah-marah.

"Woy! Punya mata nggak sih? Pake motor itu matanya di melek! Buta kali ya?"

"Kan Ibu yang salah, belok kanan kok malah sen kiri"

"Terserah Saya dong, motor-motor saya, mau sen kiri kek, kanan kek kok dirimu yang repot!"

Nah kan cocok, jadi kita panggil ajah Bu Ember.

Firasat Dimdim tidak enak ketika melihat wajah Bu Ember, apalagi waktu dia mengomentari seragam yang Dimdim pakai beda sendiri dibandingkan dengan yang lain, yang lain menggunakan seragam eksekutif, Dimdim memakai seragam whare pack yang biasa digunakan untuk praktek kejuruan.

"Kamu kok seragamnya beda sendiri?" Tanya Bu Ember dengan nada agak menyinggung

"Iya Bu maaf," jawab Dimdim singkat sembari duduk di kursi yang sudah ditentukan terdapat nama Dimdim di mejanya.

"Ujian kok pake whare pack," cerocos Bu Ember sambil membagikan soal ujian. Dimdim rasa Bu Ember adalah agen Lambe Turah.

Nih guru memang ember, lagian kan nggak ada peraturan ahari Rabu dan Kamis USBN menggunakan seragam eksekutif. Sebenarnya Dimdim mau melawan cerocos Bu Ember seperti itu, tapi percuma. Karena peraturan pertama, guru akan selalu benar dan murid bisa saja melakukan kesalahan. Kalaupun guru melakukan kesalahan, maka kembali ke peraturan pertama, yakni guru akan selalu benar. Begitulah anggapan Dimdim dan beberapa murid yang merasa tertindas oleh guru.

Dimdim mulai mengerjakan soal USBN mapel matematika. Kalau Dimdim boleh jujur, soal matematika USBN ini lebih mudah jika dibandingkan dengan UN, sedikit menyesal jadinya karena belajar matematika tidak terlalu intens, maklum sudah kebawa malas gara-gara ujian yang berlangsung selama tiga minggu.  

"Dulu mah Saya bingung Bu, kalo nggak kuliah mau kerja apa"

Dimdim melirik ke arah suara, ternyata itu adalah suara Bu Lesa.

"Ya begitulah Bu! Harus ada rencana kedua!" jawab Bu Ember yang membuat hampir seisi ruangan ujian melirik ke arahnya, anehnya dia nggak menyadarinya, seolah dia hanya hidup seorang diri di bumi, nggak peduli dengan yang lainnya.

Dimdim rasa ini adalah sesuatu hal yang wajar ketika dua pengawas yang saling berbincang. Tapi lama-kelamaan, sesi perbincangan antara Bu Lesa dan Bu Ember berubah menjadi sesi curhatan ala Mamah Dedeh. Keduanya saling melempar curhat dan memberikan saran secara bergantian. Mending kalo curhatnya bisik-bisik, lah ini curhat kok kaya pake TOA mushola.

Jelas hal ini sangat mengganggu kita yang sedang mengerjakan soal, apalagi soalnya adalah matematika. Bisa kamu bayangkan, antara kemumetan mengerjakan matematika bercampur dengan dengung curhatan guru yang menggelegar adalah perpaduan yang mlehow.

Teman-teman kelas Dimdim terkenal dengan anak-anaknya yang berani menegakkan keadilan dengan guru, salah satunya adalah yang satu ini, kami berusaha agar membuat kedua pengawas ini berhenti curhat. Usaha pertama adalah dari Kawel, dia duduk tepat di depan Bu Lesa dan Bu Ember, wajar saja kalau  Kawel sangat terganggu.

"Menari...bersamamu! Jalani...hingga akhir waktu. Berisik nemen ya allah, matematika mumet! (Baca: Berisik banget ya allah, matematika pusing!)" Kawel nggremeng nyanyi lagu Rizqi Febian- Menari sambil kode-kode keras bahwa dia merasa terganggu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2