Mohon tunggu...
D.A. Dartono
D.A. Dartono Mohon Tunggu... Administrasi - Penggemar bacaan dan pegiat literasi.

Senang berdiskusi, berdialog dan sharing ide. Curah gagasan, menulis dan tukar-menukar pengalaman.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Xi, Khonghucu dan Ide Spiritualitas yang Tak Mati

25 Juli 2015   19:06 Diperbarui: 25 Juli 2015   19:06 202 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Beberapa hari belakangan ini kita saksikan dalam berbagai berita mengenai Xi dan ketertarikannya pada Confucius (Khonghucu) dan ide serta pengaruhnya. Berbagai media cetak dan elektronik mengupas hal dimaksud. Sebagai contoh ialah Time, the Economist, Huffingtonpost, Bloomberg dan media terkenal tingkat dunia lainnya.

Memang benar, jauh sebelum RRT (Republik Rakyat Tiongkok) berdiri, di kalangan jutaan, bahkan ratusan juta rakyat Tiongkok, ide-ide, nilai-nilai dan spiritualitas yang berasal dari ajaran, ujaran dan teladan guru Khong telah hidup dan dijalani selama lebih dari dua ribu tahun. Tentu saja, itu jauh sebelum lahirnya dinasti Ching, dinasti Ming, dinasti Tang, bahkan dinasti Han, bahkan sebelum lahirnya Shih Huang Ti, pemersatu Cina.

Menyaksikan fenomena ini membuat saya teringat salah satu pernyataan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra, Khalifatul Masih II, yang merupakan Imam Jemaat Ahmadiyah sejak tahun 1914-1965. Pribadi yang lahir pada 1889 di Qadian, India ini merupakan putra dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad 'alaihis salaam, pendiri Jemaat Ahmadiyah. Pernyataan tersebut ialah bahwa kebutuhan dan perkembangan jasmaniah, moralitas (akhlak) dan spiritualitas (kerohanian) adalah hal-hal yang secara fitrati telah ada dan memang ada dalam diri manusia. Ia tidak bisa dipisah-pisahkan, juga tidak bisa dihilangkan. Penjelasan beliau ini dijelaskan kembali oleh cicit beliau, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba pada khotbah Jumat beliau tanggal 24 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK, sebagai berikut:

 

Sebuah pertanyaan yang semakin banyak meningkat dan meluas timbul hari-hari ini, khususnya di dalam benak kaum muda-mudi dan umumnya di kalangan masyarakat. Khususnya lagi ialah dari kalangan yang menentang agama atau dari kalangan mereka yang belum mendapat bimbingan yang tepat dan orang-orang yang tidak mengikuti sesuatu agama. Pertanyaan tersebut ialah, “Karena pendidikan duniawi dapat menyebabkan tumbuhnya moral/akhlak yang baik lalu apa gunanya mengikuti sesuatu agama? Bukankah agama dan para pemeluk agama menyatakan bahwa agama mengajarkan akhlak yang baik?” Mereka katakan, “Akhlak dapat kami tanamkan dalam diri kami tanpa mengikuti agama apapun.” Bahkan, mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti agama apa pun memiliki moral yang lebih baik daripada orang-orang religius (yang mengikuti agama).

Secara khusus tuduhan ini ditujukan kepada penganut Islam. Para penganut agama lain kebanyakan telah menjauhkan diri dari kepercayaan mereka, tetapi kebanyakan orang Muslim, bahkan yang tidak mengamalkan ajarannya, mengaitkan diri atau menyatakan diri dengan jelas sebagai orang Muslim yang merupakan agama asal mereka sejak lahir (yaitu Islam). Oleh karena itu, pada kenyataannya tuduhan tersebut ditujukan terhadap Islam dan berbagai upaya, berbagai cara dan berbagai tema bahasan diajukan [oleh penentang agama] untuk mempengaruhi generasi muda kita agar berupaya menentang terhadap agama atau memisahkan diri dari agama. Secara khusus, ini terjadi di negara-negara Barat yang aspek baik dari pendidikan mereka adalah banyak menekankan pada percobaan, tahqiq (penelitian) dan eksplorasi, tapi ini perlu dilakukan secara metodologis, dalam corak yang benar.

Maka dari itulah, ketika para remaja bertanya kepada para orang tua dan orang-orang dewasa di rumah mereka membahas tentang bagaimana jawaban berbagai pertanyaan yang timbul di dalam pikiran mereka tersebut, maka para orang tua tersebut tidak menjawabnya baik karena kurangnya waktu sebab mereka sibuk memikirkan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya atau karena mereka tidak memiliki pengetahuan. Bukannya meluangkan banyak waktu guna menjawab pertanyaan para remaja itu, para orang tua malah menekan mereka [para muda-mudi yang bertanya seperti itu] agar mereka diam dan tidak mengajukan pertanyaan semacam itu.

Hal ini menyebabkan para remaja yang mengajukan pertanyaan itu beranggapan meski agama, baik itu Islam menyatakan diri benar yang menyediakan semua resolusi (pemecahan) berbagai masalah, namun tidak memiliki jawaban yang praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Terjadi juga hal ini bahwa perbuatan orang-orang dewasa bertentangan apa-apa yang mereka nasehatkan kepada anak-anak dan para remaja. Bersamaan dengan para remaja itu dalam diam mendengarkan nasehat dan pengajaran dari orang-orang dewasa, tetapi ketika mereka menikmati sebuah kebebasan, mulailah mereka menjauhkan diri dari agama. Mereka pun menyertai orang-orang yang menjadikan mereka jauh dari agama. Sebagai akibatnya, kendatipun Islam itu agama yang hidup dan mempunyai ajaran yang indah, namun kita menemukan terdapat di kalangan umat Islam yang menolak agama dan menolak keberadaan Tuhan.

Dalam keadaan seperti ini setiap dari kita semua harus mengarahkan perhatian pada bagaimana kita menjadikan diri kita masing-masing mengamalkan agama kita dan juga menginspirasi (mendorong) anak-anak keturunan kita untuk menjalankannya juga. Suatu hal yang pasti Islam adalah agama yang sempurna dan menjelaskan berbagai macam persoalan. Al-Quran adalah kitab yang lengkap dan sempurna, dan teladan sempurna penuh berkat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (damai dan berkah Allah padanya), yang merupakan perwujudan dari Al-Quran ada di depan kita dan keteladanan beliau saw itu telah menghasilkan perubahan revolusioner dalam diri para sahabat (ridha Allah semoga menyertai mereka). Mereka mengerti apa itu agama. Mereka mengerti apa itu akhlaq (moralitas) dan mereka juga meraih kemajuan dalam segi materi (jasmaniah). Namun, mereka meraih pemahaman tiap-tiap hal itu sesuai dengan tempatnya masing-masing, agama itu dimana? Akhlak itu dimana? Dan apa itu kemajuan jasmani?

Para muda-mudi kita, para muda-mudi kita yang mengajukan pertanyaan itu bahkan secara khusus sebenarnya orang-orang dewasa pun – yang mana tanggung jawab memberikan pemahaman kepada generasi penerus ada pada mereka - harus berusaha memahami pertalian antara akhlak yang benar, kesuksesan materi dan agama dan kemudian menempatkan mereka semua dalam amal perbuatan di kehidupan sehari-hari. Ketika para orang dewasa memahami titik pandangan (noktah/point) ini maka tentu mereka akan dapat membuat anak-anak keturunan mereka paham akan hal tersebut. Ketika para muda memahaminya, itu akan membuka jalan kesuksesan bagi mereka dalam segi agama dan juga duniawi, dan mereka akan menyadari betapa indah ajaran Islam, dan mereka akan mengakui kebohongan pencela Islam.

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul saat ini yang diajukan oleh orang-orang yang tidak beragama atau memusuhi agama bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya, ini telah terjadi di masa lalu waktu demi waktu. Orang-orang yang berkeberatan dengan agama senantiasa mengangkat masalah ini dan juga masalah lainnya. Dengan mengangkat soal ini, keberatan mereka terhadap agama menjadi terbukti. Hal demikian ini karena mereka tidak berusaha memahami agama dalam corak yang benar, dan juga karena mereka yang disebut para pembesar dan pemuka agama, dengan menyajikan hal-hal atau solusi yang salah dari penemuan (dibuat-buat) mereka sendiri, atau karena ketidakpahaman mereka atas agama, telah membuat orang-orang berpendidikan menjadi terjebak masuk dalam kebingungan dan kerumitan lebih lanjut tentang agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan