Diar Ronayu
Diar Ronayu Ibu rumah tangga

Ibu rumah tangga yang hobi masak dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Pentingnya Menabung dan Merencanakan Keuangan untuk Masa Depan

14 Januari 2018   11:41 Diperbarui: 14 Januari 2018   19:59 2231 0 0
Pentingnya Menabung dan Merencanakan Keuangan untuk Masa Depan
Maybank Syariah/qerja.com

Banyak yang mengatakan bahwa gaya hidup kaum milenial itu identik dengan hedonisme dan konsumtif. Liburan ke pantai, cekrek. Ngopi cantik, cekrek. Beli tas baru, cekrek. Yang penting eksis dan kekinian. Boros? Belum tentu. Selama mampu nggak ada yang melarang kok. 

Barangkali sedekahnya lebih banyak. Atau siapa tau biaya yang dikeluarkan untuk menunjang gaya hidup kekiniannya hanya sekian persen dari total pendapatan, sisanya masuk tabungan atau investasi. Who knows kan?

Yang paling penting adalah, kita tau pasti kemana larinya setiap sen uang kita. Jangan sampai setiap akhir bulan meratapi dompet yang gersang dan buku tabungan yang nilainya jalan di tempat. Jadi, perencanaan keuangan itu penting.

Menabung dulu lega kemudian

Dulu, saat pertama kali menyandang status sebagai karyawan baru, saya selalu diingatkan oleh ayah untuk menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Saat itu sedang hangat - hangatnya konsep keuangan syariah didengungkan, dan saya pun tertarik menggunakan jasa perbankan syariah karena sesuai dengan prinsip yang saya anut.

Menurut ayah waktu itu, mengingat saya masih single dan tidak ada tanggungan cicilan atau kredit, seharusnya saya bisa menyisihkan uang untuk tabungan sebesar 40% dari total pendapatan. Rekening tabungan juga harus dibuat terpisah dan tidak dibuatkan ATM supaya saya tidak bisa bebas memanfaatkannya.

Jadi, setiap gajian turun hal pertama yang saya lakukan adalah menabung di awal. Uang yang tersisa harus dicukup - cukupkan selama sebulan untuk membayar sewa kos dan kebutuhan sehari - hari termasuk kebutuhan untuk jalan - jalan dan kulineran. Syukur - syukur jika masih tersisa, meskipun seringnya selalu habis tak bersisa..hahaha.

Menabung di awal memang menolong saya untuk membuat dana cadangan. Tapi, konsekuensinya jadi tak bisa mengikuti pergaulan gaya hidup teman - teman karena uang yang dipegang terbatas. 

Alhasil saya sering melewatkan acara hangout bareng kawan - kawan kantor, karena dana saya tidak cukup untuk itu. Mungkin bagi teman - teman yang lain saya terlihat tidak asik, karena selalu menentang tas yang sama setiap waktu, sementara mereka bergonta ganti tas setiap hari. Atau saya lebih suka membawa bekal  untuk makan siang, sementara mereka selalu jajan di luar.

Keteguhan hati memang sangat diperlukan ketika kita memegang suatu prinsip. Dari dulu saya selalu berprinsip untuk selalu menjadi diri sendiri. Memaksakan diri untuk eksis dan gaul agar disukai malah membuat diri sendiri jadi tak nyaman. 

Yakin saja selama yang kita lakukan benar. Toh tidak selamanya kita hidup dalam bayang -- bayang pertemanan. Yang penting berkelakuan baik dan profesional dalam bekerja. Begitulah prinsip saya.

Dan ternyata kegigihan saya untuk rajin menabung dan bergaya hidup biasa saja bukan keputusan yang salah. Suatu ketika saya berbincang dengan rekan sekantor yang sama - sama sedang merencanakan pernikahan seperti saya. 

Entah bagaimana mulanya ia mulai bertanya tentang bagaimana cara saya mengatur keuangan. Secara terang - terangan ia mengakui bahwa dari detik pertama menerima gaji hingga saat itu, ia tak memiliki tabungan sepeserpun. Uang gajinya selalu habis tiap akhir bulan, dan hal itu sangat dipermasalahkan oleh calon suaminya. 

Sebenarnya saya tidak kaget mendengarnya, mengingat gaya hidupnya yang menurut saya konsumtif. Sementara besaran gaji kami tidaklah besar. Dan tidak ada solusi lain yang saya berikan selain mulai menabung, berhemat dan belajar menahan diri dari membeli barang - barang yang sifatnya keinginan, bukan kebutuhan.

Dan ya, ketekunan saya dalam menabung bukanlah hal yang sia - sia. Meskipun awalnya tak ada tujuan melainkan hanya untuk menabung saja, uang tabungan yang selama ini saya kumpulkan di rekening tak ber ATM itu akhirnya saya cairkan untuk modal nikah. Alhamdulillah.

Menabung dulu lega kemudian/dok.pribadi
Menabung dulu lega kemudian/dok.pribadi
Perencanaan keuangan setelah menikah ternyata lebih menantang.
Meskipun stabilitas ekonomi setelah menikah sedikit mengalami peningkatan, namun kebutuhan untuk masa depan juga lebih besar. Setelah menikah, hal pertama yang saya dan suami pikirkan adalah segera membeli rumah sebagai bentuk investasi. 

Bagi kami, rumah adalah kebutuhan utama dalam sebuah rumah tangga yang harus segera dipenuhi, karena semakin lama harganya semakin tinggi. Cara satu - satunya yang bisa kami lakukan adalah dengan mengajukan KPR. Karena jika menunggu uang terkumpul dan membeli secara kontan, pasti bertahun - tahun tidak akan terbeli. Akhirnya, kami  menguras seluruh tabungan dan menggunakannya untuk DP rumah.

Seringkali kita mengalami hal - hal diluar ekspektasi. Berkaca dari sebuah kejadian, ternyata dana darurat itu penting dan setiap keluarga harus memilikinya. 

Jadi kamipun mulai mengalokasikan dana darurat setiap bulan yang besarannya akan kami cukupkan saat nilainya mencapai 3x gaji suami, mengingat saya akhirnya memutuskan resign setelah melahirkan anak pertama. Sesuai dengan namanya, dana darurat ini tidak boleh diutak - atik dan hanya boleh digunakan saat darurat. Misalnya sebagai modal usaha, karena kehilangan sumber pendapatan utama dalam keluarga.

Saat kelahiran anak pertama, saya dan suami juga mulai memikirkan untuk membuat tabungan pendidikan untuk anak kami, begitupun saat lahir anak kedua. Ada yang pernah menganggap saya lebay karena anak belum bisa bicara tapi saya sudah mulai mencari info tentang sekolah TK dan SD untuk anak nantinya. Padahal bagi saya, masalah pendidikan anak itu serius. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2