Mohon tunggu...
Dian Putri
Dian Putri Mohon Tunggu... karyawan swasta

Melihat dan merasakan langsung antara kebutuhan mendesak perihal pemanfaatan energi yang terbentur regulasi. Bukan merasa sudah tahu, tapi merasa peduli untuk mempelajari dari orang-orang hebat penggiat migas, khusus yang mencari solusi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Membumikan Api Cerobong

7 Oktober 2019   17:22 Diperbarui: 7 Oktober 2019   17:39 87 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membumikan Api Cerobong
Sumber: katadata.co.id

Api  besar pada cerobong itu bernama Gas Suar Bakar.  Apa itu gas suar bakar? Oke, sekarang kita membayangkan (lebih bagus lagi mengingat, hehe) jika kita sering melihat api saat  pergi atau melewati lokasi pengolahan minyak, di darat (onshore) maupun di laut (offshore) anda melihat api seperti obor  pada cerobong-cerobong tinggi yang sangat besar yang dibuang-buang ke udara karena belum bisa dimanfaatkan. Itulah yang dinamakan gas suar bakar.

Lalu kenapa harus dibahas? Yes, harus dibahas. 

Bagi kita masyarakat Indonesia yang mencintai dan bertanggung jawab dengan alam, maka kepedulian terhadap Gas Suar Bakar adalah bukti salah satu kita peduli dengan apa yang ada di alam Indonesia. Tidak hanya melulu minyak bumi yang menjadi bahasan, tetapi tahukah anda, bahwa wujud yang bernama "Gas" itu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita, manusia. Lalu apa yang akan kita bahas?

Penulis ingin memberikan gambaran, sudah sejauh mana Indonesia memanfaatkan gas suar bakar ini, alih-alih menganggapnya "barang tidak berguna" dan cukup dibuang ke udara. Gas menjadi bisnis yang tidak menarik pada saat  tahun 2008-2009, puncaknya Quartal 2 th 2008 ketika harga  menyentuh USD 139.96 / barel. 1a 

Tapi kita semua tahu, ketika moment Produsen minyak besar non-OPEC saat itu (embargo ekspor ke AS) ingin tetap menjadi raja minyak dan produksi melimpah dan mereka tidak mau mengurangi produksinya sementara demand tetap, maka pada tahun 2004, harga minyak berada pada level nadirnya, yaitu USD 36,31/barel. 1b

Lalu, di saat itulah, gas mulai menjadi asset besar para penggiat migas. Dahulu yang dibuang, lalu muncul istilah "dibuang sayang". Ketika tidak bisa lagi mendapatkan keuntungan besar dari sector minyak, maka sector gas menjadi sector utama. 

Para pembuang gas mulai melihat bahwa gas dapat memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Ingat, tinggi. Bahwa ketika mereka dituntut efisiensi besar-besaran, bahkan para perusahaan asing mem --PHK besar-besaran para karyawannya, maka perusahaan migas harus berusaha keras mengambil "sampah" untuk jadi "uang".

Lalu apakah serta merta mereka bisa mengambil sampah tersebut dan mendapat uang? Oh tentu tidak. 

Perjalanan panjang pun mereka harus lalui. Mulai dari melihat apa saja yang bisa di efisiensikan, kemudian, biaya-biaya yang bisa dipotong dan sumber daya apa saja yang bisa "menyelamatkan" field-field tersebut dari kerugian besar. Memang sepertinya mudah, tetapi tidak semudah orang awam berpikir.

Pembicaraan mengenai hukum pemanfaatan gas suar bakar pun bergulir. Sebenarnya suda sejak lama, hanya saja dicuekin, hehehe. Dan jangan lupa, ada permasalahan lingkungan juga pada maslah gas suar bakar. Jelas ketika pembakaran gas suar bakar tidak dikendalikan, maka emisi gas rumah kaca menjadi masalah lingkungan hidup.

Perjalanan peraturan gas suar bakar sampai pada saat Pak Ignatius Jonan sbagai menteri ESDM saat itu, mengeluarkan Peraturan Menteri No 32 Tahun 2017 tetntang Pemanfaatan dan Harga Jual Gas Suar Bakar Pada Kegiatan Usaha Hulu Migas pada tanggal 2 Mei 2017. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN