Diana Arnita
Diana Arnita Freelancer

Syukuri Jalani Nikmati

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Maafkan Anya

16 Mei 2019   08:26 Diperbarui: 16 Mei 2019   08:37 20 4 0

Sahabat. Satu kata bermakna dua. Sahabat mungkin saja menjadi sesorang yang akan selalu menyanyangi kita atau bahkan seseorang yang akan merampas semua yang kita punya.
Sore itu di taman aku duduk di gasebo membiarkan pikiranku entah terbang kemana. Semilir angin kala itu membuatku terlena dan lupa jika hari mulai gelap. Aku masih termenung entah apa yang ingin ku lakukan selanjutnya. Aku hanya terdiam. Berharap hari ini berakhir secepatnya. Sahabat yang selama ini aku sayangi, selama ini aku jaga perasaannya, nyatanya dia justru membuatku terluka, membuatku kembali merasakan apa itu kecewa.
Aku mengambil ponsel yang sedari tadi terletak diantara rerumputan di taman itu. Aku mencoba membuka layar yang terkunci. Aku buka aplikasi perpesanan. Aku membaca kembali pesan dari Arga, cowok yang selama ini mengisi ruang hatiku.
Arga : Dek nanti aku pulang, tapi aku bareng sama tita, habis magrib mungkin sampai rumah, nanti kita ketemu ya (
Aku : Lho kok bareng tita sih kak, emang harus ya bareng dia? Kan dia bisa dijemput kakaknya atau siapa gitu?
Arga : Kasian tita dek, lagian kan kalau dia minta dijemput belum tentu isya udah sampai sini.
Aku : Ohhh ok,
Arga : Yadah, aku berangkat dulu ya, kasian tita udah nungguin.
Aku : Cuma tita ya yang kamu kasiani?
Arga : Maksudnya?
Aku : Yadah sana berangkat, nanti tita malah kelamaan nunggunya.
Arga : ok, aku berangkat dulu ya :*
Apa iya dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan ini sangat-sangat membuatku merasa sakit. Airmataku pun menetes.
Tttiiinnn... suara klakson sepeda motor yang suaranya sudah tak asing lagi buat ku. Ya, akhirnya mereka datang.
"Hai.. Anya?" Nampak Tita melangkah girang mendekatiku.
"Hai juga, baru sampai?"
"Iya soalnya tadi mampir di masjid dulu solat."
"Oh." Ku lirik Tita asyik memainkan ponselnya.
"Aku lapar." Arga kini duduk di sampingku.
"Emh." Jawabku tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Hei, kenapa hlo?" Arga kini sudah beralih berjongkok di depanku.
"Gak papa." Aku menundukkan kepala menahan airmata yang akan mencoba mengalir.
"Kamu kenapa to?" tanya Arga yang mulai menunjukkan wajah kekhawatiran.
"Udah dibilang aku gak papa." Aku beranjak pergi dari tempat yang sangat membuatku muak ini.
"Anya?" Arga mencoba memanggil namun aku tetap tak peduli.
Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang sangat sepi ini. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Bahkan bulan dan bintang pun enggan menghibur hati yang tengah lara ini.
Setelah beberapa saat aku berjalan akhirnya aku tiba di rumah. Memang jarak antara taman dan rumahku tak jauh, hanya beberapa meter saja.
"Assalamualaikum." Aku membuka pintu dan memasuki rumah, dan segera masuk ke kamar. Aku merebahkan tubuhku diranjang tempat tidurku. Pikiranku menerawang. Entah apa yang mereka lakukan sekarang. Berdua di taman sepi seperti itu. Semakin aku memikirkan semakin sakit aku rasakan.
Drrrtttt.... Ada pesan masuk.
Arga : kamu kenapa dek? Kalau aku punya salah, aku minta maaf.
Aku : gak kok, kamu gak salah.
Arga : tolong bilang aja, kalau aku gak ada salah terus kenapa kamu ngindarin aku?
Aku : sebenernya aku ini siapanya kamu to? Kamu bilang ke orang-orang kalau aku ini pacarmu, tapi kok aku gak diperlakukan selayaknya pacar kamu?
Arga : ehh maaf dek, iya kamu itu pacar aku, aku salah apa?
Hanya aku baca, tanpa mau untuk membalasnya. Dan pesan dari Arga masuk lagi.
Arga : ohhh gara-gara aku bareng sama tita ya? Maafin aku ya dek, aku gatau kalau itu bikin kamu kecewa, maaf ya
Aku : gak papa
Arga : maafin aku dek, aku emang bodoh bisa-bisanya aku nyakitin cewek sebaik kamu, dan bodohnya aku gabisa peka sama perasaan kamu, maafin aku ya, aku janji gak akan mengulanginya lagi. MAAFIN AKU.
Aku : iya iya aku maafin
Arga : makasih ya, yadah besuk aku jemput jam 9, tak ajak main ke pantai ya.
Aku : ok
Aku tersenyum dan meletakkan ponsel di meja belajarku. Dan kemudian aku terlelap. Menikmati mimpi-mimpi indah yang datang menyapa.
Semburat cahaya mentari tlah nampak di balik bukit-bukit itu, aku bergegas mandi sesaat setelah aku terbangun dari tidurku. Air yang sejuk mulai mengalir ditubuhku, membawa kesegaran yang teramat sangat, hingga membuatku sedikit rileks dan melupakan pilu kemarin. Setelah selesai mandi, aku bergegas ke kamar dan mengganti pakaian. Setelah pakaian sudah aku ganti. Aku menatap ke cermin, menelurusi setiap inci dari tubuhku. Tubuh pendek, hidung yang sedikit mancung, pipi cubby, bibir merah, mata kecil, dan badan yang sedikit berisi. Cantik. Kata-kata itu yang selalu Arga gunakan untuk memujiku. Aku terus memandangi wajahku di cermin. Mengapa begitu mudahnya aku menerima perlakuan dia kemarin, apakah memang aku yang salah atau Arga yang salah? Entahlah yang aku mau hanya kedamaian dihati ini.
"Anya, ini Arga sudah datang." Suara ibuku membuyarkan lamunanku.
Astaga sudah jam berapa ini, aku melihat jam di layar ponselku, ternyata sudah menunjukkan pukul 08.50 pagi. Astaga aku belum siap, penampilanku masih berantakan seperti ini. Dengan sisa waktu yang ada aku segera merapikan diri dan bergegas menemui Arga yang saat ini duduk di ruangtamu bersama ibu sedang mengobrol.
"Arga, aku sudah siap, yuk berangkat, nanti keburu panas."
"Ohh ok siap." Arga beranjak keluar rumah, tanpa terlupa dia mencium tangan ibuku sebagai tanda dia meminta ijin.
"Nanti pulangnya jangan kemalaman ya!" pesan ibuku pada Arga.
"Iya buk." Jawab kami hampir bersamaan.
Segera aku naik keatas motor Arga dan berboncengan.
"Oo iya kita mampir ke rumah Tita dulu ya."
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Ya kan kita ke pantai mau bareng sama dia."
"Oh ok." Jawabku berusaha tenang.
Akhirnya kita sampai dirumah Tita. Dan seperti yang aku duga, mereka mengobrol terlalu asyik sampai melupakan aku yang saat ini juga berada diantara mereka. Dan akhirnya obrolan mereka berhenti saat ibunya Tita menyuruh kami untuk sarapan bareng. Dan kami pun mengiyakan.
Saat makanpun mereka masih saja asyik mengobrol, bahkan Tita mengambilkan lauk untuk Arga makan. Dan Argapun menerimanya dengan senang. Mereka terus saja mengobrol, bercanda tawa, dan hanya sesekali Arga berbicara padaku, hanya sekedar menyuruhku untuk segera makan.
Aku tak bisa diperlakukan seperti ini.
"Arga!"
"Iya Nya?"
"Aku mau pulang." Jawabku sambil bergegas pergi, tak peduli tatapan orang-orang yang menatapku heran. Aku terus berlari sekuat mungkin meninggalkan Arga yang hanya terdiam di sana.
Jarak yang cukup jauh antata rumahku dan rumahnya Tita cukup membuat aku kelelahan. Dan entah sejak kapan Arga sudah berada dibelakangku dengan sepeda motornya.
"Anya, ayo aku anterin pulang!"
"Maaf, aku bisa pulang sendiri." Tanpa banyak bicara lagi aku segera berlari sekuat mungkin. Dan sepertinya Arga tidak mengikuti aku lagi. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran Arga sekarang. Aku terus berlari sampai akhirnya aku tiba di rumah.
"Lho Anya? Kok balik pulang? Arganya mana?" Nampak ibuku terlihat cemas.
"Aku gak tahu buk, aku capek, aku mau tidur." Jawabku singkat dan segera bergegas memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Segera aku rebahkan tubuhku di ranjang. Airmata terus mengalir. Dadaku terasa sesak. Kepala terasa sakit. Dan kakiku juga terasa sangat ngilu. Entah ini karena kelelahan berlari atau karena hati yang tersakiti lagi. Pikiranku jauh menerawang. Dan tiba-tiba pandanganku mulai kabur dan akhirnya gelap.
"Anya, Anya, bangun nak!" Suara ibuku sayup-sayup terdengar olehku. Aku mencoba membuka mataku secara perlahan. Lambat laun keadaan sekitar mulai terlihat jelas olehku. Dan aku tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Buk, kenapa aku disini?" tanyaku dengan suara lemah, karena kepalaku terasa begitu sakit.
"Kamu tadi pingsan dan ibu sengaja membawa kamu kesini dibantu Om Rayi. Om Rayi tadi berusaha mendobrak pintu kamar kamu, jadi sekarang rusak."
"Maaf ya buk kalau Anya sudah ngrepotin ibuk." Kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak kok nak, kamu gak ngrepotin ibu. Sebenarnya kamu kenapa?"
"Maaf buk, tadi pagi Anya lupa sarapan."
"Yasudah kalau begitu sekarang kamu makan ya!"
Ibuku berusaha menyuapi aku. Dan bisa ku lihat jelas bahwa ibu sedih. Aku tak ingin membuat ibu sedih. Aku ingin membuat ibu bahagia. Dan aku mau membuat ibu bangga sama aku. Toh selama ini yang berjuang tulus untuk kebahagian aku ya cuma ibu. Ibu yang selama ini mengobati luka-luka dihati aku dengan kasih sayangnya. Tak seharusnya aku merusak kembali hati yang ibu obati ini dengan memberikan kepada lelaki yang tak baik itu. Mulai sekarang aku berjanji akan melupakan Arga dan akan fokus memberikan kebahagiaan pada ibu.
"Arga kemana buk?" Tanyaku dengan suara parau.
"Ibu tidak tahu nak, kenapa kamu masih memikirkan lelaki itu, bukannya dia yang sudah membuatmu seperti ini." Dengan sabar ibu mengusap dahiku tanda dia begitu menyayangiku.
"Buk, maafin Anya ya, Anya sayang sama ibuk, Anya gak mau bikin ibu sedih." Ucapku sembari mencium tangan ibuku
"Ibu juga sayang sama kamu nak." Satu kecupan hangat dikeningku telah ibu berikan. Memberikan perasaan damai yang teramat dalam.