Mohon tunggu...
Diajeng Suryowardoyo
Diajeng Suryowardoyo Mohon Tunggu... Citizen Journalist

Penikmat Isu-Isu Ekonomi

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

SJW adalah?

26 Oktober 2020   05:30 Diperbarui: 26 Oktober 2020   05:32 14 0 0 Mohon Tunggu...

SJW pura2nya pejuang keadilan sosial. Tapi sebenarnya personifikasinya hanya anti kemapanan saja dan anti sosial bergaji dolar  dipelihara kalangan liberalis barat.  Mereka  Anti pemerintahan yang nasionalis karena kaum nasionalis selalu menghalangi peran asing dalam mengambil alih tambang di dalam negri. Bagi mereka petugas keamanan dalam negri adalah penindas, sedangkan perusahaan asing adalah sinterklas.

Mereka juga anti kelembagaan, anti korporasi, menyerukan pembangkangan sipil, anti pembangunan.  Tapi ngga anti pakai smartphone (walaupun itu buatan korporasi besar).
Mereka juga ngga anti dapat honor sebagai anggota pansel atau proyek pengawasan, kendati itu proyek dari aparat sipil negara yang mereka kritik habis.

Mereka juga Anti bupati atau mentri yang rajin melakukan pembangunan, tapi suka duitnya kalau dikasih proyek utk pengawasan pemilu. Satu-satunya masalah bagi mereka adalah gubernur yang kerja betul itu bisa menggusur warga yang tinggal di pinggir kali. Padahal warga yang terjepit itu adalah alat sehri-hari mereka untuk mengkritik negara dan mempersoalkan HAM.Mereka Anti sawit namun tak anti duit hasil hutan dari Pengusaha kertas Norwegia yang menjadi sponsornya.

Anti korupsi tapi ngga anti persekongkolan serikat karyawan penyidik yang korupsi.Siapa sj orang2 yg mengklaim atau mempersonifikasikan dirinya sbg SJW di sini?

Mereka tersebar luas mulai dari para aktivis lingkungan hidup sampai wartawan. Dari pejuang ham sampai tokoh LBH. Tersebar dari majalah Tempo sampai narator talkshow yang dibiayai grup GT dan DJ yang punya bank swasta terbesar. Dari jurubicara kementrian yang memprovokasi demo anti UU KPK di Jogja yang menyamar jadi konsultan pajak, sampai aktivis HAM yang brewokan. Dari peneliti antikorupsi di Jogja dan Padang sampai ketua LBH. Dari para pendemo yang celanga-celongo yang suka bakar ban di jalan Pettarani Makasar sampai yang pejuang LGBT.Mereka akhirnya hanya merongrong negara. Selalu curiga bahwa makanan enak yang disajikan "sudah diludahi juru masaknya di dapur sana" hanya karena dia ngga berani masuk ke dapur karena ngga mau kena bau asapnya.

Duh SJW. Ngga ada gunanya selain cari panggung dan numpang exist

VIDEO PILIHAN