Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe dosen

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight headline

Mengulik Pasar Tanjung hingga Ujung Murung

19 Juni 2017   10:07 Diperbarui: 19 Juni 2017   11:14 292 1 0
Mengulik Pasar Tanjung hingga Ujung Murung
Pasar Bauntung-Tanjung, Kalimantan Selatan (dok.pri).

Konon, kata para pelancong yang saya temui setiap kali jalan bersama, biasanya tidak melupakan dua hal setiap mengunjungi sebuah tempat. "Jika ingin mengetahui keseriusan pemerintahnya dalam melayani masyarakat, cobalah naik angkutan umumnya. Jika ingin mengetahui karakter penduduknya, cobalah mengunjungi pasar tradisionalnya". Saya sepakat, karena di dua tempat tersebutlah penduduk setempat melakukan mobilisasi. Kali ini saya berkesampatan diajak blusukan di Pasar Bauntung untuk melihat arwana-arwana yang siap untuk digoreng.

Sesaat rekan seperjalanan saya yang kebetulan orang setempat sempat ragu menerima ajakan saya. "Bang, enakan main di taman, kafe, atau mall," katanya. "Di tempatku banyak yang gituan, dah ayok ke pasar." Mimik wajahnya menandakan seolah berkata, "Oke... oke...." mengiyakan dengan berat. Masuklah saya di Pasar Bauntung di Kabupaten Tabalong di Kalimantan Selatan.

Pasar Bauntung adalah salah satu pasar terbesar di Tabalong, bisa dikatakan sebagai pasar utama. Pasar yang persis di tepi Sungai Tabalong menarik hati saya untuk mengunjungi karena pasti setiap pasar memiliki ciri khasnya masing-masing. Namun, sebelum masuk pasar, alangkah tidak salahnya untuk mencecap makanan khas yang ada di sana.

Warung makan Ujung Murung milik Hj.Aisyiah yang selalu ramai dikunjungi pelanggan (dok.pri).
Warung makan Ujung Murung milik Hj.Aisyiah yang selalu ramai dikunjungi pelanggan (dok.pri).

Warung Ujung Murung, entah apa namanya apakah letaknya yang di ujung atau pemiliknya sedang di ujung kegundahan. Hajah Aisyiah adalah pemilik warung yang siang itu penuh sesak dengan pengunjung yang hendak bersantap siang. Hidung saya seperti hidung marmut manakala mencium aroma sedap, bak anjing pelacak segera saya mencari dari mana asalnya sumber bau tersebut.

Dapur yang terletak di samping ruang makan, mengepulkan asap putih beraromakan iwak. Orang Tanjung menyebut ikan air tawar dengan sebutan iwak, jika di Jawa kata iwak identik dengan daging (iwak sapi, iwak lele). Beberapa jenis iwak dijajarkan dalam nampan, siap untuk dibumbui lalu dipanggang. Gabus, patin, nila, peda, ayam, bebek, aung, adalah jenis-jenis iwak yang siap untuk dipepes atau dipanggang.

Menu utama warung makan ujung murung adalah iwak-iwak air tawar (dok.pri).
Menu utama warung makan ujung murung adalah iwak-iwak air tawar (dok.pri).

Akhirnya segelas es jeruk, sepiring bebek panggang, telur ikan gabus, sudah ada di meja makan. Tidak lupa bergerilya di meja makan rekan-rekan, minta cicip sana cicip sini untuk melakukans studi banding rasa. Hal demikian juga dirasakan sesama pelancong. Siang ini Hj. Aisyiah sudah memanjakan kami dengan kuliner khas Pasar Tanjung.

Sesaat setelah lambung dan usus ini bersahabat, saatnya mengulik isi Pasar Bauntung di Tanjung-Tabalong. Tujuan pertama adalah mengunjungi kios yang menjual aneka macam peralatan rumah tangga khas Kalimantan Selatan. Sebagian besar barang dagangan yang dijual adalah wujud anyaman. Tikar, topi, keranjang, tas, dan masih banyak lagi terbuat dari daun tumbuhan rawa yang dikeringkan lalu dianyam. Sejenak saya menanyakan harga beberapa barang walau tidak berniat membelinya.

Kerajinan tangan Tanjung yang murah meriah (dok.pri).
Kerajinan tangan Tanjung yang murah meriah (dok.pri).

"Topi ada yang Rp5 ribu dan Rp10 ribu, keranjang ini Rp20 ribu, itu Rp25 ribu, yang besar Rp50 ribu, tikar Rp30 ribu," kata penjualnya sambil menunjuk per masing-masing barang. Saya menelan ludah seolah tidak percaya. Beberapa waktu yang lalu saya melihat barang serupa dan sudah masuk galeri, topi seharga Rp5 ribu dijual Rp60 ribu dan keranjang Rp25 ribu dijual Rp125 ribu. "Terlalu". Dengan model dan bahan yang sama, harganya jauh berbeda, mungkin tempat dan pembeli juga ada sekatnya.

Los ikan menjadi incaran saya untuk melihat ikan-ikan lokal yang ada di Tanjung. Saya mencoba menanyakan kira-kira ikan apa yang paling mahal di sini dan dibuat apa. Rekor paling mahal adalah ikan betok atau masyarakat setempat menyebutnya dengan papuyu. Ikan yang dihargai Rp 100.000,00 per kg memang sangat disukai masyarakat dan menjadi menu kuliner yang sangat lezat. Iwak papuyu baik yang dibakar, goreng, pepes adalah yang paling enak. Selain dagingnya yang tebal, juga teksturnya yang kesat. Ikan ini hidup liar di sungai dan rawa-rawa. Cara menangkapnya yang susah, membuat ikan ini memang langka keberadaanya dan pantas harganya paling mahal.

Ikan jalawat atau arwana yang dibudidayakan untuk ikan konsumsi (dok.pri).
Ikan jalawat atau arwana yang dibudidayakan untuk ikan konsumsi (dok.pri).

Saya terpesona kepada salah satu jenis ikan khas Kalimantan, yakni arwana. Jika di beberapa tempat, arwana adalah ikan hias, di sini dijadikan bahan konsumsi. Arwana atau masyarakat menyebut dengan jalawat adalah salah satu jenis ikan arwana lokal yang dibudidayakan dengan cara keramba. Ikan tomang atau sejenis gabus dihargai Rp35 ribu/kg karena jumlahnya banyak dan tidak banyak yang meminati, berbeda dengan gabus liar yang dihargai Rp50 ribu/kg.

Saya semakin memahami, di antara ikan-ikan tersebut juga diperjualbelikan ikan laut, namun banyak yang memilih ikan air tawar. Konsumsi ikan masyarakat di sini sangat tinggi, dilihat dari stok ikan di los ikan yang sangat banyak. Beberapa warung makan juga menyediakan menu makanan khas Tabalong, yakni paliat yang kebanyakan adalah berbahan iwak.

Makanan khas tanjung Paliat ikan patin (kanan), nangka goreng (kiri atas), dan telur ikan gabus (kiri bawah) (dok.pri).
Makanan khas tanjung Paliat ikan patin (kanan), nangka goreng (kiri atas), dan telur ikan gabus (kiri bawah) (dok.pri).

Paliat adalah akronim dari kelapa dan liat (pekat). Makanan ini terbuat dari santan yang kental yang di dalamnya berisi daging-daging ikan. Selain santan yang kental, paliat juga tampak khas dengan warna kuning dari kunyit dan rasa asam dari jeruk limau. Nama paliat sendiri asalnya dari nama sebuah desa di Kecamatan Kelua-Tabalong yang memiliki makanan khas ini. Mungkin di tempat lain menyebut makanan ini dengan opor, namun yang menjadi khas di Tabalong adalah ikan-ikan air tawar yang menjadi masakannya.

Moda transportasi sudah, blusukan pasar sudah, namun untuk mengetahui selera makan masyarakat setempat, harus dicoba kuliner lokalnya. Selain transportasi, pasar, yang menjadi menu wajib, ternyata warung makan adalah yang utama sebab selera warga ada di sana.