Mohon tunggu...
Dewi Nurbaiti (DNU)
Dewi Nurbaiti (DNU) Mohon Tunggu... Lecturer at Kalbis Institute

an Introvert who speak by write

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pernah Memikirkan Psikis Anak Saat Lockdown?

31 Mei 2020   13:42 Diperbarui: 31 Mei 2020   13:49 41 0 0 Mohon Tunggu...

Anak-anak yang sejatinya tumbuh dalam suasana ceria, dunianya adalah bermain dan berlari, seketika harus berhenti akibat serangan wabah virus Covid-19. Rutinitas bangun pagi, mandi dan bersiap pergi ke sekolah untuk belajar sambil bermain mendadak harus dihentikan karena alasan agar virus semakin menyebar. Mereka diharuskan belajar di rumah, bermain di rumah dan semuanya dilakukan di rumah. 

Kegiatan menimba ilmu yang sedianya dilakukan oleh Bapak/Ibu guru di kelas pada masa ini harus digantikan oleh Bunda atau Ayah di rumah. Jelas ada perbedaan pola mengajar di sini antara guru di sekolah versus orang tua sebagai guru di rumah. 

Bunda atau Ayah apakah masih ingat saat-saat pertama menjadi guru untuk anak di rumah? Bunda kadang marah, emosi, gemas, kesal akibat harus mendampingi anak belajar sambil memasak, gendong adik, cuci baju, membersihkan lantai dan segudang pekerjaan rumah lainnya, dan kekesalan itu semua ditumpahkan kepada anak dengan alasan anak sulit diajarkan. 

Bunda sampaikan masukan kepada Guru bahwa Bunda merasa tidak berbakat mengajar, bukan passionnya, bukan ahlinya dan bukan semuanya. Siapa yang harus menahan sedih di sini? Anak. Dia sedih karena dimarahi setiap kali belajar, ada saja alasan yang membuat Bunda angkat tangan. Belum lagi kalau anak tidak sengaja menumpahkan minuman, Bunda bak serigala.

Sedikit banyak anak mungkin mengerti apa apa itu virus corona, mengapa kita semua harus meningkatkan kebersihan, mengapa kita harus mengurangi bertemu teman, mengapa banyak yang menutup akses jalan, dan mengapa-mengapa lainnya. 

Tapi anak mungkin gagal paham mengapa Bundanya kerap komplen dan bertanduk saat anak belajar. Pernahkah Bunda membayangkan bagaimana perasaan anak saat dengan terbuka Bunda menyatakan tak mampu menjadi guru baginya? 

Mungkin saja di hati kecilnya anak bersedih dan menangis karena ia tengah bahagia bisa diajar oleh Bunda tersayang, lebih dekat dengan Bunda setiap harinya, merasa Bunda adalah orang yang paling mengerti dirinya. Tapi Bunda justru menyerah.

Si kecil yang fitrahnya bermain, saat virus mewabah harus bersedia diam di rumah. Anak mencoba paham, tidak rewel minta ke mall, tidak merengek minta main sepeda keliling kampung, tidak meronta saat tidak boleh bermain bola di luar rumah, anak juga harus memendam rindu berpisah dengan teman-teman sekolahnya, anak juga harus menahan hasratnya tidak berkumpul untuk mengaji di musholla. Sedangkan sekali lagi, dunianya anak-anak adalah bermain, tertawa, gembira bersama-sama. 

Namun apa yang terjadi pada anak? Mereka patuh agar selalu berada di dalam rumah, tapi mereka juga tunduk jika Bunda tengah marah. Ayah dan Bunda punya beban berat di tengah wabah seperti ini, tapi jangan lupa anak juga kehilangan waktu bersama teman-temannya. Dengan kondisi ini mungkin saja anak berharap Ayah Bunda yang akan menjadi teman terbaiknya di rumah. Lantas bagaimana rasanya kalau anak bahagia akan belajar bersama Bunda tapi di tengaj pembelajaran Bunda marah lalu menyerah? Mereka pasti sedih.

Lalu, apakah Bunda tidak boleh mengibarkan bendera putih saat menjadi guru bagi anak? Boleh saja, karena memang tidak semua manusia memiliki bakat mengajar, ada yang sabar, ada yang sebaliknya. Belum lagi tumpukan beban lainnya yang semakin memberatkan. Bunda bisa diskusi dengan guru di sekolah atau partner lain di rumah, agar bisa mencapai jalan keluar yang terbaik.

Dibalik itu semua, tentu masih banyak orang tua yang justru memanfaatkan situasi seperti ini sebagai masa-masa lebih dekat dengan anak, mulai dari belajar, bermain, makan dan beragam aktifitas lainnya. Full 24 jam sama anak, bagi bunda yang juga bekerja dari rumah. Bagaimana yang masih harus bekerja di luar rumah? InsyaAllah tetap ada masa-masa terbaiknya.

Memasuki era new normal orang tua gundah jika anak harus segera belajar di sekolah. Baiklah gundah ini salah satu bentuk kasih sayang Ayah Bunda. Tapi jangan jadi serba salah, tak ingin anak segera masuk ke sekolah tapi juga anak selalu salah saat belajar di rumah. Ada saja salahnya yang buat Bunda marah, pelajarannya, bukunya, pensilnya, pulpennya, waktunya, seragamnya, fotonya, videonya, gerakannya, tugasnya, handphonenya, kameranya, mejanya, kursinya, lantainya semuanya! Kumpul jadi satu, anak yang disemprot! Kasihan, Bund! Anak cuma patuh dia harus belajar di rumah. Sudah itu saja. Bukan justru jadi bulan-bulanan tak berkesudahan.

Kita tidak tahu seberapa tertekan anak dengan situasi ini, tidak bisa berlarian bersama teman, harus diam di rumah tapi selalu salah. Yuk mulai sekarang kita jadi teman terbaik buat anak, sebagaimana harapan mereka terhadap kita para orang tuanya. Semoga situasi segera membaik dan kebahagiaan keluarga kelak menjadi lebih baik. Aamiin.

(dnu, ditulis sambil makan kue lumpur bikinan temen yang luar biasa, 31 Juni 2020, 13.24 WIB)

VIDEO PILIHAN