Dewi Nurbaiti (DNU)
Dewi Nurbaiti (DNU) karyawan swasta

Dreamer to be a Bidadari Syurga - Ibu 2 anak - Karyawati Swasta - Mahasiswi Strata 2 - Professional Volunteerism for Marginal Children & Education - Author at www.tulisandnu.net - Owner Online Shop - Fun Runner - dengan kegemaran tak berkesudahan untuk menulis... Karena menulis lebih dari sekedar berbicara...

Selanjutnya

Tutup

Tekno highlight headline

Instagram Bisa Mengancam Keberlangsungan Program Infotainment

5 Oktober 2017   22:29 Diperbarui: 6 Oktober 2017   07:36 1407 10 2
Instagram Bisa Mengancam Keberlangsungan Program Infotainment
Ilustrasi. 9to5mac.com

Setiap pagi selepas suami dan anak-anak meninggalkan rumah untuk menunaikan aktivitasnya masing-masing saya kian sempat menonton televisi sebelum saya sendiri berangkat bekerja. Kurang lebih selama satu jam saya memiliki waktu khusus untuk bersandar santai sambil memilih tayangan televisi yang ringan dan menghibur. 

Pilihan jatuh pada program seru yang menayangkan informasi-informasi ringan terkait selebriti tanah air. Sekali lagi, hampir setiap hari saya menyaksikan tayangan ini, dan hampir setiap hari pula saya melihat beberapa kejanggalan tayangan yang saya amat menyayangkannya sekaligus berfikir akan masa depan profesi wartawan dunia informasi selebriti ini.

Hal yang membuat saya janggal dan pada akhirnya amat menyayangkan adalah seputar pemberian informasi-informasi para publik figur, di mana info yang disajikannya tersebut tidak didapatkan secara langsung dari selebriti terkait, melainkan dari akun media sosialnya yakni instagram. 

Banyak sekali tayangan berita selebriti yang hanya berupa potongan gambar, capture halaman instagram seorang selebriti, dan juga capture halaman instagram yang berisi komentar-komentar dari pengikut maupun haters selebriti yang dimaksud. Sehingga dalam tayangan ini tidak terdapat wawancara langsung dengan sang artis ataupun hal pencarian berita secara langsung lainnya, melainkan hanya gambar, gambar dan gambar saja.

Hal berikutnya yang saya soroti dari kasus ini adalah mengenai tayangan infotainment yang terasa tak hidup jika isi berita yang ditampilkan hanya berupa gambar-gambar mati alias gambar tak bergerak saja. Mungkin bisa dikatakan jenuh, tidak dinamis dan terkesan datar-datar saja penerimaannya bagi penonton, karena gelojak rasa ataupun emosi yang biasanya timbul dari gambar-gambar hidup kini tak lagi terbangkitkan jika hanya dengan gambar-gambar statis saja. 

Selain itu saya juga berfikir dengan adanya kenyataan seperti ini apakah berarti para wartawan infotainment perlu waspada terkait keberlangsungan pekerjaan mereka? Di mana cara-cara mencari berita kini telah amat mudah, rendah biaya dan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkannya. 

Seperti yang telah secara umum diketahui di mana perusahaan pencetak buku, koran atau majalah kini tengah diujung tanduk karena seiring perkembangan zaman, budaya membaca kertas pun berubah ke budaya membaca gadget, di sini jelas terlihat bahwa perusahaan percetakan bukan dikalahkan oleh pesaing bisnis sejenisnya, melainkan oleh perusahaan penyedia aplikasi gadget ataupun elektronik.

Contoh lainnya adalah perusahaan telekomunikasi yang telah jelas-jelas telah hadir pesaing barunya bagi mereka yang juga bukan dari bisnis sejenis, melainkan dari perbankan, di mana Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah meluncurkan satelitnya sendiri yang diberi nama BRISat. Lalu bagaimana pula dengan pertanyaan, apa kabar dunia perbankan beberapa tahun mendatang di tengah gempuran transaksi keuangan via paypall dan sejenisnya?

Seperti halnya dengan dunia perbankan, maka bukan tidak mungkin sebuah profesi "kuli tinta" dapat terancam keberlangsungannya karena lagi-lagi kehadiran aplikasi media sosial yang mampu menyediakan segalanya. Terlihat jelas bahwa yang mengancam profesi wartawan infotainment bukanlah profesi yang mirip, senada dan seirama, melainkan oleh sebuah aplikasi media sosial.

Di sisi lain saya mengakui memang saat ini media sosial milik selebriti terutama instagram telah menjadi salah satu sumber berita yang tingkat validitasnya boleh dipercaya, karena yang mengunggah foto ataupun kalimat-kalimat lainnya kemungkinan besar dilakukan oleh selebriti itu sendiri. Bagi pihak televisi ketersediaan media sosial milik artis ini mungkin menjadi salah satu ladang berita yang baik, yang amat mudah untuk mendapatkan informasi terkini, dan amat meringankan proses kerjanya. 

Mungkin ada berita-berita yang perlu dilakukan pengejaran ke lokasi secara langsung, namun jika saya perhatikan cukup banyak juga pencarian berita dilakukan direct melalui media sosial milik seorang selebriti. Sehingga sekali lagi dapat dikatakan media sosial adalah wadah yang cukup efektif dan efisien bagi sebuah stasiun televisi dalam mencari informasi selebriti. Namun pihak stasiun televisi hendaknya perlu memperhatikan bagaimana tingkat penerimaan pemirsa di rumah terkait dengan tayangan yang hanya mengambil gambar dari media sosial saja, yang sebenarnya menjadi tak lagi indah karena apa yang dicapture televisi sebenarnya bisa kita lihat sendiri langsung ke media sosial milik sang selebriti.

Saat ini instagram memang telah menjadi sasaran utama bagi para penikmat berita selebriti, di mana ketika ingin mengetahui kabar terbaru mengenai artis idolanya langsung saja warganet menyasar berbagai akun instagram baik akun idolanya langsung maupun akun penyedia berita para idola. Tidak bisa dipungkiri kecepatan akun instagram penyedia berita selebriti kini jauh lebih cepat pembaharuannya dibandingkan dengan tayangan infotainment di televisi.

Hal ini mengakibatkan banyak warganet yang semakin kencang larinya menuju instagram ketimbang menanti tayangan televisi. Lalu apakah lagi-lagi suatu bisnis akan menurun profitnya akibat dari ancaman bisnis yang tidak sejenis? Bagaimana jika benar program infotainment di televisi akan turun ratingnya karena kehadiran aplikasi instagram? Bisa saja.

Para pelaku bisnis apapun saat ini memang benar-benar perlu waspada tingkat tinggi, karena yang disebut dengan kompetitor kini tak melulu harus yang sejenis, tetapi bisa saja dari yang benar-benar berbeda. 

(dnu, ditulis sambil nonton suca, 5 Oktober 2017, 21.29 WIB)