Mohon tunggu...
dewi mayaratih
dewi mayaratih Mohon Tunggu... konsultan

suka nulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tantangan Pluralisme Asia

5 Maret 2020   04:00 Diperbarui: 5 Maret 2020   04:04 98 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tantangan Pluralisme Asia
Intisari

Pergolakan politik di beberapa negara Asia memang menarik untuk dikaji. Terutama karena luasnya wilayah dan beragamnya etnis pada mereka. India misalnya. Jazirah yang melahirkan setidaknya dua agama besar yaitu Budha dan Hindu ini punya sejarah menarik untuk dipelajari.

Mungkin India amat identik dengan Mahatma Gandhi dan Jawaharal Nehru saat mereka melawan penjajah dan akhirnya berhasil mendeklarasikan kemerdekaan. Gandhi punya beberapa ajaran yang sampai sekarang diikuti yaitu melawan tanpa kekerasan yaitu ahimsa.

Nehru mendirikan Partai Kongres untuk meneruskan cita-cita politiknya. Partai kongres mengusung faham Nasionalisme yang menjunjung tinggi HAM, kebebasan dan kesetaraan. Cita-cita partai kongres yang berhasil memimpin India sampai sekitar tahun 1980-an ini sempat dipuji oleh PBB sebagai negeri demokrasi terbesar di dunia. Namun karena banyak perubahan dan berbagai krisis harus dihadapi khususnya politik dan ekonomi, partai bentukan Nehru ini melemah.

Dominasi politik India kemudian beralih ke partai BJP (Bharatiya Janata Party) yang bersifat religius Hindu. Partai ini mulai populer di kalangan masyarakat Hindu yang memang mayoritas beragama Hindu karena BJP kerap memafaatkan isu SARA. Di beberapa negara bagian India, BJP amat populer karena menyerukan soal kepentingan membangun supremasi agama Hindu sebagai identitas India. Politik identitas memang menjadi andlan bagi BJP.

Dengan mengusung semangat 'kekhalifahan Hinduisme'partai BJP menang pada Pemilu tahun 2014 dan 2019.Pimpinan BJP, Narendra Modi pun menjadi Perdana Menteri (PM). Parlemen India pun dikuasai BJP. Saat itu, beberapa media asing mengatakan bahwa kemenangan mutlak BJP ini akan membawa bentrokan ideologis yang parah di India. Prediksi ini ternyata betul.

Berbagai kebijakan Modi mengisyaratkan bahwa dia memang ingin menegakkan supremasi Hindu di India. Alasannya, beberapa negara seperti Pakistan dan Bangladesh bisa menerapkan hukum Islam, sehingga menurut Modi, wajar mereka menerapkan hukum Hindu.

Pada masa Modi bentrokan demi bentrokan terjadi karena alasan agama. Demokrasi dan kesetaraan yang pernah diusung oleh Nehru nyaris tidak punya pengaruh apa-apa. Demokrasi kini mati di India.

Mungkin ini contoh yang baik bagi Indonesia dalam memahami demokrasi dan perjalanannya. Demokrasi Indonesia berjalan dengan baik terutama setelah reformasi, tapi --mirip cita-cita Modi- kaum-kaum intoleransi selalu inginkan kekhalifahan Islam di Indonesia- sesuatu yang bertentangan dengan negara kita yang berdasar Pancasila.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x