Mohon tunggu...
dewi laily purnamasari
dewi laily purnamasari Mohon Tunggu... Dosen - bismillah ... love the al qur'an, travelling around the world, and photography

iman islam ihsan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sepotong Sandwich Buat Bu Tiyah

3 April 2024   12:03 Diperbarui: 3 April 2024   17:02 78
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Hiruk pikuk pasar di bulan Ramadan terasa menyesakkan dada Bu Tiyah. 

Sejak sahur tadi berkecamuk di benaknya, akan makan apa hari ini? Tadi sore sudah habis tandas beras dari ember merah ukuran 5 liter. Tak bersisa. Sepekan ini tak ada yang memanggilnya untuk memijat. 

Usianya sudah kepala enam. Suami sakit-sakitan setelah operasi prostat dua tahun lalu. Tak bisa lagi mencari nafkah dengan mengojek. Tadi pagi Bu Tiyah marah-marah sambil menahan tangis. Air sudah di ujung pelupuk.  "Paaak! Bangun ... Jangan molor aja kalau abis subuh tuh. Rezeki dipatok ayam," sungut bu Tiyah sambil menggoyangkan badan suaminya yang tertidur di tikar depan televisi yang masih menayangkan siaran pagi.

"Bantuin jagain Mbok ya ... Itu masih tidur di kamar. Nanti kalau pingin sarapan masih ada nasi sedikit dan telur dadar di meja," lanjut Bu Tiyah mengingatkan suaminya agar menjaga ibunya yang sudah berumur delapan puluh tahun lebih dan tidak bisa lagi puasa karena penyakit maag.

"Aku mau ke pasar. Ada uang gak?" tanya Bu Tiyah. Suaminya yang belum sadar 100 persen hanya melongo dan menggeleng.

Bu Tiyah segera menyambar kerudungnya. Sambil menuntun Nia cicitnya yang umur empat tahun dan berpesan kepada cucunya siswa kelas 1 SMP yang sudah siap berangkat sekolah, "Adi ... Hari ini belum bisa bayar patungan bukber sekolah. Bilangin Bu Guru, Mbah belum ada duit." Adi cuma bisa mengangguk dan mencium tangan neneknya.

Mereka sama-sama keluar rumah, Adi ke arah kanan dan Bu Tiyah ke arah kiri.

Nia terseok mengikuti langkah Bu Tiyah menuju rumah di komplek yang berada di depan gang sempit rumah mereka. Ada harapan dapat pinjaman uang dari Bu Sari yang biasa dipijat jika pegal sehabis dari luar kota.

"Assalamu'alaikum ... Permisi, Bu Sari..." kata Bu Tiyah di depan pagar hitam. Ada pohon kamboja sedang berbunga lebat. Wangi ... Namun, hati Bu Tiyah sedang keruh tidak bisa menikmati keindahan di depan matanya.

"Masuk Bu ..." kata Bu Sari. "Aku gak pegal kok ... He3 ..." lanjutnya.

"Maaf ya Bu ... Boleh pinjam seratus. Ini dompet kosong melompong belum ada yang panggil mijet," kata Bu Tiyah lugas. Memang begitu adatnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun