Mohon tunggu...
Sri DewianaDaulay
Sri DewianaDaulay Mohon Tunggu... mahasiswi

Sri Dewiana Daulay mahasiswi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Konseling Traumatik terhadap Situasi Trauma Individu atau Masyarakat Umum Akibat Pandemi Covid-19

14 Agustus 2020   15:58 Diperbarui: 14 Agustus 2020   16:39 28 0 0 Mohon Tunggu...

Covid 19 (Corona Virus) adalah sebuah penyakit yang menular yang disebabkan virus baru yaitu corona virus. Corona virus merupakan virus yang dapat menularkan kepada manusia dan hewan. Virus ini menyerang area pernafasan. Virus ini pertama kali meyebar di wuhan, China pada 2019 silam. Virus ini merupakan pendemi yang penyebaran nya cukup signifikan. Virus tersebut dapat dengan mudah menginfeksi siapa saja sehingga penyebaran nya cukup cepat dan menyebabkan banyak korban jiwa. Virus ini sekarang menjadi sebuah pendemi yang menyerang hampir di seluruh dunia. 

Pada awal maret 2020, Virus Corona (Covid 19) mulai memasuki Indonesia. Peperangan pun dimulai untuk menghadapi pendemi Virus Corona (Covid 19) ini. Seperti yang kita ketahui pastinya dengan masuknya Covid 19 ini pasti akan memberikan dampak secara tidak langsung terhadap negara Indonesia. Dengan masuknya Virus Corona (Covid 19) di Indonesia, hampir 80% responden dari Indonesia takut tertular penyakit ini, tentunya karena didasari oleh belum adanya vaksin untuk mengatasi Virus Corona ini di seluruh dunia. 

Corona virus dapat menyerang siapa saja dalam segala usia, baik anak-anak, orang dewasa maupun lansia. Namun kebanyakan virus ini lebih rentan menyerang lansia yang memiliri riwayat medis yang buruk. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja juga memiliki resiko penularan yang sama dengan lansia namun anak-anak dan remaja tidak terlalu rentan dikarenakan mereka biasanya memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Namun anak-anak dan remaja juga harus mengikuti protokol kesehatan yang sama dengan usia lainnya. 

Pendemi virus corona (Covid 19) juga bisa berdampak pada kesehatan mental anak-anak. Pembatasan aktivitas di luar rumah meyebabkan anak-anak bisa saja mengalami stress, cemas, atau sedih. Anak-anak pun juga sama dengan tingkatan usia yang lain mereka pun pasti akan merasakan "kehilangan" kehidupan normal mereka seperti biasanya. Sebagian besar anak remaja atau orang dewasa akan kuat menghadapi stress atau trauma yang parah. Namun, pada anak-anak bisa menjadi trauma lebih lama. Anak-anak yang sudah memiliki masalah kesehatan mental sebelumnya juga beresiko lebih tinggi untuk masalah kesehatan mental yang lebih lama.

Manusia senantiasa mendambakan kehidupan yang nyaman, aman, tentram dan bahagia. Untuk mencapai kehidupan tersebut, mereka berusaha menghindari kehidupan yang merugikan. Dengan munculnya tragedi virus corona (Covid 19) yang kian merajalela mengakibatkan kehidupan yang merugikan yang memunculkan penderitaan bagi individu. Penderitaan tersebut disebabkan oleh rasa takut yang berlebihan.

Perasaan takut yang berlangsung lama sering kali tidak dapat teramati, kecuali ia menunjukkan bentuknya dalam gejala trauma yang sering disebut dengan sindrom trauma. Perasaan takut yang berlangsung lama akan terbiasa dengan kehidupan sehari-hari, sehinga tidak dapat dibedakan antara perasaan takut yang disebut dengan sindrom trauma.

Kondisi seperti ini akan mempengaruhi fungsi adaptif  individu dengan lingkungannya. Seringkali peristiwa traumatik akan sangat menyakitkan sehingga bantuan dari para ahli akan diperlukan dalam mengatasi trauma yang dialami. Dan trauma itu sendiri merupakan suatu kondisi emosional yang berkembang setelah suatu peristiwa trauma yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan, dan menjengkelkan.  Contohnya seperti kasus yang saya  temukan dalam sebuah artikel di mana kejadian yang dialami tenaga medis Covid 19 di Palembang yang ditolak warga untuk tinggal di indekos karena ketakutan warga terhadap menyebarnya virus corona apabila pihak medis keluar masuk indekos. Kejadian ini yang menyebabkan trauma sejak ditolak warga untuk tinggal di indekos. Trauma tersebut membuat tenaga medis enggan kembali ke indekos dan memilih tinggal dirumah sakit.

Covid 19 merupakan bencana yang cukup fatal bagi manusia. Kejadian ini juga menyebabkan Post Traumtic Stress Disorder (PTSD), yang merupakan sebuah gangguan yang terjadi pada orang-orang pasca bencana. PTSD dapat terjadi baik pada kalangan orang tua, dewasa, remaja, maupun anak-anak. anak-anak menjadi salah satu bagian rentan terkena trauma.

Khususnya pada anak yang berusia 2-5 tahun yang belum mengerti, belum memahami kata-kata secara krusial, belum dapat mengutarakan emosi yang dirasakan sehingga perlu penanganan khusus bagi anak-anak usia dini ini. Salah satu metode yang paling tepat digunakan untuk anak-anak usia dini dalam menangani PTSD adalah dengan berupa  konseling play therapy(terapi bermain).

Terapi bermain juga dapat menghilangkan beberapa permasalahan seperti kecemasan, mengilangkan batasan, hambatan dalam diri, frustasi serta mempunyai masalah pada emosi yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku anak yang kurang sesuai menjadi tingkah laku yang sesuai dan diharapkan sehingga anak dapat bermain dan lebih kooperatif dan dapat mudah diajak untuk kerjasama ketika menjalani terapi.

Konseling traumatik adalah bantuan yang bersifat terapeutis yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli, dilaksanakan face to face antara konseli dan konselor, melalui teknik wawancara dengan konseli sehingga dapat terentaskan permasalahan yang dialaminya. Konseling traumatic  adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan member makna pada diri klien yang mengalami trauma dan member makna pula bagi konselor yang membantu mengtasi trauma kliennya.sebagaimana proses konseling pada umumnya, proses dalam strategi konseling traumatic juga dibagi atas tiga tahapan, yaitu tahap awal konseling, tahap pertengahan (tahap kerja), dan tahap akhir konseling.

  • 1.      Rekontruksi psikologis melalui  bantuan untuk mengatasi masa lalu.
  • 2.      Rekonstruksi social melalui hubungan .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x