Mohon tunggu...
Theresia Devi P
Theresia Devi P Mohon Tunggu... Everything

Living By His Grace

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

How to Saying Goodbye

26 Agustus 2013   09:57 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:48 146 1 1 Mohon Tunggu...

Gak tau kenapa hari ini, hari begitu panas dan menyengat. Padahal ini kan seharusnya jadi bulan yang dingin berangin. Sungguh diluar dugaan. AC dimobilku sampai harus bekerja keras demi mendinginkan aku dan teman-temanku yang sungguh cerewet dikursi belakang.

“Asliiii… Hari ini panas banget!!!” kata Mia yang duduk disamping Dini.

“AC gue dah full banget nih volumenya… Sabar dikit napa jeenk!! Tadi suruh duduk didepan nggak mau!??” aku pun tak tinggal diam melihat dia yang mengeluh soal mobilku yang tak kunjung mendinginkan badannya yang mungil.

“Gue kan paling anti duduk disamping supir… Apalagi kalo supirnya kayak elo, Ta!!”

“Whatever…..!!” selahku dengan enteng.

“Ta, nanti loe mampir ke rumahku dulu, apa langsung pulang?” akhirnya Dini ikut bersuara juga dalam perjalanan pulang siang ini.

“Kayaknya langsung pulang deh, Din.. Di rumah lagi nggak ada orang..”

“Kalo gitu aku Cuma ma Mia aja donk??”

“Kan gak apa, Din.. Mia juga pasti bisa kok bantuin Dini.” Bela Mia yang merasa dirinya dicuekin sama Dini.

“Ku juga tau kalo loe bisa… Tapi, banyakan ngomelnya kalo cuman ma kamu!!” sahut Dini.

“Well… Para dayang-dayangku, kalian sudah sampai di peristirahatan terakhir kalian. Selamat bersenang-senang….” Kataku pada mereka yang terus berdebat sampai di depan rumah Dini.

“Okee. Thanks ya, Ta!!” seru mereka sambil turun dari mobilku. Huuuhhh.. akhirnya gak ada lagi duo gaduh dalam mobilku yang imut ini. Kulihat jam tanganku sudah pukul 2 siang. Langsung saja kurebahkan tubuhku ke tempat tidur dan menunggu sampai wekerku yang manis membangunkanku nanti sore.

***

Malam menjelang, aku dan adikku menonton TV di ruang keluarga sambil menunggu seseorang yang sudah berjanji menemani kami. Akhirnya, perut kami mulai keroncongan, bel pintupun berdentang. Kinan segera saja mendahuluiku untuk membuka pintu.

“Duh.. Laper yaa??” suara Andre yang ramah selalu membuatku terpesona. Andre adalah anak laki-laki tunggal dari teman dekat kedua orang tuaku. Beberapa bulan lalu, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah barunya yang tak jauh dari rumahku. Sekarang ini kedua orang tuaku dan Andre sedang di luar kota. Jadi hanya tinggal kami berdua yang menjaga rumah bersama adikku, Kinan.

“You think??!!” sahutku seraya mengambil makanan di genggaman Andre.

“Sorry… Masak tu kan gak gampang n gak cepet, neng!” bela Andre.

Mungkin untuk ukuran cowok, Andre adalah cowok idaman semua cewek di seluruh dunia. Dia tampan, pintar, cool, lucu, dan jago basket. Tak bisa kupungkiri kalo akupun juga suka padanya. Tapi, sikap jeleknya yang selalu menganggapku sebagai anak kecil yang manja membuatku ilfeel setengah mati.

“Malam nie loe tidur sini aja yach?” aku memohon pada Andre.

“Bisa sich… tapi, besok pagi gue nebeng loe yak e skolahnya?”

“Cips deh…”

Setelah makan malam, Andre memutarkan sebuah film klasik berjudul Australia. Film itu sungguh membosankan. Saat film sudah berjalan setengahnya, Kinan meminta agar diantar ke kamar.

“Ndre, anterin Kinan ke kamar gih.” Seruku pada Andre.

“Sungguh baiiiikk..” pujiku padanya saat dia sudahkembali dan duduk disampingku lagi.

“Terima kasih, yang mulia yang cereweeett..” sahut Andre sambil mengerucutkan bibir.

“Ta, gue mau ngomong nih?”

“Ngomong aja.. Mang mau ngomongin apa sih?” jawabku,gak biasanya dia ragu buat ngomong sesuatu.

“Well, kita kan udah kelas 3, rencana loe nglanjutin kuliah dimana?”

“Kalo gue sih gak terlalu muluk-muluk, yang penting negeri trus gak jauh-jauh dari rumah. Hehe”

“Gak tertarik keluar negeri?”

“Of course, I do…. But, I just a girl and I still has a little sister that need a lot money too… So, I think that’s impossible for me… But not for you, I think.” Jawabku dengan kemampuan bahasa Inggrisku rata-rata.

“Anything is possible, right??!!”

“Yeah.. Maybe yes, maybe no?!!

Kenapa sih tanya gitu? Serius amat.

“Nothing… just want to know” jawab Andre dengan nada bingung. Dia seperti merahasiakan sesuatu yang aku tidak tau pasti apa itu.

***

Kriiing…..

“Hoaahh… Pagi-pagi sapa juga nih yang telpon! Kayak gak ada kerjaan aja!”

“Halo”

“Mama… ada apa? Aku dah bangun kok. Kemarin malam ditemenin ma Andre, Kinan gak apa-apa kok…” ku tutup telepon dari mama. Andre tidur di sofa, wajahnya sungguh lugu dan kalem.

“Pagii… kemarin kok gak bangunin aku sih, badanku kan pegel semua gara-gara tidur di karpet.”

“Salah sendiri tidur kayak kebo gitu…. Lagian ku juga ketiduran di sofa. Impas kan??”

“Ya. Maap.. Kan resiko tanggung penumpang. Udah ah… Gue pulang dulu, jangan lupa jemput gue?” Andre pun menyudahi perang fajar pagi ini dan melenggang pulang.

***

Sorenya orang tuaku dan Andre pulang dari luar kota. Sebenernya aku gak tau ada urusan apa di luar kota ini. Ketika kutanya, Andre pun juga mengaku tidak tahu. Mama pun hanya bilang kalo hanya membantu urusan keluarganya Andre. Well, itu bukan urusanku kan??!!

“Bi, mama sama papa kemana? Baru aja dating kok gak ada lagi?” tanyaku pada bibi yang jiga baru pulang dari kampong.

“Owh.. pada ke rumah depan. Kan disana lagi ada acara”

“Manga da acara apa Bi?”

“Lhoh… kata ibu tadi ada acara mas Andre. Non gak kesana?”

Acaranya Andre??? Kok Andre gak bilang-bilang?? Nie ada apa sih sebenernya?? Secepat kilat aku ganti baju tidurku dan berlari ke rumah Andre. Aku tahu mungkin sudah terlambat untuk tahu semuanya, but late is better than never.

Keterlaluan Andre!!! Acara apa ini sebenernya?? Terlalu cepat untuk merayakan ulang tahun Andre yang masih 5 bulan lagi. Aku terlalu pusing untuk berfikir. Ku beranikan diri untuk masuk kerumahnya.

“Hi… Andre mana?” tanyaku pada salah satu teman Andre yang ku kenal.

“Tuch di taman belakang lagi maen karambol ma anak-anak.” Katanya antusias.

“Thanks…”

Ternyata dia sedang ada di gazebo taman. Aku mengawasinya, tak tahu kenapa hatiku terasa sakit saat melihatnya. Ku putuskan untuk menunggu. Cukup lama. Sampai mataku harus terasa sangat berat dan perih, hingga dia menyadari kedatanganku.

Andre datang menghampiriku, saat aku sadar ternyata mataku bengkak karena menangis. Dia langsung merangkulku dan mengajakku ke kursi di taman belakang. Ketika duduk tangisku langsung pecah, Andre menarikku kepelukkannya.

“Loe kenapa Ta?”

“Nie semua ada pa? kenapa gak ada yang bilang ke gue? Gak ada yang ngajak gue? Apa gue gak ada hak untuk tau? Apa salah gue, Ndre??!!” tuntutku.

“Gue yang salah… Gue yang seharusnya bilang ke loe, tapi gue gak siap. Gue belum siap buat cerita semua ke loe, Ta. Maapin gue yaa?? I don’t know the way to say goodbye.”

“Ceritain masalahnya dulu ke gue… Kalo gini gue jadi tambah bingung, Ndre.”

“Gue mau pergi ke Ausie, gue bakalan kuliah disana… Lusa gue berangkat.”

Tangisku pecah… Hanya aku yang belum tau. Aku meledak dalam pelukan Andre, dia memeluk lebih erat sampai aku susah bernafas. Hatiku sudah kalut membayangkan Andre akan pergi.

“Gue gak pernah maafin loe!!” ancamku pada Andre. Hanya itu kata yang keluar dari mulutku, Andre hanya membelai rambutku sambil mengucapkan kata maaf yang hanya membuat sedu sedanku makin keras.

“Ta, maapin gue… Please??? I can’t go anywhere if you don’t forgive me.” Mohon Andre, sambil melepas pelukannya. Dia menghapus air mataku dengan tangannya yang hangat.

“Kalo gitu, gue gak akan maapin loe.. Biar loe gak bisa pergi kemana-mana.” Ucapku puas dengan senggukanku yang belum mereda.

“Andre… Teman-teman kamu mau pamit nie?” suara tante Iska.

“Ya mah… Bentar…” sahut Andre seraya berdiri dan menggenggam tanganku.

“Tunggu aku yahh..” pintanya sambil mengecup keningku.

Aku pun berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mukaku. Lalu, aku menyusul orang tuaku ke ruang tengah. Aku tersenyum saat mereka melihatku dan duduk disebelah Kinan.

“Kamu gak apa nak?” Tanya om Anjar ramah.

“Gak apa kok om. Cuma sedikit shock aja.” Kataku sambil tersenyum kecut.

“Gimana? Temenmu dah pulang semua?” Tanya mamaku pada Andre.

“Sudah, tante…”

“Maah… Kita pulang yukk. Ngantuk nie.” Ajak Kinan.

“ Ehm… Om, tante, kalo boleh saya mau ajak Shita keluar sebentar sekarang??” Tanya Andre yang membuat kaget semua orang.

“Haah… Gimana, maah?” Tanya papa pada mama.

“Boleh-boleh aja kalo bawa mobil.. tapi, jangan malam-malam ya, Ndre? Itung-itung buat perpisahan kalian.” Ucap mamaku santai seraya mengedipkan mata pada tante Iska.

“Makasih tante, om…” Ucap Andre girang.

***

Malam itu, Andre mengajakku ke suatu tempat yang indah dan romantis.

“Ta, suka gak tempatnya?” tanyanya sambil mengajakku duduk disampingnya.

“Suka, tapi dingin banget disini.” Ucapku menggigil. Ditengah hamparan rumput seperti ini, malam hari pula, siapa yang tidak menggigil, ujarku dalam hati.

“Ta, aku sayang kamu.” Cerocos Andre begitu saja, tanpa ada nada romantis sedikitpun.

“Ya udah, aku juga sayang kamu.” Jawabku tak kalah juteknya dengannya.

“Kok gitu sihh..”

“Mang loe mintanya gimana??”

“Yaa.. yang romantis dikit aja.. Kalo gitukan kesannya terpaksa.”

“Habis loe bilangnya juga hambar gitu aja..”

Kami berdua diam sesaat.

“Kita lucu yach??” Ujarku sambil tertawa dan tiba-tiba tangan Andre sudah mendekap wajahku. Langsung saja aku salah tingkah dibuatnya, kami berdua saling menatap.

“Ta… Aku sayang kamu.. kamu mau nggak jadi pacarku?” ujarnya sambil menatapku lekat-lekat.

Aku mengangguk dengan cepat dan tanpa kusadari sebuah tangan menyentuh daguku dan sebuah bibir hangat menekan bibirku. Tanganku menggenggam sebuah tangan yang hangat dan lembut. Seolah waktuku dengan Andre berlalu tanpa terasa. Malam itu sungguh indah, terasa bagai mimpi bagiku.

***

Paginya, aku dan Andre pergi menghabiskan waktu berdua untuk pergi jalan-jalan. Aku tau seharusnya aku merasa sedih. Tapi, apa gunanya bersedih sekarang. Andre tahu bagaimana menyiapkan perpisahan untukku. Aku terlalu takut untuk mengakui dia akan pergi dalam waktu yang sangat lama dan aku tak bisa lagi bersamanya.

Malam itu hujan gerimis saat aku menemaninya mempersiapkan barang-barang bawaannya. Langsung saja kuabadikan moment itu.

“Udahlah, Ta… Toh, suatu hari nanti ku juga pulang.” Pintanya saat aku memotretnya.

“Gue tau loe bakalan pulang… Tapi, siapa tahu beberapa tahun lagi loe tambah jelek.”

“Sini… Giliran loe yang gue foto.” Andre merebut kamera dari tanganku.

Aku pun segera berpose aneh-aneh. Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku sangat senang jika merasa bersamanya.

“Waktunya pulang tuan putri…” ajaknya saat jam sudah menunjukkan jam 10 malam. Andre mengantarku sampai di teras depan rumahku, dia mengecup keningku dan aku pun langsung memeluknya. Sangat lama mungkin.

“Besok sebelum aku berangkat… Aku harap kamu sudah mau memaafkan aku..” Ujarnya singkat sambil melepaskan pelukanku dan berbalik pulang.

***

Pagi-pagi buta, aku sudah bangun dan bersiap untuk pergi mengantar Andre. Setelah sarapan, aku langsung ke rumah Andre sambil membawa mobil mungilku.

Andre berangkat ke bandara bersamaku. Perjalanan yang panjang itu, hanya kuhabiskan untuk berdiam diri.

“Ndre, aku maapin kamu…” Kataku singkat. Andre langsung menghentikan mobilnya dan melihatku tak percaya.

“Beneran, Ta?”

“Yup… Tapi, loe harus janji bakalan secepatnya pulang dan selalu ngasih gue kabar.”

“Makasih yaaa..” dia begitu gembira dan mengecup keningku lama.

Di bandara….

Aku hanya perhatikan wajahnya akan pergi jauh meninggalkanku disini… air mataku pun akhirnya jatuh juga saat sebuah suara mengatakan bahwa pesawat akan segera menjemput pangeranku.

Andre menghampiriku dan memelikku. Tak peduli, berapa pasang mata yang melihat kami saat ini, aku hanya ingin bersamanya.

“I love you, sweetheart……” kata Andre merdu.

“Love you too, Prince……”

“Bye……” serunya dan menghilang di lorong pesawat. Kapan aku bisa melihatnya lagi?? Waktu yang lama mungkin. Tapi, aku tahu… Ini adalah ucapan perpisahan yang manis.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x