Mohon tunggu...
Devani SalsaMaharani
Devani SalsaMaharani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Pembangunan Veteran Yogyakarta

Saya merupakan mahasiswa UPN Yogyakarta Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Buntut dari Invasi Rusia terhadap Ukraina dalam Perdagangan di Kawasan Timur Tengah

3 Oktober 2022   22:45 Diperbarui: 3 Oktober 2022   22:50 121 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perang antara Rusia dengan Ukraina yang belakangan ini terjadi tentu sangat berpengaruh terhadap perdagangan internasional khususnya terhadap negara-negara di Timur Tengah. Negara Rusia merupakan negara pengekspor gandum terbesar kelima di dunia, pengekspor minyak terbesar ketiga di dunia, dan pengekspor batu bara terbesar ketiga di dunia. Dalam mengantisipasi konflik, Rusia dan Ukraina mempunyai peranan yang sangat penting dalam pasar energy, makanan, maupun pupuk global. Dalam hal pemasokan bahan-bahan pangan dan migas, negara Rusia dan Ukraina mempunyai peranan yang penting dalam hal tersebut sehingga hal tersebut sangat penting bagi negara-negara yang mengalami defisit pangan seperti Timur Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia dan Ukraina telah mengekspor 34% gandum yang diperdagangkan di dunia, 17% jagung, dan 73% minyak bunga matahari. Mereka masing-masing menyumbang sekitar 27% dan 17% dari perdagangan jelai dan jagung global. Ekspor ini mewakili porsi yang signifikan dari konsumsi global, terhitung sekitar 12% dari total kalori yang diperdagangkan secara internasional. Rusia juga merupakan pengekspor utama pupuk nitrogen dan kalium, menyumbang sekitar 15% dari perdagangan  pupuk nitrogen dunia, sementara Rusia dan Belarusia menyumbang 33% dari ekspor pupuk kalium dunia. Rusia juga merupakan produsen dan pengekspor utama minyak dan gas, bahan baku utama untuk transportasi, produksi dan pengolahan makanan dan pupuk. Dampak perang Rusia-Ukraina di pasar pangan global,  secara langsung dan tidak langsung melalui pupuk dan energi, tidak ada bandingannya selama setengah abad terakhir.

Negara-negara seperti Mesir, Sudan, Yudan dan beberapa negara termiskin dikawasan tersebut sangat bergantung pada impor gandum dari sereal karena gandum merupakan makanan utama dan sumber kalori dinegara-negara tersebut. Impor gandum pada negara-negara tersebut mencapai 60% dari total pasokan gandum di Mesir, dan merupakan importir gandum terbesar di dunia. Sekitar 85 persen impor gandum Mesir berasal dari Rusia dan Ukraina.akibat dari konflik Rusia dengan Ukraina ini menjadikan negara-negara di Timur Tengah mengalami kenaikan harga pangan yang tinggi.

Di wilayah Suriah dan Irak yang merupakan negara mengimpor pasokan gandum dan makanan pokok dari Ukraina dan Rusia menjadi terganggu setelah adanya invasi Rusia terhadap Ukraina ini sehingga menjadi krisis pangan dan kemanusiaan. Suriah mengimpor dua pertiga dari pasokan makanan dan minyaknya, sebagian besar gandumnya berasal dari Rusia. Karena adanya gangguan pasokan ini menjadikan kenaikan harga pangan dan biaya yang lebih tinggi untuk organisasi kemanusiaan di Suriah. Pada awal 2022, krisis pangan di kawasan Suriah meningkat hampir 60% tentu saja peningkatan krisis pangan ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah.

Negara-negara di Timur Tengah rentan terhadap krisis pangan karena negara-negara dikawasan sangat bergantung pada impor dari Rusia dan Ukraina sehingga negara-negara di Timur Tengah sangat terdampak terhadap invasi Rusia terhadap Ukraina tersebut, terlebih adanya akibat dari COVID-19 yang menyebabkan inflasi dan terganggunya rantai pemasokan terbesar. Sementara beberapa negara seperti negara-negara Teluk Arab memiliki cadangan yang cukup, yang lain seperti Lebanon tidak, membuat prospek kekurangan menjadi sangat nyata. Meskipun tidak ada sanksi yang dikenakan pada impor biji-bijian Rusia, para importir merasa semakin sulit untuk membeli biji-bijian dari Rusia karena kesulitan dalam mentransfer dana ke perusahaan Rusia. Ketergantungan pada minyak dan gas impor juga menjadi masalah. Negara-negara yang swasembada bahkan mengekspor hidrokarbon, seperti Israel, Mesir, Iran, Irak, Libya, dan beberapa negara Teluk Arab, mungkin masih belum jatuh ke dalam resesi, sementara yang lain seperti Lebanon, Palestina, Yordania, Yaman, dan Tunisia akan menghadapi kesulitan ekonomi.

Dalam konflik ini banyak negara yang menghindar dari keselarasan terbuka dengan pihak Rusia maupun Ukraina, namun pemerintahan Iran dan Suriah, serta Hizbullah di Lebanon dan Huthi di Yaman, yang telah menyatakan solidaritas dengan Rusia. Musuh mereka telah bertindak sebagai tindakan penyeimbang yang mengurangi eskalasi dalam hubungan dengan Rusia dan Barat, bahkan mencoba memainkan peran mediasi, seperti yang telah dilakukan Israel. Oleh karena krisis tersebut menjadi mengurangi perhatian terhadap negara konflik dikawasan Timur Tengah seperti konflik antara Israel dengan Palestina, Pertumbuhan ekonomi Lebanon, dan juga meningkatnya kelaparan di Suriah.

Timur Tengah dan Afrika Utara adalah produsen utama pupuk, tetapi hal ini tidak mencegah kenaikan biaya yang mempengaruhi harga pangan. Inflasi di wilayah tersebut telah meningkat, melampaui inflasi rata-rata dalam dekade sebelum pandemi di sebagian besar ekonomi, karena perang di Ukraina telah semakin meningkatkan harga pangan dan energi. Di importir minyak, inflasi harga konsumen rata-rata 7,7 persen pada April 2022, tetapi dengan variasi yang luas. Di Mesir, depresiasi pound (18 persen antara Maret dan April 2022) dan ketergantungan yang besar pada impor makanan telah mendorong inflasi ke tingkat tahunan dua digit. Di Lebanon, harga konsumen baru-baru ini meningkat lebih dari 200 persen dari tahun sebelumnya, sebagian karena runtuhnya nilai tukar dan salah urus ekonomi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan