Hijau

Mendulang Emas dari "E-Waste" dengan Menggunakan Teknik Elektroplating

6 Desember 2017   13:13 Diperbarui: 6 Desember 2017   13:18 595 0 1
Mendulang Emas dari "E-Waste" dengan Menggunakan Teknik Elektroplating
Dok.pribadi

Sampah elektronik (e-waste) merupakan salah satu masalah krusial bagi seluruh dunia, termasuk kawasan Asia. Bagimana tidak, pesatnya kemajuan zaman beriringan dengan penemuan teknologi yang tak terkendali, namun penemuan ini tidak diimbangi dengan inovasi daur ulang yang sepadan, bahkan teknologi daur ulang yang ada terkadang tidak bertahan lama. Hal ini disebabkan lemahnya infrastruktur yang aman dan bersih, hasilnya sampah elektronik di negara Asia Tenggara menggunung, seperti yang dilansir oleh salah satu media berita bahwa 12 negara di Asia Tenggara dan Asia Timur, termasuk Cina memiliki volume sampah yang meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir.

Pembengkakan e-waste dapat menyebabkan masalah serius bagi lingkungan. Di Indonesia, e-waste dibiarkan terbengkalai menumpuk di TPA, padahal beberapa komponen e-waste mengandung ribuan material berbahaya seperti merkuri, kadmium, berilium, timbal, kromium dan lain sebagainya. Senyawa-senyawa ini dapat terakumulasi di lingkungan dan menyebabkan berbagai efek racun, alergi, kanker, kerusakan ginjal dan lain-lain. Untuk menghentikan kengerian ini dibutuhkan suatu penanganan yang tepat dalam mengelola sampah elektronik.

E-waste atau sampah elektronik bukan hanya sekedar sampah, dalam setiap komponen sampah elektronik mengandung emas yang dapat didulang seperti pada motherboard, processor, hard disk, VGA, soundcard, dll. Aksi daur ulang sampah elektronik yang masih terdengar awam di negara kita ternyata telah lama diterapkan oleh Jepang dan Singapore.

Salah satu perusahaan pemulungan di Jepang yakni Yokohama Metal. co. ltd menemukan fakta bahwa sampah elektronik merupakan salah satu ladang emas yang hebat, hal inilah yang membuat proses daur ulang e-wastemenjadi sangat menarik sebab harga emas semakin naik disetiap waktunya, sehingga tidak mengherankan jika emas menjadi suatu lumbung kekayaan ditengah krisis dunia (jurnal Aditiya Indra Gunawan dan Ni Gusti Putu Wiranti. 2013:409). Sehingga dari pengelolaan sampah elektronik ini kita mendapatkan dua solusi, yakni masalah lingkungan dan ekonomi.

Banyak cara untuk merecoverye-waste, salah satunya adalah dengan menggunakan proses elektrokimia, yakni pemurnian dan pengendapan dengan menggunakan larutan elektrolit dan arus listrik melalui proses elektroplating. Elektroplating sendiri merupakan suatu proses pemindahan ion logam dengan bantuan arus listrik melalui elektrolit (Purwanto & Huda, 2005 dalam makalah PPM R. Yosi Aprian Sari) . Selain dapat mengendapkan logam, proses elektroplating ini juga dapat menghasilkan produk limbah lain yang dapat didaur ulang seperti limbah padat, emisi gas, dan cair.

Dalam recoverye-waste, limbah yang dihasilkan adalah limbah cair, karena sebelum mencapai tahap elektroplating, emas pada sampah elektronik harus dipisahkan terlebih dahulu menggunakan asam nitrat (HNO3) dan asam klorida (HCl), campuran seyawa ini dapat memisahkan emas dengan logam lainnya (Sadatjoo dkk, 2013 dalam jurnal Esti Rahmat Tini dkk, 2016:1).

Emas yang telah terpisah dimurnikan kembali melalui proses elektroplating tepatnya dengan menggunakan teknik pakai ulang atau reuse (makalah PPM R. Yosi Aprian Sari, hlm 7 ). Dalam teknik reuse larutan elektrolit yang digunakan berupa limbah cair yang berasal dari pencucian, pembersihan dan pembilasan pada proses elektroplating, sehingga teknik ini sangat efektif dalam meredam pencemaran, sebab limbah dari olahan logam tidak lagi langsung terdistribusi ke lingkungan, melainkan didaur ulang kembali sebagai bahan reuse.

Sehingga dengan teknik ini kita mendapatkan tiga solusi hebat sekaligus, ramah lingkungan, ekonomis dan memperbaiki masalah ekonomi, oleh karena itu marilah berinovasi, cintai bumi, dan kreasikan diri.