Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Wa/sms 0856 1273 502

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 178-180

13 Juni 2018   06:55 Diperbarui: 13 Juni 2018   08:30 734 0 0
Namaku Awai 178-180
dokpri

Awai mengangguk. Ia keluar dari tong. Dikembalikan ember ke kedai kopi, lalu pamit pada Hsu Natan. Hsu Natan memberinya 3 biji bakpao dan 3 kali batuk palsu, membuat Awai segera berlari ke samping kedai dan Tiong It telah siap dengan sepeda di tangan.

" Kita akan lewat gang kecil agar tak berpapasan dengan So Ting Ling." Kata Tiong It.

" Aku ikut kemana kamu memboncengku," Tanpa malu Awai melingkarkan tangan ke perut Tiong It. Sepeda mulai berjalan.

Jalanan Bengkalis dipenuhi ruko. Di tahun 1970-an ruko terbuat papan dan kayu, hanya lantainya yang dicor semen. Di belakang ruko selalu ada gang kecil, terkadang berujung di rumah orang, terkadang berujung di tanah kosong yang belum dibangun, ada yang berakhir di kandang ternak. Jangan tanya apa ternaknya, di kota tak ada rumput, jadi yang diternak selalu ayam, itik, dan babi. Tahun 1970-an belum ada larangan beternak babi. Soalnya yang tinggal di kota 98 persen beragama Konghucu.

Awai melihat banyak sekali kandang babi, berderet-deret. Terkadang Tiong It berhenti mengayuh karena ada anak babi yang lepas dan berusaha mengejar sepeda Tiong It untuk menjilat jemari kaki Awai akibat jam 3 sore babi itu belum diberi makanan.

" Kenapa hanya jari kakimu yang dijilat ? Kenapa aku tidak ?" tanya Tiong It heran.

" Kakiku sering terkena kuah makanan, berbau enak, itu sebabnya anak babi suka menjilatnya. Sedangkan kakimu dingin, sering terkena es batu, hambar kayak es batu." Awai turun dari sepeda, ingin mengelus anak babi itu. Anak babi itu berlari menghindari tangannya.

" Besok bawa sisa makanan untuknya, pasti dia mau didekati." Kata Tiong It.

Awai kembali naik ke boncengan. Akhirnya mereka tiba di belakang rumah Awai tanpa gangguan. Awai tak berani mengajak Tiong It singgah, Tiong It takut bertemu Huina. Kedua berpisah sambil melambaikan tangan. Tiong It kembali ke jalan, mencegat becak dan pulang.

Awai membawa bakpao ke kamar untuk ayahnya. Lagi-lagi ibunya tak berada di rumah. Kemana ibunya menghilang setiap sore ? Tan Suki melihat wajah Awai yang berbinar. Ia mengambil tangan Awai, menulis.

Wajahmu bersinar bak rembulan, ketemu siapa hari ini ?

Wajah Awai merah dadu. Ia berbisik. " Dia ke kedai kopi mencariku " Awai sengaja berbisik, takut kedengaran ibunya. Siapa tahu tiba-tiba ibunya pulang.

Suki menulis : Tiong It ?

Awai mengangguk.

Suki menulis : Bagus. Papa suka padanya.

Awai tersenyum semakin lebar.

Suki menulis : Belikan papa sebatang pena, satu buku tulis. Uangnya, sebentar...

Tangan Suki yang normal diselipkan ke dalam bantal. Saat ditarik, tangannya memegang selembar 5000.

" Papa dapat dari mana uang ini ? " tanya Awai. Setahunya, semua uang dipegang ibunya. Semua sudah ludes untuk membayar utang, biaya rumah sakit, dan untuk membeli makanan. Ibunya sering mengeluh masih punya banyak utang.

Suki menulis : Tadi pagi papa duduk di depan rumah. Ada teman papa yang berkunjung, membayar sedikit utangnya. Ibumu pelit. Kuminta kertas dan pensil, ibumu tak mau membelikan. Papa diminta kalau tak bisa mencari duit jangan menghamburkan duitnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2